Penulis, Pejuang, Dan Teman Dalam Chicago Typewriter [kdrama-review]

DA2v4gDVYAAYnaN

Awalnya mau drop drama ini, tapi ternyata nggak bisa dan diikutin sampai habis Sabtu (June 3rd 2017) kemarin. Kayak biasanya, mari bahas sedikit yang sekiranya bikin aku terusik pengin nulis.

DBfVecVUQAEN4x5

Chicago Typewriter bercerita tentang Han Se-Ju (Yoo Ah-In), penulis best seller yang tiba-tiba kehilangan kemampuan menulisnya setelah ketemu mesin ketik antik di kota Chicago, Amerika Serikat, saat fan meeting. Selain itu, dia juga mulai dihantui bayangan-bayangan masa lalu yang nggak tahu apa dan gimana bisa muncul di mimpi-mimpinya.

Sementara itu, mesin ketik yang berada di Chicago bergerak sendiri di tengah malam, ngetik minta dikirim ke Han Se-Ju di Korea. Alhasil pemiliknya yang ketakutan langsung ngirim hari itu juga. Yaa gimana,  daripada dihantui tiap malam kan?

Jeon Seol (Im Soo-Jung) mantan atlet  tembak nasional  yang kini punya banyak side job dan juga die hard fans-nya Han Se-Ju, kayak sudah ditakdirkan *ceileh* ketemu sama idolanya, jadi kurir yang ngirim tuh mesin ketik dari bandara ke rumah Se-Ju. Ketiban durian runtuh, awalnya, sampai Han Se-Ju ngira Jeon Seol adalah stalker dan fans fanatik  yang bisa ngelakuin apa aja termasuk masuk rumah idolanya tanpa permisi. Padahal, sebenarnya, spirit di dalam mesin ketik itu lah yang bantu Jeon Seol buka pintu.

Spirit yang dimaksud adalah, hantu/arwah  yang ada di dalam mesin ketik. Hah? Nah, di tengah stresnya Se-Ju dengan deadline dan mentoknya tulisan yang ditulis, kejadian aneh lain muncul. Yaitu naskah yang dikirim ke penerbit Se-Ju via fax, yang mana nggak pernah ditulis oleh Se-Ju. Tapi nomor fax-nya nomor Se-Ju dan isi naskahnya sama persis kayak yang ada di pikiran Se-Ju, ini makin bikin stres karena dia nggak pernah ngerasa nulis apalagi naskahnya bukan diketik di halaman word melainkan di mesin ketik. Jeng jeeeng! Hingga di satu malam, Se-Ju mergokin Yoo Jin-Oh (Go Kyung-Pyo) lagi ngetik di meja kerjanya.

Oke, cukup. Mari tarik ke depan di mana mereka bertiga sebenarnya 3 sekawan, dulunya. Dulunya yang dimaksud adalah 80 tahun yang lalu di tahun 1930-an, di mana Korea masih dijajah Jepang, jadi bisa dibilang mereka bereinkarnasi. Han Se-Ju yang dulunya ketua dari Joseon’s Youth Alliance (semacam kelompok pemuda yang merjuangin kemerdekaan), belum sadar kalau bayangan-bayangan di mimpinya itu adalah  past life-nya dia. Sedang Jeon Seol pun dulunya sniper di perkumpulan itu, dan itu jadi alasan kenapa dia nggak lagi jadi atlet tembak karena tiap dia pegang pistol, ada bayangan dia nembak orang yang seharusnya nggak ditembak. Hmm, siapakah yang Jeon Seol tembak dulu? Tangannya gemetar, terus rasanya kayak sedih banget tapi nggak tahu alasannya. Sedang Yoo Jin-Oh itu dulu wakilnya Se-Ju, temen, saodara, orang kepercayaan yang juga nyediain markas buat perkumpulan mereka. Yoo Jin-Oh ini satu-satunya yang inget dan tahu  past life mereka—meski nggak semua—karena sejak masa itu sampai sekarang dia nggak reinkarnasi, tapi kekunci di mesin ketik.

DBfVe1nUQAADO8a

Kedengerannya berat? Nggak juga sih. Awalnya bertahan nonton karena bahas dunia penulis, gimana penulis ngadepin writer’s block, ngadepin deadline sama editor,  banyak banget buku-buku dan rak-rak buku yang penuh juga, jadi seneng lihatnya. Per bagian naskah yang ditulis Se-Ju nyeritain gimana keadaan mereka dulu dibantu Yoo Jin-Oh yang bisa bawa mereka ke masa lalu. Lama-lama menarik, misteri siapa dan gimana yang dibuka satu per satu di tiap bab naskahnya, bromance Se-Ju-Jeon Seol (dulu dia nyamar jadi cowok)-Jin-Oh, juga perjuangan mereka melawan Jepang.

DA3_7WyVYAAwxnl

Kalau ada yang follow twitter-ku pasti tahu aku sering cerewet bahas variety show 2 Days 1 Night (tonton di sini). Nah, di episode Harbin Special mereka bahas Ahn Jung Geun yang juga merjuangin kemerdekaan Korea dan nembak petinggi Jepang  (Ito Hirobumi) di stasiun Harbin. Kelompok Joseon’s Youth Alliance ini sekilas ngingetin aku sama episode Harbin Special ini. Apalagi pas mereka nyebut-nyebut Manchuria, langsung inget. Secara nggak sengaja tahu sejarah Korea dan ketika ketemu Chicago Typewriter, jadi ngerti betapa mahalnya sebuah kemerdekaan. Cara pengemasan sejarah Korea dalam bentuk Variety Show dan diselipin di drama bikin gampang ngerti, jadi bukan cuma hafalan yang dua hari kemudian udah lupa. Ini perlu diapresiasi, karena nggak semua negara bisa.

Saat Ahn Jung-Geun mengemban misi ke Harbin (dengan beberapa orang lainnya), bukan hanya diambil dari sisi berapi-apinya memperjuangkan kemerdekaan, tapi juga dikasih lihat dari sisi manusianya bahwa dia harus pergi demi negara dan demi keluarganya. Apa saja dilakukan meski nyawa taruhannya, banyak taruhannya, tapi beliau ngerti—kayak surat Se-Ju di masa lalu saat dia niat pergi ke Stasiun Kyungsang—kalau jalan yang diambil itu adalah jalan menuju kematian. Bahkan sampai hari ini makam Ahn Jung-Geun masih ada di Cina. Makamnya pun nggak pasti di mana, tapi di satu area itu dipastikan ada.

DBUXCC_U0AImAq8

Ketika salah satu member 2 Days 1 Night nanya “Kira-kira makamnya bisa dipindah ke Korea?”, dijawab sama pemandunya “Bisa, tapi mungkin harus ngomong dulu ke Korea Utara buat bareng-bareng mindahin”. Gitu kira-kira kurang lebihnya. Ke sana buat merjuangin Korea, begitu Korea udah bebas beliau malah nggak bisa pulang. *sobbing*

DA4K6Q1VoAAe6nL

Balik ke Chicago Typrwriter. Sebagai pejuang, mereka  juga nggak boleh jatuh cinta atau terpengaruh perasaan pribadi. Jadi tiap langkah yang diambil cuma ditujukan buat kemerdekaan negara, meski mereka tahu perasaan nggak bisa ditutupi atau dibohongi.  Se-Ju. Jeon Seol, dam Yoo Jin-Oh di masa kini gali lagi semua yang terjadi di masa lalu buat ditulis ulang. Di masa lalu Se-Ju juga nulis, tapi nggak kelar karena dia keburu meninggal. Dioper ke Yoo Jin-Oh juga nggak kelar karena dia pun keburu meninggal, jadi mau diterusin di masa kini. Sedih banget ketika cerita keseluruhan ketahuan. Dari mereka baru ketemu, bareng-bareng kayak kakak-adek/temen/kolega/guru, sampai lihat mereka meninggal di depan mata. Berkorban nyawa (dan perasaan) buat kemerdekaan negara mereka.

Chicago Typewriter bukan drama yang wah banget sebenernya, tapi begitu kelar berasa ngerti pahlawan kita dulu gimana. Duh, patah hati lihatnya. Jadi makin ngerasa kalau kebebasan yang kita nikmati sekarang bukan hal yang mudah didapat  dan ditebus dengan banyak nyawa keluarga atau teman. Chicago Typewriter nggak hanya ngomongin soal penulis, tapi juga soal persahabatan dan patriotisme. (4/5 stars!)

DBZuxvFU0AEoBgD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s