Mudik 2016: Terjebak di ‘Brexit’

Ini bisa dibilang mudik yang memakan waktu paling lama seumur-umur aku kerja di Jakarta. Mari bagi menjadi dua bagian, agar kita bisa lihat dua point of view.

Dimulai dari perjalananku—kami sebagai masyarakat yang sama-sama melewati satu jalur yang akhirnya menahan kepulangan ke kampung masing-masing.

Aku mudik H-3, pas memang di hari Minggu. Terminal keberangkatan ada di daerah Tangerang Selatan, berangkat pukul 12.00 WIB teng! Jalanan juga udah lumayan lengang di depan kampus UIN yang biasanya jadi biang kerok kemacetan, karena 1). Depan kampus yang depannya ada rumah sakit, 2). Ada putarbalikan, 3). Beberapa meter ke depan ada belokan ramai ke arah Kampung Utan atau Bintaro.

Pasar Jumat, lancar. Masuk tol, lancar. Bahkan sampai gerbang tol Cikopo, nggak ada gangguan berarti. Jalanan masih lancar juga sampai gerbang tol Palimanan, dalam hati udah bersorak deh pokoknya. Rasa khawatir mulai berkurang, sejak berangkat pukul 12.00, sampai Palimanan menuju sore. Aku masih inget, buka puasa masih jauh dari exit Brebes-Pejagan. Sampai di sana udah mulai gelap. Di sini masih mikir positif, karena di depan bayar tol buat keluar Brebes, pasti lah ngantre, meski kanan-kiri, depan-belakang udah penuh kendaraan yang bisa dibilang berebut mau keluar.

Keluar gerbang tol, bus langsung berhenti total. Tadi aku bilang mau keluar tol mulai gelap, aku nggak ngitung berapa lama karena setelah bus berhenti aku ketiduran-bangun-ketiduran lagi, tahu-tahu sudah pukul 03.00 WIB. Dari aku buka puasa sampai sahur, bus itu masih diem di tempat. Mejik!

Jpeg
exit Brebes-Pejagan

Lajur kanan itu antrean menuju Brebes, keluar dari tol Cipali (kelihatan macetnya belum?). Busku ada di dalam antrean itu juga, dan kenapa fotonya diambil dari lajur kiri, nanti dijelasin di post selanjutnya.

Jpeg
Ini lah lajur kanan yang ada di foto sebelumnya (antrean keluar tol menuju Brebes)

Bus (semua kendaraan sih, kecuali motor yang bisa nyelip-nyelip) kami jalan dengan kecepatan 0 km/jam. Oke, jalan 2 meter, terus berhenti 30 menit. Jalan 5 meter, berhenti 40 menit, on repeat sampai waktunya berbuka puasa aja masih di sana. Kurang keren apa lagi, sahur-buka puasa di Brebes. Skenario terburuk dari macet adalah kehabisan bahan bakar, dan bener aja solar habis. Dari 2 pom bensin kosong semua. Bus kami akhirnya memutuskan untuk parkir di rumah makan, sementara kondektur nyari solar. Di rumah makan itu dari menjelang isya, harapan satu-satunya cuma kondektur yang lagi nyari solar itu.

Sampai pukul 22.00 WIB, kondektur masih belum nemu juga solarnya. akhirnya dia ikut bus lain yang, nebeng sekalian bus itu jalan sambil nyari pom bensin. Skenario terburuk kedua adalah, kondektur nggak nemu solar. Bahkan sampai pukul 02.00 WIB (Selasa dini hari), kondektur nggak ada kabar apa-apa. Penumpang inisiatif kasih saran untuk tetap lanjutin perjalanan dengan solar seadanya, urusan habis bahan bakar nanti dipikirin sambil jalan. Sopir menyanggupi tapi dengan syarat AC dimatiin demi menghemat solar, kami setuju. Bus pun berangkat 30 menit kemudian.

Lepas dari jalur Brebes, agak lancar jalannya sampai aku ketiduran. Antara jalan lancar atau capek aja, sih hahahaha! Kebangun di tengah-tengah sawah, di jalur Tegal. Macet, lagi.

Blog3[1]
ini lokasinya (bisa dilihat jam di kanan atas)
06.33 WIB, Selasa pagi masih di Tegal. Ritme-nya 11-12 juga sama di Brebes; jalan 5 meter, berhenti 30 menit. Tapi kekhawatiran lebih ke solar bisa bawa kami sampai mana, takut pas habis pas belum nemu pom bensin. Update: kondektur yang nyari solar dari kemarin malam, belum juga nemu. Allahuakbar!

Di Tegal, kami bertahan dengan pertolongan solar milik warga lokal yang akhirnya dibeli. Sampai Prupuk, kami ketemu kondektur di pom bensin, saudara-saudara! Udah dzuhur kemungkinan di sana, syukurnya lalu lintas ramai lancar jadi dengan penambahan solar dari kondektur, kami bisa bernapas dengan tenang.

Sampai Bumiayu Maghrib, yang juga bertepatan dengan akhir bulan ramadan. Mimpi bisa sahur dan buka di rumah, kandas. Aku 3 kali buka puasa, 2 kali sahur di jalan, dan belum juga sampai rumah.

Setelah perjalanan panjang dari Tangerang selatan (Minggu, 12.00 WIB), sampai di rumah Selasa malam, pukul 22.00 WIB. Mudik tahun ini, pulang di malam takbiran.

Advertisements

One thought on “Mudik 2016: Terjebak di ‘Brexit’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s