(Buku) Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain

IMG-20160202-WA0010[1]

 

1. Berbicara Perempuan
Dari satu tema, akhirnya “Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain” jadi sebuah buku yang berisi 12 cerpen. Soal perempuan, mungkin banyak yang harus dibicarakan, ya? Dari penampilan sampai sifat yang biasanya digeneralisir. Tapi toh, banyak yang belum diketahui perihal isi kepala perempuan. Ada yang memang rumit, ada yang rumit banget. *lah*
Pas diajak buat bikin cerpen bertema perempuan, awalnya ragu, sih. Takut nggak bisa nulis yang diatur ini-itunya, dan setelah dikasih tema memang blank beberapa lama. Nggak tahu mau nulis apa, terlebih saat itu lagi di keadaan yang nggak bisa mikir. Untungnya mikir pakai otak, nggak pakai hati yang lagi hancur. *eaa*
Dari 12 penulis (Cappucinored, Danis Syamra, Harninda Syahfitri, Petronela Putri, Carolina Ratri, Irfan Harry, Mandewi, AA. Muizz, Putri Widi Saraswati, Uni Dzalika, Sulung Lahitani, dan aku sendiri), 12 tema akhirnya tersusun. Mengenai perempuan, mengenai masalah yang kerap dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Bercerita bagaimana mereka bertahan, bagaimana mereka menolong diri mereka sendiri. Nggak ada yang tahu batas kekuatan perempuan sampai di mana, bahkan perempuan terkuat pun, mungkin belum menampakan semua kekuatannya.

2. Mencari Maryam ke Rawamangun

IMG-20160124-WA0010

Setelah lama menunggu terbitnya “Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain”, akhirnya kami mendapat kesempatan membuat mini launching yang disepakati diadakan di Jung Coffee di daerah Rawamangun.
Awal dengar kata Rawamangun yang kepikiran cuma… jauh. Hahaha! Tangerang Selatan ke Rawamangun sudah kayak beda galaksi. Jakarta bagian Timur mungkin paling jarang dikunjungi, dan aku sama sekali buta jalan ke sana.
Plan A: naik APTB Ciputat – Kota, turun di halte TransJakarta di Dukuh Atas, lanjut Transjakarta jurusan Pulogadung.
Plan B: naik kereta dari stasiun Sudimara, transit di Tanah Abang dan Manggarai, terus naik ojek online.
Kelihatan lebih simple Plan A, tapi akhirnya pakai Plan B karena ada temen. Hahaha yeay! Nggak apa-apa nyasar, asal nggak sendiri.
First impression Jung Coffee ini dilihat dari depan kayak rumah, bukan macam coffee shop yang akhir-akhir ini muncul dengan tema-tema tertentu. Belakangan tahu kalau konsepnya memang begitu. Bahkan nasi goreng di sana dibuat dengan rasa yang rumahan.
“Biar pada kangen rumah,” kata owner-nya.
Menohok ya, Kak. Aku jadi pengin kabur dari kerjaan buat pulang kampung. *ditabok bos besar*

Rencana awal mau nyarap dulu, berhubung perut belum diisi sama sekali dan lihat menunya kok menarik juga murce alias murah. Realitanya, Cuma pesan lemon tea hangat. Itu pun udah dekat-dekat acara mulai. Ini lucu, soalnya aku bangun pagi buat bikin sarapan orang tapi akunya sendiri malah nggak makan. Dan beneran nggak sempat makan sampai pulang. Mungkin ini pertanda biar balik lagi ke sana.

3. Yang dibicarakan bersama Maryam

PSX_20160131_202433
Acara dimulai dari pembacaan penggalan cerita “Lelaki yang Kupeluk Punggungnya” milik Teh Windri Fitria (@cappucinored) oleh Edoy dari Malam Puisi Jakarta yang tanpa disangka, beliau sudah menyiapkan puisi balasan untuk cerpen tersebut. Aaakk keren!
Lalu ada presentasi dari TravelioId,

12647364_10205639433046969_8685036116213201379_n

dan SCOOP yang ikut mendukung acara mini launching hari itu, dengan banyak hadiah tentu.

12573119_10205639415766537_4635717443962185037_n
Lalu obrolan dimulai dari asal-muasal terciptanya “Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain”. Dari ide mentah sampai terbit di penerbit indie. Kok indie? Ada faktor kenapa #HilangnyaMaryam nggak terbit secara major, dikupas tuntas di sana. Apa perbedaan menerbitkan buku secara independent dan major pun dibahas, sampai menguliti para penulis mengenai ide cerita; hambatan dalam menulis; dan perintilan-perintilan lain.
Overall, acaranya seru banget. Diskusi buku dan dunia kepenulisan memang nggak ada habisnya. Di sana, kami bertukar pikiran dan pengalaman. Ada banyak penulis dan blogger yang hadir, dan ini sangat bikin tersanjung karena acara diadakan hari Minggu pagi. Di saat lebih enak bangun siang—apalagi hari itu turun hujan—para tamu malah menyempatkan ikut mencari #HilangnyaMaryam.
Kebetulan aku yang handle sebagian tamu, dan perjuangan mereka untuk sampai di mini launching “Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain” sungguh patut diapresiasi. Terima kasih, yang sudah hadir. :*

4. Maryam untuk Yayasan Kanker Anak
Pembicaraan awal tentang diciptakannya kumcer ini memang sudah diniatkan untuk donasi. Kami berangkat dari satu komunitas Bookaholicfund yang awalnya melakukan kegiatan lelang buku untuk amal. Setelah dipikir-pikir, kenapa nggak bikin buku? Toh, kami juga biasa menulis. Kami juga berkumpul karena hobi dan kecintaan yang sama pada buku dan kegiatan tulis-menulis.
Ketika kumcer #HilangnyaMaryam akhirnya terbit, kami masih dan tetap dengan niatan yang sama. Jadi, seluruh royalti penjualan akan didonasikan untuk yayasan kanker anak melalui Komunitas Taufan.
Pre-order gelombang pertama Alhamdulillah sukses. Dan sekarang sedang diadakan pre-order gelombang kedua yang akan berakhir tanggal 7 Februari. Untuk kamu yang tertarik ikut pre-order, bisa menghubungi Danis.
Atau mau pesan sendiri, boleh dong! Langsung ke Nulisbuku.com aja, ya!

IMG-20160124-WA0027

“Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain” menunggumu dengan kisah-kisah para perempuan yang siap dimengerti. Yuk, order! Dan sampai ketemu di launching berikutnya.

 

-R-

Advertisements

5 thoughts on “(Buku) Hilangnya Maryam dan Perkara-Perkara Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s