Monolog Monolog

Ada aroma kopi di setiap langkahnya siang ini. Entah kemarin, mungkin besok sudah berganti aroma teh melati dari lemari dapur di rumahnya.
“Dia di mana?”
“Di Taman Menteng, lagi ada acara.” Jawabnya sambil tersipu dan sedikit kikuk.
Pernah ada yang jauh-jauh datang menemui hanya untuk mengucapkan selamat pagi, tapi kemudian pergi tanpa tahu kapan kembali. Tak ada yang pasti dari segala sesuatu selain ketidakpastian itu sendiri, katanya. Kemudian aku hanya menunggunya, berharap ada burung hantu membawa selembar pesan di antara kukunya.
“Tulislah sesuatu di sana.”
Aku tersadar. Seolah semua ruhku ditarik kembali dari masa lalu ke kedai kopi yang penuh obrolan dan suara tawa. Ada sebuah buku di atas meja, lalu dia memberi sebuah pena. Aku mengernyitkan dahi. Saat itu, aku menulis ketika sedang patah hati. Ada luka di tiap hurufnya, ada kenangan yang sengaja ditata menjadi kalimat agar mudah diingat. Lalu apa yang harus kutulis untuknya?
Dia menggeleng. Pandangannya seolah ingin berbicara ‘kau penulis, bukan? Jadi tulislah sesuatu.’ Tapi, yang terdengar hanya kalimat “Apa saja…”
Aku bisa menuliskan apa saja di sana kalau aku ingin. Jejak-jejak masa lalu yang tak mungkin diurut kembali ke asalnya, rupa-rupa buku yang tak pernah habis diceritakannya, atau langit senja yang selalu membuatnya gembira. Tapi yang ada di hadapanku siang ini, bukan tentang kemarin, melainkan besok. Bukan tentang aku tapi mereka, bukan juga tentang rasa sakit yang tak kunjung sembuh.

“Kapan dia berulang tahun?” tanyaku mengalihkan topik sebentar sambil mengetuk-ketukan pena di atas meja kayu.

“Tanggal 27 dan 28.”

“Baiklah, jadi pacarmu ada dua?” tuduhku.

“Dia satu-satunya,” dia menjawab tegas, “Ada kesalahan tanggal di kartu identitasnya, jadi dia punya dua tanggal lahir.”

Lalu hal-hal lain yang tak kutanyakan mengalir begitu saja. Begitu mudahnya memancing seseorang berbicara. Orang asing menjadi teman untuk menumpahkan semua dan tak ada rasa canggung atau takut dihakimi, karena mereka biasanya mendengar apa yang dibicarakan dan bukan siapa yang berbicara. Aku sering mengalaminya, aku juga sering menjadi orang asing yang mendengarkan mereka.

Pernah ada masa saat dia selalu ada di sana, mendengarkan di ujung sambungan telepon. Tak ada waktu yang terlalu malam, tidak juga batasan jam dan hari. Tapi kemudian dunia seolah diputarbalikan. Kini, setiap malam hanya tentang aku dan kenangan.
“Susah,” aku mengeluh sambil terus mencoba tertawa. Ini lucu. Aku bahkan kehilangan kata-kata yang harusnya bisa ditulis kapan saja kalau dibutuhkan. Aku sering menulis tentang patah hati, aku menandai kata kehilangan di dalam kamus. Otakku terus mencegah agar aku tak menuliskan sesuatu yang mengandung kesedihan untuk ulang tahun seseorang.
“Semoga yang ini tidak ketahuan seperti tahun lalu,” tambahnya. Sejenak aku berhenti berpikir dan menutup buku yang masih kosong untuk mendengarnya bercerita.
Kami semua tertawa. Banyak hal yang diutarakannya tanpa harus repot-repot bertanya untuk kedua kalinya, tapi tugasku belum selesai. Aku mencoba membuka halaman di dalam buku, berharap mendapat sesuatu yang bisa kukutip sehingga aku tak harus menguras otak. Aku juga mencoba mengulur waktu, menawarinya kopi sementara aku berpikir. Dia mengiyakan, tapi bahasa tubuhnya terlihat terburu-buru.
“Aku sudah bilang akan menyusulnya pukul empat tiga puluh. Tapi tak apa terlambat, aku sudah meminta maaf. Aku bilang, aku bisa saja tertidur dan baru bisa menjemputnya pukul lima,” tambahnya masih tersipu-sipu.
Jam di tanganku sudah pukul empat dan jalanan di Jakarta bukan sahabat untuk orang-orang yang sedang terburu-buru. Aku pernah menunggu seseorang tak kenal waktu; satu jam, dua jam. Aku masih terus menunggu burung hantu pembawa pesan, entah sampai kapan.
Akhirnya aku mengingat-ingat satu kalimat yang masih menempel di kepalaku. Kalimat itu ada di dalam buku entah halaman berapa, yang mengatakan bahwa bukan berapa lama atau siapa yang lebih dulu mengenal…tapi dia yang datang, dan tidak pergi.
Ketika punggungnya menjauh, aku tahu dia tak perlu membuatnya menunggu lebih lama di sana. Aku pernah ada di posisinya, menunggu dan menunggu, tapi dia memilih untuk melepaskan. Aku masih terus menunggu, tapi sepertinya sia-sia jika hanya aku yang yang bertahan sendirian..
Sepertinya dia akan tiba sedikit terlambat, tapi tak apa… paling tidak, kalian sudah saling menggenggam.

-R-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s