Mawar dari Seberang Pulau

Ada sebuah rumah yang seolah mati di tengah barisan rumah-rumah lain di dalam komplek pinggiran kota.
Terasnya hanya diisi satu kursi dan satu meja yang sama tuanya. Daun-daun kering berserakan dengan leluasa tanpa khawatir disapu habis dan dibakar di tempat sampah. Di dalamnya, hanya ada seorang laki-laki tua yang masih menangisi nasib hari esok, lusa, dan seterusnya.
Tiga hari sebelumnya, rumah itu masih ramai. Meski hari-hari sebelumnya sepi, tapi hari itu penuh orang berlalu lalang. Langit mendung, seseorang di kursi plastik bergumam pada orang di sebelahnya. Ini hari jumat, tidak biasanya mendung. Iya, biasanya cerah, timpalnya. Jalan di depan rumah itu ditutup untuk pengguna kendaraan bermotor, dihalangi pot tanaman sri rezeki tetangga dan bongkahan pondasi rumah yang terongok di tanah kosong. Tanaman sri rezeki yang dipercaya sebagai tanaman penarik rezeki, terikat bendera kuning. Laki-laki pemilik rumah memegang telepon genggam, tapi tiba-tiba dia lupa cara menggunakannya.
Delapan hari sebelum rumah itu kehilangan cahaya, laki-laki itu sedang mencuci mobil ambulance yang dipasrahkan kepadanya oleh ketua RT setempat. Mobil van warna perak dengan tulisan “AMBULANCE” hijau di kepalanya, menjadi asuhan setelah dia pensiun. Sudah lebih dari dua tahun mobil itu berdiam di garasinya yang kosong menggantikan sedan tua warisan keluarga yang dijual. Juga karena anak lelakinya memilih hijrah ke pulau sebrang demi pekerjaan, meninggalkannya sendirian.
Sore itu cerah saat dia membuka pintu belakang dan mencium aroma bunga. Bunga mawar, bukan melati atau kamboja yang katanya pertanda ada makhluk kasat mata di sekitar kita. Dia mengingat-ingat kapan mobil itu membawa jenazah, dan apa saja yang telah diperbuat hingga meninggalkan aroma semerbak di dalam mobil. Tapi sudah sebulan lalu, batinnya. Dia mengambil ponsel di sebelah gelas kopi, mencari satu-satunya nama yang dia simpan. Suara di ujung telepon terdengar seempuk bolu buatan ibunya dulu. Suara Si Tukang Ngaji dan Tukang Adzan, begitu tetangga kerap mengatakan. Memasukannya ke pesantren memang keputusan tepat. Anak lelakinya kini menjadi pribadi santun, alim, dia hafal Al-Qur’an, dia cakap agama. Dia tak pernah meninggalkan salat, dia penuh kasih pada orang-orang di sekitarnya.
Esoknya, seorang bocah perempuan berumur sembilan tahun meninggal karena demam berdarah. Hanya berjarak satu blok dari rumahnya. Laki-laki itu yang mengantarnya ke pemakaman, kemudian dia mengerti kalau aroma semerbak mawar datang dari tubuh tak berdosa di belakangnya. Mungkin kemarin adalah pertanda. Aroma itu tak hilang sampai tiga hari, yaitu empat hari sebelum daun-daun mangga dibiarkan memenuhi halaman.
Sehari setelah aroma itu menghilang, aroma itu muncul lagi. Tercium di hidung tuanya yang seharusnya juga sudah pensiun membaui seperti yang dia lakukan pada pekerjaannya. Kemudian saat sore, sebelum adzan ashar, seorang ibu mengetuk garasinya. Tolong antar suamiku ke pemakaman, katanya. Dia baru saja bermain dengan anaknya, lalu tiba-tiba mati. Kalau memang dia punya banyak salah di dunia, tolong jangan persulit jalannya ke neraka.
Laki-laki itu bergeming, lalu meminta alamat agar dia bisa menjemput jenazah suaminya.
Suami si wanita akhirnya diantar ke pemakaman terdekat. Hanya ada tiga anggota keluarga yang ikut mengantar jenazah, ketiganya tidak ada yang laki-laki ini kenali. Sebelum mengantar, dia meminta izin mengangkut orang bukan dari RT-nya pada ketua RT. Wah, itu preman yang tinggal di kampong belakang. Biasa mangkal di depan komplek. Anaknya dua, istrinya berdagang di pasar. Laki-laki ini bergeming lagi. Terlebih saat mengantar jenazah, wangi mawar memenuhi mobil. Seperti penyegar ruangan beraroma mawar.
Dalam perjalanan pulang dari pemakaman, laki-laki ini berpikir lagi. Bagaimana aroma mawar bisa menguar dari tubuh seorang preman? Ataukah hidungnya yang salah? Pikiran ini menghantuinya sampai malam tiba. Dia mengambil ponsel dan menunggu seseorang mengangkat panggilannya. Tapi tidak ada yang menjawab. Esoknya orang di seberang menelpon, tapi hanya sesaat. Ayahnya bahkan belum sempat mengingatkannya untuk salat.
Di hari jiwa pemilik rumah itu mati, ada jasad pulang terbungkus peti. Bukan orang lain, tapi tubuh orang dari seberang. Diletakkan di tengah ruang tamu bersama barang-barangnya dan ponsel berbalut tanah. Saat kami sedang menebang pohon, tiba-tiba tanah longsor. Anak bapak terbawa tanah bersama dahan dan pohon hasil tebangannya sendiri. Begitu kata orang yang mengantar sampai di dalam rumah.
Rumah makin ramai dimasuki tetangga. Ada tangisan, ada isak, ada yang menepuk bahu laki-laki pemilik rumah. Sedang dirinya masih tertegun di depan peti mati anaknya. Tidak ada aroma mawar di mobil seperti pertanda yang biasa muncul saat seseorang yang baik meninggal. Seperti ada yang salah pada hidungnya.

*) Diikutkan dalam seleksi #WorkshopCerpenKompas2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s