Aria dan Hatinya

Pada malam-malam lalu, ketika tak satupun daun pintu terbuka untuknya. Aria keluar dari kamar hangatnya dan mempersilakan serigala memasuki ruang tamu. Dia yang kedinginan dan kuyup, membuat aria melunakkan hati. Memberi dia atap untuk berlindung dari badai, dan memberi dia segelas minuman hangat agar gigil di sekujur tubuhnya berkurang.
“Aku mengembara,” begitu kata si serigala.
Aria mengernyitkan dahi. Dia sudah tahu kalau serigala itu hanya membual, tapi tentu saja tak diucapkan lantang seperti orang lain. Aria punya tata karma, unggah ungguh yang diajarkan oleh orangtuanya.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Aria masih menunggui serigala mengoceh tentang rumahnya yang besar dengan pagar tinggi dan kekar. Bekas luka di dahinya mengingatkannya pada seseorang di masa lalu yang tak ingin dia lihat lagi batang hidungnya. Tapi apa daya, alam menuntun laki-laki itu kembali padanya.
*
“kau hanya istri sah di depan penghulu,itu juga agar mendiang bapak jadi mewariskan hartanya.”
Aria bergidik tiap kali suami yang sudah mempersuntingnya dua tahun lalu mengumbar rentetan kalimat itu. Seolah dia hanya kertas bermaterai yang habis ditandatangi, lalu disimpan di dalam lemari. Bukan perempuan yang harus dicintai dan dihargai, bukan juga perempuan yang diinginkan menjadi ibu dari anak-anaknya. Aria tak pernah digaulinya.
“Kalau ada tetangga yang bertanya, jawab saja dia sepupumu. Atau adik tirimu, atau temanmu, atau teman tetanggamu,” lanjutnya sambil menunjuk perempuan di dalam kamar. “Kau tak bisa membahagiakanku, jadi bantulah aku berbahagia.”
Aria menunduk, menyusuri salur-salur batik bermotif parang di rok panjangnya. Lalu ada kebahagiaan-kebahagiaan lain yang suaminya bawa ke kamar mereka, ke rumah mereka selama bertahun-tahun. Disusul kebohongan-kebohongan yang harus Aria karang demi nama baik suaminya di lingkungan tempatnya tinggal.
Kebohongan paling pahit bagi Aria adalah saat ibunya menelpon dari kampung. Bertanya kabarnya, kabar suaminya, apakah dia sudah bisa mengurusi suami, meskipun sudah dua tahun sang ibu melepasnya ke tangan anak juragan apel. Semua baik-baik saja, berkat doa ibu, bilangnya dengan suara lirih. Takut Tuhan mendengar, juga takut perempuan yang baru saja keluar kamar ikut menyahut. Jadilah istri yang baik, begitu pesan terakhir sebelum menutup telepon. Aria mengiyakan, dia pun sudah lama menanyakan hal itu pada dirinya sendiri.
*
“Kau tahu, umurku sudah menginjak usia ke-185 tahun,” serigala itu berseloroh, tapi wajahnya masih seperti serigala. Tangannya yang berbulu halus kurus kering, seolah tak ada satu mangsa pun yang dia dapat sebulanan ini.
Aria mematung, toh memang tak ada yang dapat dia lakukan selain diam. Dia pikir, serigala akan selalu menakutkan. Tapi kali ini, serigala ini membuatnya iba dan hampir luluh meskipun hanya sejenak.
*
“Pulang saja ke rumah ibumu. Ke tengah sawah yang gelap gulita. Hidupmu dan ibumu sudah makmur, tah, sejak kamu menikah. Kamu mau miskin lagi?”
Sudah tahun kelima. Aria selalu menunduk ketika suaminya meracau, kecuali kali ini. Kesabaran tak pernah ada habisnya, tapi Aria memilih lupa dan melawan laki-laki itu dengan melemparkan asbak kaca tepat di kepalanya.
“Jangan pulang lagi!” bentak suaminya dengan suara menggelegar memenuhi langit-langit ruang tamu berlampu Kristal.
Aria membanting pintu kayu jati di depan wajah suami yang berlumur darah dan perempuan di sampingnya. Tidak ada yang dia bawa kecuali sandal jepit dan kemarahan. Aku tak akan pernah pulang!
*
Hanya setahun kemudian ketika serigala itu akhirnya berkeliaran di desa Aria, ketika akhirnya Aria mempersilakannya masuk ke rumah di tengah sawah yang gelap gulita. Tak ada harta atau wanita di genggamannya, pun dengan akal yang entah kapan hilangnya. Aria masih menyimpan airmata ibu kala dia pulang ba’da isya. Tanpa suami yang membawanya dulu, bahkan tanpa kabar baik yang tiba di depan pintu. Hanya anak perempuan kurus dengan linangan airmata dan kata maaf yang terus diucap hingga sang ibu mati, seolah tak cukup untuk membayar dusta-dusta lima tahun ke belakang bila diucap satu kali.
“Sebenarnya aku punya istri, tapi dia pergi. Aku sedang mencarinya, aku hendak membayar hutang.” Serigala itu tiba-tiba sayu. Matanya berair, tapi tetap saja itu airmata serigala.
“Hutang? Hutang apa?” kali ini Aria menimpali.
Serigala itu beranjak dari kursi. Sayup suara adzan terdengar jadi musala desa, mengiringi langkah tua tamu dini hari Aria.
“Entahlah, aku lupa. Mungkin hutang maaf.” Ucapnya sambil meniti jalan tanah yang masih basah.
Aria mematung di depan pintu sampai cahaya keemasan muncul di ufuk timur. Untung saja, hati ada di dalam sana. Jadi tak rupa ia menghitam, tak tampak pula ia berkarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s