Kembali Pulang

Kira-kira sepuluh jam lalu, sebuah nomor tak dikenal menghubungiku.
“Kau harus kembali ke sini, secepatnya.”
Sampai detik ini, aku masih belum tahu apakah aku harus kembali ke tempat yang membuatku sendirian selama bertahun-tahun lamanya.
*
“Pekerjaanmu hanya bermain-main dengan hantu! Kau lupa, bunga-bunga itu belum disiram sejak pagi?”
Bibi Sam berteriak dari dapur ketika aku baru melangkah melewati ambang pintu. Paman Sam meninggikan koran yang sedang dibaca di ruang tamu sampai menutupi seluruh kepalanya.
“Pantas saja tidak punya teman.” Bibi menggerutu seperti biasa tiap kali aku pulang dari bermain di pemakaman. Bibi dan Paman Sam yang mengurusku sejak ayah dikabarkan meninggal di medan perang saat aku masih bayi. Kata bibi, ibuku pergi dengan pria lain setahun setelah kabar itu sampai di rumah ini.
“Mereka yang tidak mau berteman denganku! Apa salahnya bermain di pemakaman? Di sana banyak bunga dan pohon ceri yang selalu berbuah dan sangat manis.”
“Tapi anak-anak lain tak ada yang bermain-main di pemakaman. Itu bukan arena bermain, Kate. Sudah, kerjakan saja pekerjaanmu!”
Tidak ada yang mau berteman denganku di lingkungan ini. Aku terlihat tak normal di mata teman-temanku dan para orang tua. Mereka takut aku akan mengajak anak-anaknya ke pemakaman dan berubah aneh sama sepertiku. Gosip bahwa aku anak aneh pun dengan cepat menyebar di sekolah melalui teman-teman di lingkungan ini. Aku benar-benar tak punya teman. mereka bilang, aku memang hanya pantas bermain dengan hantu.
Bunga-bunga di halaman tampak kering. Tapi aku yakin ini disebabkan cuaca yang sangat terik akhir-akhir ini, bukan karena aku lalai akan tugasku. Di beranda rumah seberang jalan, ada nenek Chris. Pekerjaannya hanya duduk sambil memandangi jalanan dan bunga-bunga di halamannya. Meski usianya seumuran dengan Bibi Sam, Nenek Chris terlihat tua. Aku selalu memanggilnya Nenek Chris, dan beliau nyaris tak pernah bicara sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu.
“Kalau kau tak punya teman sepertiku, kau bisa ke pemakaman di belakang perumahan ini. Nenek selalu pergi ke makam kakek kalau sudah lelah mendengar ocehan orang di rumah,” ujarnya. Itu pembicaraan pertama kami kala itu.
“Tapi siapa yang aku datangi? Mereka semua sudah mati, bukan?”
“Bukan hanya ‘siapa’, tapi juga ‘apa’. Apa yang kita datangi? Pemakaman adalah tempat tersunyi dan penuh kenangan. Di sana orang-orang yang kita sayang tertidur dengan damai seperti kakek. Tanpa ada peperangan, senjata api, suara bom; hanya ada suara angin. Kau bisa mendengar degup jantungmu sendiri di sana,” lanjutnya. “Dan tak akan ada yang cerewet.”
Lalu untuk pertama kalinya aku pergi ke sana. Gerbang pemakaman hanya sebuah jalinan besi membentuk setengah lingkaran, dan di beton yang dilapisi batu marmer terpampang tulisan “PEMAKAMAN UMUM”, di bawahnya terukir kalimat “Mereka abadi dalam ingatan”. Aku tak pernah takut dengan hantu, meski paman dan bibi sering mengancam akan memanggil arwah penasaran jika aku malas mengerjakan pekerjaan rumah. Aku yakin Ayah juga tidak takut hantu.
Sejak itu, aku merasa keheningan itu adalah temanku. Kadang aku hanya berjalan mambaca nisan sambil mengamati ukiran patung di atas makam, kadang aku membawa buku untuk dibaca sampai berjam-jam lamanya, dan kadang aku mambawa alat berkebun milik bibi agar bisa merapikan rumput dan bunga liar yang tumbuh di sana.
Tahun berlalu. Aku masih senang menyendiri di pemakaman, aku juga makin tak punya teman. Paman dan bibi sibuk mengurusi kedai burger yang dijual di atas mobil seperti es krim. Mereka jarang di rumah kecuali larut malam dan pagi. Aku menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas semua pekerjaan di rumah. Kesehatan paman Sam lama-kelamaan mengkhawatirkan. Tubuhnya berubah menjadi kurus, lalu dia hanya bisa berbaring di tempat tidurnya selagi bibi melanjutkan pekerjaannya.
Dan hari itu pun datang. Hari di mana aku masuk ke universitas dan harus tinggal di luar kota. Aku mendapat kebebasanku dari lingkungan yang mengucilkanku itu, sekaligus kehilangan tempat yang menjadi rumahku bertahun-tahun lamanya. Aku seperti akan meninggalkan teman baikku sendirian.
“Kalau kau butuh uang, telepon saja pamanmu.” Paman Sam tampak sekarat saat terakhir aku melihatnya. Sebulan kemudian dia meninggal, lalu tanpa sepengetahuanku, bibi menjual rumah yang selama ini kami tempati. Kabar beredar kalau bibi sudah pindah ke rumah pacar barunya. Aku bergelut dengan hidupku, sendirian.
“Ibu dan bibimu ternyata sama saja. Aku ingin tahu, apa kau juga akan mengikuti jejak mereka? Darah tak bisa berbohong.” Tuduh Isabela, teman kecilku yang menyebut namaku saja mungkin tidak pernah. Dulu aku dipanggil Si Pirang Aneh atau Penjaga Makam oleh kelompok yang diketuainya, dan tak segan mendorong atau menarik rambutku dengan sengaja di depan umum. Dia mengenaliku di bar tempat aku bekerja paruh waktu meski sudah dua tahun tidak bertemu. Dari pembicaraannya yang mampir ke telinga, dia sedang berlibur ke tempat pacarnya di sini selama musim panas.
Aku tak punya alasan untuk pulang, meski kedamaian itu sering kali mengganggu tidurku. Aku ingin duduk di pinggiran makam dengan patung wanita menggendong bayi, aku juga ingin menjenguk bunga-bunga liar yang dulu kurawat. Aku rindu keheningan itu.
Tapi, aku hanya akan menjadi anak aneh di sana. Betapapun aku bisa masuk universitas di mana mereka tak bisa menembusnya, juga fakta kalau aku bisa membiayai hidupku sendiri dengan bekerja di beberapa tempat setiap hari selepas kuliah usai, tak akan bisa mengubah pandangan mereka.
*
Setelah berkendara lima jam, akhirnya aku pulang. Telepon dari anak nenek Chris berhasil membuatku gelisah.
“Kau harus melihat pemakaman. Semalam ada makam yang digali, ibu bilang aku harus memberitahumu. Bisakah kau pulang untuk melihat?”
Aku melihat masa laluku berkelebat di depan mata. Bekas rumah yang dulu kutinggali sudah direnovasi menjadi rumah modern dengan kurcaci di halamannya. Jalan dan trotoarnya tak berubah, juga rumah nenek Chris yang hanya dicat ulang dengan warna sama.
“Siapa yang melakukan ini, Nek?” nenek Chris duduk di kursi roda di sebelahku. Makam dengan patung wanita menggendong bayi dibongkar. Aku hampir menangis melihat patung itu tergeletak di tanah. Bayi di pelukannya terlihat sedih.
“Polisi sedang mencarinya. Yang lebih penting adalah…siapa yang dimakamkan di sini.” Rambut putih di kepalanya disirami warna oranye dari matahari sore. Anak Nenek Chris bilang, seminggu yang lalu mereka nyaris kehilangan beliau. Kesehatannya menurun drastis, tapi sepertinya, beliau masih ingin hidup. Beliau berjuang melawan sakit akibat usianya.
“Siapa?” aku baru sadar, aku tak pernah tahu itu makam siapa. Tidak ada nama atau kata-kata indah di nisannya. Pun keluarga yang biasanya berziarah, tidak juga ada bunga segar pemberian orang terdekat di atas makam.
“Ibumu…”
Ada hening lama di antara kami. Aku menunggu Nenek Chris melanjutkan kalimatnya, tapi tampaknya beliau sengaja membiarkanku mencerna kata-katanya.
“Ibumu tak pernah kabur dengan pria lain, Kate. Pria yang orang maksud mungkin mendiang suamiku. Dia yang membawa ibumu ke rumah sakit.”
“Mustahil. Bibi Sam bilang…”
“Tidak ada yang tahu selain aku dan suamiku, bahkan bibimu yang seharusnya menjaga ibumu di saat dia kehilangan ayahmu pun tak tahu dan memilih untuk menyebar kabar kalau dia pergi dengan pria lain.”
Aku terduduk di sebelah kursi rodanya, di depan makam yang berantakan. Makam yang sejak bertahun-tahun kupakai bermain dan membaca ternyata makam ibuku sendiri.
“Maafkan aku. Aku sudah berjanji untuk diam sampai aku bertemu ajal. Tapi, aku tidak juga mati sampai hari ini. Aku ingin bertemu kakek, sudah lama sekali…”
“Kenapa?” aku mulai menangis. Selama ini aku menyalahkan ibu karena sudah meninggalkanku demi pria lain. Setidaknya, jangan tinggalkan anakmu! Aku masih berharap dia pulang suatu hari nanti, agar aku bisa bertanya alasannya.
“Ibumu depresi saat mendengar kabar duka dari ayahmu, tapi dia masih mengurusmu yang kala itu masih berumur sepuluh bulan. Badannya kurus sekali. Suatu malam, kakek melihat ibumu tertatih-tatih keluar dari rumah. Kakek mengejarnya dan dia melihat darah mengalir di kakinya.” Nenek Chris menarik napas, matanya menerawang menembus makam yang berantakan. “Ibumu keguguran.”
Aku terkesiap. “Tapi…”
“Pamanmu…selama ayahmu di medan perang, pamanmu memperkosanya berkali-kali.”
Aku makin tidak percaya. Semua datang begitu cepat sekaligus; ibu, paman.
“Ibumu mengalami pendarahan hebat dan nyawanya tak tertolong. Yang lebih mengejutkan, dokter bilang ibumu sudah tertular virus HIV.”
“Paman?”
“Iya, pamanmu meninggal juga karena virus itu. Sebentar lagi mungkin giliran bibimu. Untungnya kau sudah tak minum ASI-nya saat dia mulai tertular. Dan aku bersyukur kau tumbuh sehat dan menjadi orang baik meski dikelilingi orang-orang jahat.”
“Aku seharusnya tahu ini sejak lama, Nek…” suaraku nyaris tak terdengar, tenggelam dalam isak tangis.
“Ibumu meninggalkan surat wasiat dan daftar harta warisan keluarga besarmu. Pengacaraku yang mengurusnya saat dia sekarat, dan itu semua atas namamu. Lucu, dia punya banyak harta tapi lebih memilih tinggal bersama bibi dan pamanmu.”
“Benarkah? Di mana surat-surat itu?”
“Dikubur bersama jasad ibumu. Sebelum aku mati, aku harus menggali kuburnya dan memberikannya padamu. Itu pesannya dan aku bersedia. Tapi…”
“Tapi seseorang mendahuluimu.”
“Bibimu. Aku takut tak sempat mengurusnya jadi aku bilang ke bibimu seminggu lalu.”
Aku membuang napas berat. Nenek Chris memandangi langit yang masih berwarna oranye. Kulihat langit kali ini begitu luas dan indah, mungkin ibu melihatku dari atas sana. “Dari mana nenek mendapatkan nomorku?”
“Isabela. Dia mencarimu ke bar tempat kerjamu dulu, beruntung ada rekanmu yang menyimpan nomor ponselmu.” Nenek Chris menyenderkan kepalaku di pangkuannya. Wajahku sembab, tapi jelas aku lega mengetahui semua ini. Aku menemukan ibuku, meski sudah menjadi tulang belulang.
“Pantas saja aku betah berdiam di sini.”
“Iya, kau selalu pulang ke sini setiap hari. Ke rumah ibumu…”

-R-

 

*) Ikut meramaikan giveaway @mandewi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s