Orang Kedua

Bagaimana jika yang benar-benar mencintaimu, adalah orang kedua yang selalu datang terlambat?

Hari itu hujan deras. Barisan kata di layar monitorku belum juga bisa ditinggal barang lima menit. Dan aroma kopi, mengingatkanku pada gelasmu yang terlupa. Aku selalu bilang kalau aku tak punya banyak waktu dan tak sebebas orang-orang di sekitarmu.
Aku selalu berjalan tergesa-gesa. Melewati trotoar jalan utama kota dengan sepatu berhak tinggi, seperti seorang kelaparan menemukan gunung lalapan dan sambal di ujungnya. Kamu gila jika makan sambal sebanyak itu, katamu saat kita makan siang di sebuah restoran di bilangan Jakarta Selatan. Justru aku gila, karena aku belum juga mengatakan apa-apa tentang perasaanku saat nyaris setiap hari aku menghabiskan waktuku yang sedikit bersamamu.
“Kupikir aku sedang menyukai seseorang,” ujarmu saat aku baru saja duduk dan meluruskan kaki. Ada ruam merah di jari kelingking kakiku akibat tali sepatu yang mulai terasa perih. Belakangan aku tahu kalau kulit kelingkingku mengelupas dan harus dibebat plester beberapa hari.
“Hmm…” tapi perih lain yang tidak terlihat baru saja terasa.
“Cantik, baik, menyenangkan, dan jaraknya hanya lima menit dari kantor.”
“Oke, terus?”
“Terus…ya, aku suka. Bagaimana menurutmu?”
“Aku lapar, tadi lari dari kantor ke sini takut kamu kelamaan nunggu. Apa yang enak di sini?”
“Coba ayam panggangnya, the best!”
Lalu aku sengaja menenggelamkan diri di dalam buku menu meski pesananku sudah kamu pesan. Perlahan, rasa perih di kakiku tak terasa sedikit pun.
*
Lalu minggu-minggu berikutnya, aku makin tenggelam. Kamu, kamu makin kasmaran. Yang kulihat hanya pijar-pijar bintang di wajahmu, dan itu bukan karena aku. Ada bintang jatuh dengan ekor putih terang di mata cokelatmu, tergaris jelas saat kamu menyebutkan namanya.
“Kamu terlambat lagi, satu jam, payah!”
“Aku banyak pekerjaan seperti biasa, maaf. Pesankan makanan, aku lapar. Kamu sudah makan?” aku meneguk air putih di botol minuman sampai tandas. Apa lagi yang membuatku selalu terlambat kalau bukan pekerjaan?
“Aku sudah makan dengan dia, harusnya kalian berpapasan. Dia baru saja pergi.”
“Ohh…”
“Mau pesan apa? Di sini yang enak…”
“Tidak perlu, aku belum terlalu lapar. Mungkin nanti.”
Sepatuku bukan sepatu yang bisa menlukai jari-jari kaki kali ini, tapi rasanya, ada luka yang membuatku ingin menangis.
*
Hari ini ada asap kopi yang mengepul dari dua gelas berwarna sama. Satu gelasku masih menyisakan setengah, sedang gelas satunya mulai dingin menunggu pemiliknya tiba. Biasanya, aku terburu-buru menapaki trotoar yang akan membawaku padamu. Meskipun terlambat, meski aku lagi-lagi menjadi orang kedua yang menemuimu. Kali ini aku yang menunggu di tempat kita pertama bertemu, dan tempat yang sama ketika kamu selalu menungguku. Sepatuku bukan sepatu berhak tinggi, aku juga tidak lagi dihantui pekerjaan. Sambal di sebelah piring ayam bakarku utuh. Mungkin kegilaanku mulai sembuh, atau aku hanya gila jika ada di depanmu, tentu sebelum pijar-pijar itu bermunculan. Pijar-pijar yang mematikan langitku, dan mereka adalah pijar yang tak pernah mampu kunyalakan. Tidak ada lagi mata cokelat yang menatapku penuh kecewa saat aku terlambat, tidak juga ada yang berbicara panjang lebar ketika aku hanya bisa diam karena terlalu lelah.

Yang datang hanya kenangan. Aku dan kamu ketika kita saling berkomentar tentang Jakarta yang sekarang, juga saat kegilaanku akan sambal menjadikanku seperti orang dari planet lain yang terlihat aneh. Lama kelamaan semakin terasa menyakitkan. Aku yang selama ini terus berlari, mengejar waktu, dan melukai kaki dengan sepatu, akhirnya hanya menjadi orang kedua yang ada di pikiranmu.
Namun, bukankah itu disebut cinta jika seseorang rela terluka demi orang lain?

Advertisements

8 thoughts on “Orang Kedua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s