Karena Aku Tahu Diri

Hujan belum berhenti dari semalam. Jenny memandangi halamannya memegang pemukul bisbol di tangan kanannya. Bunga di batas trotoar tercabut beberapa dari potnya, dan ada jejak lumpur di atas jalan beton menuju ke arah pintu depan.
Klik
Lampu ruang tamu padam. Jenny bersikap siaga. Lampu lain dan peralatan listrik lain pun mati. Seketika rumah senyap, tanpa bunyi televisi yang selalu dinyalakan saat Jenny di rumah. Dia hafal dengan tata letak benda di rumahnya, ditambah cahaya fajar yang sedikit membantu penglihatannya untuk sampai ke ruang bawah tanah tempat sakelar listrik berada. Tangannya meraba-raba senter di laci dekat kardus buku. Nihil. Lalu cahaya datang dari arah belakang, mengenai kepalanya dan membuat bayangan kepala di tembok. Jenny berusaha melihat siapa yang memegang senter, tapi sia-sia karena cahaya langsung menerpa wajah dan matanya. Tongkat bisbol teracung melawan cahaya senter, Jenny bersiap memukul siapapun yang ada di depannya.
“Kau tidak akan memukul orang yang selalu menjagamu, Jenny.”
Jenny terperanjat mendengar suara laki-laki yang terbata-bata dan terdengar agak gugup. Bau asap rokok menyapa hidungnya.
*
Sebuah kotak makan siang berisi sandwich ada di lokernya. Sekolah masih sepi, setelah bunga dan kartu-kartu ucapan, hari ini Jenny menemukan kotak makan siang di dalam loker pribadinya. Dia memang belum sempat sarapan, mengingat sepedanya masih rusak akibat tak bisa dikendalikan kemudian menabrak tembok sebuah toko permen di perjalanan pulang, sehingga dia harus terburu-buru berangkat ke sekolah.
“Wow! Ini pasti ulah seseorang yang menyukaimu. Seseorang di sekolah ini. Atau ini ulah Jonas? Aku pernah memergokinya sedang menatapmu di kelas bahasa.” Patricia membuka pintu perpustakaan berbarengan dengan petugas kebersihan. Kereta dorong berisi alat kebersihan menimbulkan suara terseok-seok di perpustakaan yang hening.
“Apa yang menarik dariku, sampai Jonas menyukaiku sampai mencuri kunci loker dan menggandakannya atau malah mencurinya dari ayahnya hanya demi memasukan bunga-bunga itu? Kurasa bukan.”
“Bukankah kau juga menyukainya? Dan wajahmu tak bisa berbohong, Jen. Kau mengakui kalau kau memang suka Jonas. Kau harus mulai mendekatinya juga.”
“Iya, di dalam mimpi.”
Jenny memakan sandwichnya dengan hati penuh tanya. Jika Jonas yang menaruhnya, maka jelas sekali dia menyukai Jenny dan kenapa harus diam-diam meletakan sarapan di lokernya? Bukankah lebih menarik jika dia memberikannya langsung. Mungkin sambil bertatapan mata dan pura-pura tidak sengaja memegang jarinya saat menyodorkan kotak makan siang ke tangan Jenny.
Sepedanya masih belum kembali dari bengkel paman Nick. Jenny akan mendapatkan sepedanya benar seperti baru sekitar lusa, dan selama sepeda itu di sana, Jenny harus meniaki bus umum yang haltenya berjarak beberapa meter dari sekolah. Dua hari terakhir, Jenny agak trauma dengan pengutil yang nyaris mengambil dompet dan ponselnya di bus. Beruntung seseorang memergokinya.
“Hai Paman Nick, cepat sekali. Kukira sepedaku jadi lusa.” Jenny membuka pintu rumahnya saat ponselnya bordering. Paman Nick tak pernah menelpon, biasanya Jenny yang menelpon cucunya ketika dia ingin berbicara dengan Paman Nick karena kakeknya itu terlalu sibuk di bengkel.
“Bukan, Jen. Soal sepedamu, ada yang membobol bengkel paman semalam. Aku baru membuka bengkel sore ini karena ada keperluan mendadak. Dan…”
“Dan?”
“Sepedamu sudah tidak ada. Bahkan aku belum sempat memperbaikinya. Maafkan aku, Jen…”
“Paman yakin sepedaku tidak ada? Sepedaku tidak terlalu berharga kupikir.”
“Aku yakin, maafkan Paman, Jen. Nanti paman carikan sepeda yang sama untuk menggantinya. Kau bisa bersabar?”
Jenny memikirkan keluarga Paman Nick yang biasa-biasa saja. Dia memberi harga murah kepada pelanggan dan tak memikirkan berapa uang yang didapat asal pelanggan senang. “Tidak, Paman. Lagipula sepeda itu memang sudah harus diganti, mungkin ini saatnya.”
“Kau yakin?”
*
“Siapa kau?” Jenny masih berusaha menghindar dari sorotan lampu senter yang menyilaukan. Tongkat bisbol masih ada di tangannya, tapi pandangan matanya mulai muncul titik-titik hitam. Kini dia sibuk menghalangi cahaya dengan tongkat di tangannya.
“Aku lelah melihatmu mengira semua bunga-bunga itu berasal dari Jonas. Tidakkah kau terpikirkan orang lain?”
“Katakan, siapa kau?!”
“Bunga, catatan-catatan, sarapan, sampai sepedamu. Aku. Aku lah pelakunya. Sepedamu kembali ke garasimu, tapi kau tak sedikitpun penasaran siapa yang menaruhnya di sana.”
“Kau?”
“Aku. Aku yang menjagamu selama ini, Jenny. Aku yang memberi perhatian kepadamu dan kau tak pernah sadar. Aku di sebelah lokermu saat kau tersenyum dengan hadiah-hadiahku, aku di dalam bus dan menyelamatkan dompet dan ponselmu, aku juga yang mengambil sepedamu dari bengkel kakek tua untuk diperbaiki…agar kau tidak berjalan kaki ke halte bus dan menunggu lama.”
Suara laki-laki itu bergetar. Bau asap rokok tercium setiap kali dia berbicara. Dan klik, lampu menyala. Jenny kini berhadapan dengan seseorang yang sering dia temui di sekolah.
“Kau petugas kebersihan itu?” Jenny merapatkan lagi jari-jarinya di tongkat bisbol.
“Kau bahkan tak tahu namaku, Jenny,” lanjutnya dengan nada meremehkan. “kau tak tahu namaku bahkan saat aku tak pernah jauh darimu…”
“Tapi kau tak pernah menegurku, bagaimana aku tahu itu kau?!”
“Karena pusat tata suryamu hanya Jonas seorang, Jenny… Jonas yang melirikmu pun enggan.” Dia bersandar di tembok. “Kau sadar? Jelas tidak. Dan aku tahu diri, siapa aku dibandingkan bocah brengsek itu? Aku hanya petugas kebersihan yang mati pun orang tak akan sadar, kecuali saat lantai yang mereka injak kotor. ”
Jenny mencari celah untuk keluar dari ruang bawah tanah. Pemukul bisbol jelas tidak cukup untuk melawannya meski badannya tidak terlalu besar dan bertampang lugu.
“Aku tak bersenjata, Jen. Jangan takut, aku hanya memintamu jadi milikku. Itu saja”
“Kau sakit. Selama ini aku dibuntuti, kau pun menyelinap masuk ke sini pasti lebih dari sekali. Setelah aku keluar dari sini, kupastikan kau akan dibawa polisi dan menjauh dariku selamanya.”
“Semudah itu? Hahahaha”
Suaranya menggema di ruang bawah tanah yang gelap dan lembap. Hujan mungkin sudah berhenti, dan langit pasti udah terang benderang. Jenny mundur perlahan mendekati tangga. Tapi tiba-tiba, laki-laki yang masih seumurannya menyergapnya dan mendorong ke pojok ruangan. Dia menggapai tali di kotak perkakas milik mendiang ayah Jenny, lalu menyeret Jenny ke kursi besi tua di pojok lainnya.
“Aku tak bersenjata, Jenny, tapi kau terlalu baik hati untuk menyediakan semua ini untukku. Kupikir kita akan cocok.”
Jenny diikat kaki dan tangannya di kursi. Laki-laki itu memandangi Jenny lama, bergeming di anak tangga hampir selama sejam tanpa peduli Jenny berteriak atau meneriakan sumpah serapah.
“Aku akan kembali nanti. Jangan terlalu banyak bergerak, sayang, kau akan melukai dirimu sendiri…”
Pintu ruang bawah tanah ditutup rapat, lalu terdengar sesuatu diseret sampai depan pintu. Sesaat, suara televisi terdengar, bahkan lebih kencang dari biasanya. Dan laki-laki itu, tak kembali sampai dua hari kemudian.

-R-

*) Inspired by Mengagumimu dari Jauh by Tulus

Advertisements

4 thoughts on “Karena Aku Tahu Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s