Joker

“Pernah liat Joker menaiki motor lalu terlihat kebingungan di lampu merah, Beth? Aku baru saja melihatnya haha

!*

Aku terperanjat. Pesan singkat di ponselku seperti kilat yang tiba-tiba menyambar di siang bolong. Mungkin, dia adalah Joker yang sama.

*

Kilat pisau di tangannya membuatku kelu. 31 Oktober yang sedang penuh dengan hingar-bingar monster di jalanan atau di rumah-rumah, adalah Halloween pertamaku di kota ini. Tetangga yang ramah, lingkungan hijau dan penuh bunga, juga ladang-ladang gandum yang bukan hanya fatamorgana perkotaan. Tidak ada yang aneh di sini, semua berjalan biasa saja termasuk dengan perayaan-perayaan seperti Thanksgiving, Hannukah, Hari Ayah, atau perayaan konyol–menurutku–seperti Halloween. Tapi memang tidak ada yang lucu dari monster-monster mengerikan dan upaya-upaya menakut-nakuti orang.

“Aunty, permen yang akan kudapat tahun ini pasti lebih banyak dari tahun lalu!” Lucy, keponakanku sudah mengenakan kostum Marlyn Monroe lengkap dengan rambut palsu berwarna putih. Sebenarnya kostum ini lebih ke obsesi ibunya pada sang idola.

“Kau yakin aku harus ikut? Kurasa kostum buatan ibumu ini terlalu menakutkan.” aku memaku diri di depan cermin tinggi milik Aunt Grace–ibu Lucy, adik dari ibuku yang rumahnya kugunakan untuk tempat tinggal sementara. Gaun putih bernoda darah dari cat lukis di dada sampai perut, dengan riasan wajah biru lebam di bagian mata dan dahi, lalu sayatan di pipi membuatku bergidik sendiri. Ibu pasti akan melemparku dengan pisau kalau aku tiba-tiba muncul di rumahnya.

“Kau pikir untuk apa kau di sini? Ayo lah, kapan lagi jadi hantu tanpa dibacakan mantra pengusir iblis?” Lucy menyeretku ke bawah untuk mengambil kantung yang akan disodorkan di setiap pintu. Di meja makan ada labu-labu berwajah aneh menyala, lampu penerangan pun agak meredup.

Di luar lebih mengerikan lagi, setidaknya menurutku. Banyak suara ‘anak-anak monster’ tertawa atau berseru “Trick or Treat!” berasal dari segala arah. Aunt Grace memang tinggal di perumahan yang ramah anak-anak. Selama tiga hari aku di sini, banyak anak-anak yang bermain sendiri tanpa pendamping. Ada taman bermain, sekolah pun sedekat pandangan mata. Tidak ada pagar tinggi dengan pengamanan ekstra di tiap rumah, malahan, batas antar halaman satu dan yang lain kabur. Hanya ada bunga-bunga rendah atau patung kurcaci di pinggir kolam mini.

“Ini rumah guru menggambarku, Aunty. Dia selalu punya banyak permen!” Lucy berlari ke pintu bercat putih dengan dua labu menyala di undakan tangga. aku mengikuti sambil melihat sekeliling rumah yang sudah ditata sedemikian rupa untuk perayaan Halloween. “TRICK OR TREATTT!”

“Astaga, ada Marlyn Monroe!” Laki-laki denagn riasan seperti badut muncul dengan kekagetan dibuat-buat. Lucy kegirangan melihat gurunya ketakutan, meski menurutku tidak ada ekspresi takut sama sekali. Permen di toples kaca sebesar vas bunga dikantunginya, dengan sangat mudah. Aku tak pernah dapat permen sebanyak itu seumur hidup.

“Bloody Mary?” Dia menawariku permen dengan riang. Aku menggeleng, toh bukan tujuanku mendapat bulatan manis yang akan merusak gigi. “Baiklah, tak apa. Orang dewasa kadang tak tahu caranya bersenang-senang, benar kan Lucy?”

“Beth memang hanya peduli pada sekolahnya, Steve…” Lucy menanggapi. “Dia bahkan tidak tahu caranya mengukir labu!”

“Sayang sekali…”

Keduanya sibuk bergumam. Kalau bukan untuk meneliti tanah di ladang gandum itu, aku bahkan malas berlama-lama meninggalkan tugas-tugasku di rumah. Aunt Grace tidak bisa memasak selihai ibu, aku sering memiih pisang atau apel kalau nafsu makanku hilang tiba-tiba di meja makan.

“Kau bisa pulang sendiri? Aku ingin melihat-lihat ladang sebentar…”

Kantung permen Lucy sudah nyaris penuh, sedang aku malas sekali pulang. Pasti akan banyak anak-anak yang terus-menerus mengetuk pintu dan berteriak di depan wajahku.

“Baiklah, tapi jangan terlalu malam. Steve bilang, kita bisa saja diseret dan dibakar karena dikira hantu sungguhan.” Lucy memasang wajah serius, lalu terbahak saat melihatku ketakutan. “Tentu saja dia bergurau, bodoh! haha”

Berbeda dengan suasana perumahan Aunt Grace, ladang gandum yang sudah dipanen terasa sangat damai. Angin berembus lembut, bintang-bintang bertaburan, bulan hanya separuh tapi begitu terang hingga bayanganku tergambar jelas di belakang. Entah apa yang sedang kucari di tempat ini. Semangat menyelesaikan penelitianku mungkin harus diisi ulang dengan berlama-lama di tengah ladang, di antara bau tanah dan daun-daun, juga pupuk yang beraroma tak bersahabat.

“Tolong!”

Seketika jantungku berpacu. Suara wanita di tengah ladang sepi seperti ini bisa saja halusinasi, tapi siapa yang tahu selain mencari sumbernya. Gaun putih buatan Aunt Grace sedikit mengganggu, tapi saat bau bensin tercium makin dekat, kakiku rasanya ingin cepat-cepat mancari tahu.

Wanita berpakaian putih, dengan rambut hitam lurus berponi sebatas mata, terikat di sebatang kayu yang ditancapkan di tengah tanaman-tanaman gandum kering. Wajah putihnya lebam, di lehernya ada sayatan merah dan berdarah. Bukan darah dari cat air atau saus tomat, tapi darah sungguhan. Lalu seorang perempuan berambut cepak ikal dan berantakan berdiri membelakangiku, pakaiannya seperti seorang perawat rumah sakit lengkap dengan sarung tangan karet. Di tangan kanannya ada korek api, sedang di tangan kirinya ada pisau dapur.

“Jangan keluar terlalu larut, karena kamu tahu? Akan ada yang membakarmu…”

Aku memekik. Suara itu suara laki-laki, dan aku masih ingat suara siapa. Dia berbalik sigap, aku menahan napas sembari mencoba mengontrol ketakutan juga gemetar di tanganku. Korek api dilempar ke arah wanita itu, dan BOOM! seketika malam memerah. Api berkobar, gemerisik terdengar bercampur dengan teriakan kesakitan di dalamnya. Menyakitkan dan pilu. Wajah lelaki itu kini terihat jelas. Dalam riasan wajah putih dan bibir merah yang seolah selalu tersenyum, mengingatkanku pada tokoh jahat psikopat di sebuah film. Dia tersenyum ke arahku, menggoyang-goyangkan pisau di tangannya sambil berjalan mendekat.

“Bloody Mary? Kaukah itu? Kemarilah…”

Aku berjalan mundur perlahan di antara tanaman gandum kering. Ketakutan mendorongku untuk berlari, terus berlari, urus dirimu sendiri, jangan menengok, terus berlari.

“Jangan di luar terlalu larut, Bloody Mary…”

Suara itu mengikutiku, tapi aku tak peduli. Air mata sudah deras sejak rintihan kesakitan itu terdengar. Kobaran api masih menyala, jalan di depanku lebih terang daripada saat hanya bulan yang menjadi penerang. Terus lari, jangan menengok.

*

“Atau aku akan membakarmu, agar iblis keluar dari tubuhmu… Bloody Mary, kemarilah…”

Langit-langit kamar putih pucat. Keringat dingin membanjiri bantal dan baju tidurku. Ponsel masih ada di genggaman, menampilkan pesan dari Rick yang belum sempat kubalas. Lalu ada dua pesan lagi yang dia kirim setelahnya.

“Sepertinya Joker menuju ke arah yang sama denganku, Beth. Untunglah ada teman di jalan yang sepertinya mati ini…”

“Jangan di luar rumah terlalu larut, Bloody Mary…”

*) Inspired by a tweet. Thanks Mr. A.

Advertisements

One thought on “Joker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s