One Direction: Where We Are Film

BzZDMsTCYAEAPAa

One Direction: Where We Are Film; Dari San Siro ke Huru-Hara di Teraskota

Sore tadi sekitar pukul 17.05 WIB, gue udah nyampe di Blitzmegaplex Teraskota (Teko) BSD. Niat nonton film Where We Are (WWA) udah dari sebulan lalu, sebenernya karena ada yang ngomporin juga. WWA ini film dokumenter kedua One Direction setelah This Is Us (TIU), bisa dibilang dokumenter nggak sih, kalau isinya rekaman konser di satu tempat? Jadi mari sebut saja film konser macam di posternya itu lah. *plin plan*

Nyampe di Teko, keadaan di depan studio 8 udah begini:

macam ngantri premium di SPBU
macam ngantri premium di SPBU

Semua…ABG, abege, anak baru gede. Yang tua-tua nyender tembok paling belakang atau minggir, seperti saya. Begitu pintu dibuka, antrean ini nyusut, pindah ke:

abege-abege seumuran saya
abege-abege seumuran saya

Mata siwer, gue harusnya di E17 malah duduk di F17. Pantes rasanya kok agak rendah, ternyata gue salah lihat huruf (ini penting). sebelum mulai, (tumben) ada mas-mas Bltz pegang mic yang ternyata udah stand by daritadi di pojokan. Mau ngapain? Mau ngasih pengumuman larangan mengambil gambar atau video.

Jika ketahuan, kami akan cancel penayangan film Where We Are ini.”

Dan semuanya langsung matiin HP atau masukin ke dalam tas. Nurut. Ini bisa juga dipake buat para orangtua yang anaknya nggak bisa dibilangin, fyi.

Belajar, atau papah cancel penayangan film Where We Are!”

Mandi, udah siang. Kalau papah tau, nanti dicancel lho, film Where We Are-nya…”

Begitu, ibu-ibu bapak-bapak. Terima kasih kembali. *dicekek*

17.15 WIB film mulai, baru cuplikan sedikit, suara teriakan udah dateng dari segala arah. Layar tancep aja nggak segaduh itu lho, bahkan tiap kamera ngeshoot muka member One Direction (1D: Liam, Niall, Harry, Zayn, Louis) ampun-ampunan deh mereka. Gue? masih kalem. *ngerasa lebih tua* *hemat tenaga*

Diawali interview di 20 menit pertama, dari ngomongin venue, pencapaian, underwear (yeah), sampai ngecengin Liam soal ginjalnya. Jangan ngarep suasana tenang, jangan ngarep aja. Dan akhirnya, konser dimulai. Dari lagu Midnight Memories, mereka berlima udah all out (bukan walk out ya), gemuruh teriakan di studio nyampur sama teriakan 60.000 ribu orang di San Siro (Milan). Meski ada beberapa lagu yang nggak ditayangin dengan alasan nanti kepanjangan, tapi nanti ada di DVD-nya, gue puas. Bisa nyanyi kenceng-kenceng rame-rame, teriak, liat muka Liam, Niall, Zayn, Louis, dan Harry segede layar Blitz, kualitas suara oke, gambar jernih, terus ada bagian-bagian yang di-slow motion. Jadi lebih dramatis, bikin teriakan makin kenceng.

“Ya Allah, matanya, Ya Allah..” kata cewek di sebelah gue tiap Zayn muncul. :))

Zayn ini member yang paling cool, katanya. Dia jalan doang aja udah kayak disetting macam jalan di catwalk, tipe-tipe orang yang pas banget buat adzanin anak gue nanti gitu (eaaa). Difoto dari angle mana aja hasilnya pasti bagus.

Zayn kehujanan aja gini
Zayn kehujanan aja gini

Harry seperti biasa, dia yang paling ekspresif. Kayak anak-anak kebanyakan gula gimana sih? Iya gitu, nggak bisa diem.

diemnya gini. yang lain nyanyi, dia baca.
diemnya gini. yang lain nyanyi, dia baca.

Niall level gesreknya masih dibawah Harry. Diteriakin sama cewek-ceweknya paling kenceng, sama, Harry juga. Niall ketawa aja pada teriak. Huft.

BrBGRK-IgAE3Fad.jpg large

Louis kalem banget. Berdua sama Zayn sebenernya, kalem yang nggak joget random kayak tiga lainnya.

matanya...
matanya…

Liam paling jarang diteriaki cewek-cewek di studio. Ada sih yang teriak kenceng banget: gue. Tapi dalam hati (lagi-lagi menyoal hemat tenaga). Dia juga sama randomnya kalau joget, suaranya alamak… diri ini sampai merinding dibuatnya.

*meleleh*
*meleleh*

Ya, karena ini film konsernya 1D, pasti ada scene-scene yang ‘penting banget’ buat ditayangin. Udah 4 tahun, dan belum bisa joget yang seragam (pelik banget ini). Emang nggak bisa, ya udah, gue kalau udah cinta mah apa adanya diterima lapang dada. Fans-fans di Teko tadi memang nggak sekesurupan kayak fans yang nonton langsung di San Siro, tapi huru-hara di dalam studio baru gue rasain seumur-umur nonton di bioskop. Ada yang nangis, teriak-teriak, nyebut-nyebut “Ya Allah”, dan kesamaan lain dari dalam stadium San Siro dan Teraskota adalah…muka bapak-bapak yang nemenin. Lempeng.

Panjang bener ini postingan. Sekian aja, takut spoiler juga kalo kebanyakan. Pokoknya kalau Pharrel nanya keadaan hati sekarang, jawabannya udah pasti…HAPPY HAPPY HAPPY HAPPY….

tumblr_n80gezTLqN1rnntmfo1_500

Advertisements

2 thoughts on “One Direction: Where We Are Film

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s