Ayam dan Burung Hantu

Ayam dan burung hantu bertemu di pinggiran hari. Matahari sudah separuh tenggelam, langit berubah oranye, pohon-pohon membuat bayang-bayang sebelum sepenuhnya gelap.

Ayam ingin segera pulang, tapi Si Burung Hantu belum juga datang. Mata Si Ayam sudah berbayang, menunggu Si Burung hantu mengucapkan selamat malam.

“Kamu selalu terburu-buru pulang,” tanya Si Burung Hantu yang baru hinggap di dahan. Kepala bulatnya mengangguk-angguk, matanya menatap ke bawah, ke arah ayam yang sudah gelisah.

“Kamu yang selalu terlambat,” jawab Si Ayam.

“Aku memang selalu tidur di siang hari, aku burung malam.”

“Dan aku tak bisa melihat di malam hari, aku seekor ayam.”

“Aku bisa mengantarmu pulang,” Si Burung hantu terbang ke bawah dan mendarat di depan Si Ayam.

“Tapi aku tak bisa terbang. Bisa kah kamu berjalan saja saat mengantarku?”

“Tak apa jika nanti memakan waktu lama? Kakiku tak sepanjang dan secepat kakimu…” suara Si Burung Hantu meredup. Ia berjalan mendekat, pelan.

“Tak apa. Besok?” Si Ayam melihat Si Burung Hantu mengangguk. Si Ayam balas mengangguk.

“Selamat malam…” ucap Si Burung Hantu sebelum Si Ayam berbalik dan pulang ke habitatnya.

-end-

 

Advertisements

2 thoughts on “Ayam dan Burung Hantu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s