Rumah Kedua

sourch: TheBayBali.com
sourch: TheBayBali.com

Bali is my second home!
Satu setengah jam dari Jakarta. Good view, good foods, good people, good accommodation, good weather of course! Mama besar di Bali, mama dan papa bertemu di Bali dan menikah di sini. I’m standing on heaven.

“Kamu cuma harus bilang ‘I do’” dia mengajariku sambil mengubah tangkai bunga mawar plastik yang dia rampok dari restoran saat makan siangnya yang terlambat. Entah dia berasal dari mana, dia muncul tiba-tiba dari arah belakang. Katanya dia juga izin main ke pinggir pantai ke orang tuanya, yang mungkin masih satu restoran dengan mama papa. Bunganya kuning cerah, berkelopak kecil, dan berdaun lebar.

“Kenapa harus bilang ‘I do’?” aku masih memerhatikan gerak jari-jari putih mulus yang melebihi kulit cokelatku.

“Karena harus! Yahh, kok jadi mirip gelang? Jari sama tangan kamu kurus banget sih?”

Dia mencoba bulatan sebesar pergelangan tanganku di jari manis tangan kiri. Entah untuk apa tujuannya, tapi dia tidak menyerah. Dia membuka bulatan tangkai bunga itu kembali, lalu membulatkan menjadi lingkaran yang lebih kecil.

“Aku pergi dulu, ya! Mamaku udah manggil, kalau ke Bali lagi, nanti aku ke sini buat ketemu kamu.” Dari jauh Mama sudah keluar dari area restoran. Tangannya menggandeng papa sambil melambai ke arahku.

“Kapan ke sini lagi? Tunggu, nama kamu siapa?”

“Irene!”
**
“Kok bisa missed komunikasi? Pihak sana nggak ngabarin kalau tempat udah dibooking orang lain?” aku nyaris menelan karyawanku satu perasatu. Kurasa, Tuhan sedang mencoba membelok-belokan jalan hidupku. Setelah pembatalan pertunangan dari pihak laki-laki—yang nyaris saja membuatku kabur ke luar negeri saking malunya, lalu pembatalan tempat fashion show yang notabene sudah dibooking sejak berbulan lalu.

“Cari tempat lain! Aku bisa gila. Undangan sudah disebar, baju-baju udah siap terbang. Terus tiba-tiba batal. Pokoknya harus ketemu hari ini, two weeks to go! Cari sampai ke pelosok Bali.”

“Mbak..”

Aku menengok ke arah Sashi. Dia mengangkat komputer jinjingnya, menghadapkan monitor ke depan wajahku. Tangan kirinya memegang ponsel, tampak berbicara dengan seseorang.

Look at this,” katanya. Aku menatap lekat foto di monitor, lalu beralih ke Sashi. “de Opera. The Bay Bali, Nusa Dua. How?”

Seems promising.”

“Aku udah telepon langsung ke manajernya barusan. Semakin cepat memutuskan, semakin punya peluang bisa pakai dua minggu dari sekarang. Atau kita bakal keduluan lagi. Yes or no?”

Okay, take it. Hubungi semua undangan, minta maaf, bilang lokasi dipindah. The Bay Bali punya bus atau apa gitu buat jemput pengunjung?”

“Kayaknya ada. Dari informasi temenku sih, di sana lengkap. Buat jamuan makan aja bisa pilih tempat. Ada Bebek Bengil favorit Bu Anne juga.”

Ya, aku juga harus mengajak Mama. Mama sudah lama kangen Bali, terlihat dari mata tuanya. Hanya saja, anak satu-satunya terlalu sibuk mengurusi bahan dan pola sampai lupa pada ibunya sendiri.

“Tapi kayaknya Mbak sendiri yang harus ke sana buat ngecek tempat dan lain-lainnya.” Sashi menebar pandangan ke seluruh ruangan yang masih porak poranda. Ah aku lupa, mereka harus membereskan sepatu dan mengurusi model-model yang super sibuk itu.

“Oke, pesenin tiket ke Bali. Sekarang juga. Biar cepet kelar. Tuhan, kalau ini berjalan lancar, aku janji, aku akan menikah dan punya banyak anak!”

“AMEN!” teriak karyawanku serempak.

Mereka pasti butuh banyak bahan lemburan. Tsk!

**

thumbs_interior-menghadap-laut

Ruangan manager serasa ruang baca milik papa. Rak buku di sisi tembok berisi bermacam-macam judul, jendela kaca lebar yang mengarah ke pantai dibuka sedikit. Membuat udara beraroma laut masuk ke dalam. Bunga segar di vas kaca, sofa nyaman di sudut ruangan. Tapi kosong. Manager sedang makan malam.
Oke, memang aku yang salah waktu. Berangkat sore dari Jakarta ke Denpasar, lalu langsung ke Nusa Dua mencari The Bay Bali. Sebelum ke ruangan manager, aku menyempatkan diri melihat-lihat de Opera yang sepertinya memang harus kujadikan tempatku memamerkan koleksi gaun baruku. Perfect place. Tamuku pasti tidak akan menduga pengalihan tempat akan membawa mereka ke atmosfer baru yang menenangkan di sini. Seperti dugaanku, Bebek Bengil akan jadi tempat perjamuan makan malam. Aku sudah mengintip menunya, juga menghitung kursi-kursi kayu yang bisa menampung banyak tamu. Dan jangan lupa gazebo, dengan udara terbuka. Mama pasti senang melihat tempat ini dan papa di surga pasti iri melihat kami akan bernostalgia.
“Wah, maaf. Sudah lama?”
Dari ambang pintu, lelaki berkemeja biru dengan jeans biru—terlalu kasual kupikir—masuk. Tangannya mengajak bersalaman seperti teman lama baru bersua. Ada keringat di dahinya dan bibirnya merah. Kemungkinan baru melahap sesuatu yang pedas.
“Selamat malam, saya Irene. Maaf datang malam-malam, sepertinya bukan waktu yang pas untuk urusan pekerjaan.”
“Irene?” dia mengernyit, tapi ekspresinya segera berubah biasa. “Oh iya, nggak apa-apa. Silakan duduk. Kebetulan meeting saya juga dicancel semua sore ini, jadi nggak masalah. Sebentar, saya ambil catatan saya dulu.”
Aku ingin ini cepat selesai. Aku juga ingin gerakan badan manager berkacamata itu lebih cepat. Entah apa yang dia cari, tapi ini sungguh membuang-buang waktuku. Sashi bilang, The Bay Bali punya beberapa pilihan tempat makan. Aku baru mengunjungi Bebek Bengil, setelah ini selesai aku harus ke Pirate Bay, kemungkinan bisa ketemu Kapten Jack Sparrow di sana. Sashi sinting. Dan oh my God, Mr Manager, why’d you so slow?
“Saya sudah dengar sedikit dari asisten anda tadi siang. Intinya mau pakai de Opera buat fashion show Anda, begitu?”
Agenda tebal bersampul kulit berwarna hitam diletakkan di atas meja kayu berukir. Di atasnya, dia meletakan bulatan selebar pergelangan anak kecil dengan bunga kuning pudar, mungkin dulunya lebih cerah. Aku pernah melihat benda itu, tapi aku lupa. Pikiranku mulai kurang fokus, aku kenal bunga kuning berkelopak kecil itu.
“Familiar? Waktu saya kecil…” dia bercerita tanpa kuminta. “Saya mencoba membuat cincin dari bunga plastik untuk teman saya, tapi gagal. Pergelangan tangannya kurus sekali, padahal saya sudah ajarin dia bilang…”
I do…”
“Anda masih ingat ternyata. Halo, Irene. Kita ketemu lagi, long time no see…”
**
Anggap saja ini dalam rangka sidak lokasi. Aku dengan beraninya meminta Mr. Manager menemaniku berkeliling. De Opera jelas jadi tempat utama, karena di sana aku akan menetaskan telur-telur yang sudah kuerami bersama karyawan-karyawanku. Sounds wrong, rite? Dan memaksanya makan malam kedua di Pirates Bay. Aku lapar, sejak siang belum sempat masuk sesendok nasi pun. Tapi tidak ada Jack Sparrow di sana!
“Jack Sparrow-nya udah pulang mungkin. Tadi banyak anak-anak di sini, mungkin kecapekan.” Jelas laki-laki berperawakan tinggi itu. Johnny Depp bisa capek juga toh? Haha! Aku juga punya banyak cerita yang harus kusampaikan padanya hingga detik aku bertemu lagi dengannya tadi, sambil menyeretnya ke Hong Xing untuk cari angin. How I miss Bali’s beaches!
“Hong Xing ini bisa dipakai buat acara gede dong, ya?” aku menebar pandangan ke area di sekitarku. cukup lebar untuk dijadikan tempat gathering. Outdoor, menghadap pantai.
“Bisa. Sering dipakai buat acara kok. Kami juga rutin bikin acara kayak pas tahun baru, atau nobar. Gathering kantor, acara pernikahan aja bisa.”
You know? I just can’t believe this. Dua puluh tahun, aku bahkan udah lupa kapan kita ketemu dulu. I just can’t believe that you’re him. Kebetulan?
“Bali rumah kedua kamu, The Bay rumah keduaku. Sepertinya memang udah disetting sama Yang di Atas.” Hidung mancungnya menumpu kacamata dengan sempurna, rambut cokelatnya berantakan disapu angin pantai malam hari. “Aku stay di Bali sebenernya karena udah janji. Dulu pas kamu lari ke mama kamu, aku bilang nggak bakal ninggalin Bali sampai kamu balik lagi ke sini. Kamu pasti nggak percaya berapa peluang dapat kerjaan di luar negeri yang kulewatin. Aku pikir aku udah gila.” Dia mereguk jus di gelas masih sambil menerawang ke arah laut yang sudah menghitam.
“Oh ya? Aku pikir, aku malah nggak akan balik ke Bali lagi. Setelah papa meninggal, mama nggak berani naik pesawat. Fashion show-ku kebanyakan di Jakarta, dan baru kepikiran Bali karena aku ngerasa ada sesuatu di sini. Mama awalnya nolak ikut, tapi akhirnya mau. Aku tahu beliau kangen rumah keduanya.”
Your love life?”
“Berantakan. Bayangkan, tiba-tiba dapet kabar pembatalan pertunangan dari pihak cowok. Nyaris pindah ke negara lain saking malunya.” Aku kadang masih menangis di tengah malam membayangkan nasib buruk ini.
“Turut prihatin.”
How about yours?”
“Nggak ada yang menarik. Aku sibuk ngurusin The Bay. Bali dan makanan enak itu kombinasi maut, sayangnya aku ada di tempat maut itu. In a good way. Beberapa kali deket sama cewek tapi gitu-gitu aja nggak ada kemajuan. Satu-satunya yang ngingetin kalau aku butuh pendamping, ya cuma bunga plastik itu.”
Are you kidding me?”
“Agak cheesy sih, tapi serius. Aku nungguin kamu balik lagi…”
I don’t even know your name, Mr. Manager…”
Well, Williams is my last name. And it will be yours soon…”
**
Dua minggu bukan waktu yang lama. Aku sudah berkoordinasi dengan pihak de Opera tentang tata letak panggung dan kursi tamu. Di bagian luar, dipasang lampion di pohon-pohon dan di sepanjang jembatan yang melintang di atas kolam. Terlihat romantis.
“Aku mau ada lilin-lilin di atas kolam. Bisa?” banyak sekali yang kutulis di daftar yang dikirim ke pihak de Opera. Mau ini, mau itu, tapi tidak ada komplain sama sekali. Dan lilin ini sebenarnya permintaan pribadi antara aku dan teman lamaku.
“Bisa. Nanti aku terusin ke pengurusnya, ya. We’ll do our best. Demi kepuasan pelanggan.”

Dan malam ini. Aku sudah mulai melihat lampion-lampion menyala. Lalu satu persatu lilin diapungkan di atas kolam. Seperti mimpi. Tamu yang datang masih berkeliling melihat-lihat, aku membatu meski telepon dari Sashi sudah berteriak memanggilku untuk kembali ke belakang panggung.
Good luck, mama nanti duduk di bangku paling depan buat kamu.”
Mama muncul di antara model-model yang masih berlalu lalang mengurusi keperluannya. Kemudian Mr. Williams tiba-tiba sudah ada di belakang mama. Senyumnya merekah, tubuhnya dibalut kemeja abu-abu dan jeans—again—membuatnya tidak terlihat seperti manager yang mengurusi The Bay Bali.
“Mama udah keliling-keliling sama temen kamu ini. Tadi diajak lihat sunset, terus nyobain makanan di Bumbu Nusantara. Tapi nggak berani makan banyak-banyak, nanti kan ada acara makan-makan lagi. Tapi kelihatannya enak-enak banget makanannya. Di Balinya bisa lamaan nggak? Mama belum pengin pulang.”
Laki-laki di belakang mama memberi kode dengan mengangkat jempol kanannya. Dua minggu ke belakang kami hanya berhubungan lewat sambungan telepon atau skype. Aku pikir aku tahu kenapa Tuhan menuntunku ke Bali.
“Kata mamamu, mantan tunanganmu juga ada di sini. Aku udah ketemu dia tadi, sempet salaman. Jadi yang kayak begitu yang ninggalin kamu?” ujarnya setelah mama pamit keluar.
“Aku lupa, aku juga ngasih undangan ke dia. Semacam pagelaran gue-bisa-hidup-tanpa-elo gitu. Tapi kok rasanya nyesek gini ya…” kesalahan besar. Pembuktian semacam ini harusnya hanya dilakukan oleh remaja. Bukan wanita yang sebentar lagi berkepala tiga.
Marry me?”
“Sebentar lagi acara mulai, kamu nggak mau duduk di bangku tamu sana? Di sini agak panas.”
“Kenapa selalu menghindar? Aku serius. Aku udah bilang sama mama kamu juga. Di luar mama sama papaku juga udah dateng dari Ubud khusus buat ketemu kamu.”
We don’t know each other, Mr. Williams. How can?”
Let’s try, then. You and me, just the two of us. Dua puluh tahun lalu kamu pergi dengan janji mau balik lagi, sekarang kamu udah di sini, di depanku. Dan kamu tahu? Aku nggak akan ngebiarin kamu pergi lagi. Will you marry me, Irene?”
Mata birunya beralih dari mataku ke saku kemeja. Bulatan kecil dari bunga plastik itu ada di sana, mengingatkanku pada wajah tembemnya dulu. Lugu. Banyak bicara. Dan sekarang setelah bertahun-tahun, dia memintaku menikah dengannya.
“Kamu bisa simpan ini. Aku udah simpan dua puluh tahun, sekarang giliranmu. Dulu aku udah ajarin kamu harus jawab apa, meski aku nggak sempat ngasih pertanyaan.” Bunga kuning kusam itu ada di tanganku, kontras dengan cat kuku merah di jari-jariku. “Sekarang aku udah nanya ‘Will you marry me?’, kamu tahu harus jawab apa…”
“Tapi…”
“Nggak perlu sekarang. Aku sabar nunggu kamu balik ke sini 20 tahun, aku juga pasti sabar nunggu jawaban kamu beberapa tahun ke depan. It is okay, I am okay…”
“Siapa nama depan kamu?” musik di panggung sudah terdengar. Adrenalin yang membuncah tiap kali mengadakan pagelaran meluap-luap, malam ini agak berlebihan. Ini lebih dari biasanya karena di depanku ada pemicunya.
“Louis.”
“Louis, I do…”
Rumah kedua mempertemukan kami.

thumbs_7

-end-

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s