Graha

Aku berusia lima tahun kala itu. Seperti malam tetapi siang, kala itu, di tengah kegembiraan menjelang bulan Ramadan.
Kami semua di dalam rumah. Aku dan ibu. Di luar gelap, belum sepenuhnya, masih sedikit terlihat sisa-sisa petasan yang teman-temanku ledakan. Imlek tahun ini terasa lebih semarak, keturuan Tionghoa bersuka cita menyambut tahun baru, sedang umat muslim bersiap menyambut bulan puasa. Suara petasan dan kembang api menjadi hiburan kami, sementara ibu ribut mencari bahan makanan untuk sahur besok pagi.
“Jangan keluar, bahaya.” Suara ibu menghentikan langkahku di depan pintu. Segera beliau menarikku menjauhi pintu dan kaca, kemudian menutup semua gorden di tiap jendela dengan rol rambut masih memenuhi rambutnya. Aku penasaran.
“Kenapa, Bu? Aku pengin lihat ada apa di luar. Kok gelap?”
“Nggak boleh. Ning njobo, srengengene lagi dicaplok Graha.(1)
“Graha itu apa, Bu?”
“Graha ya Graha.”
Aku nekat keluar, ingin melihat Graha dan matahari yang ditelannya. Dan lingkaran hitam itu, adalah hal terakhir yang kuingat sebelum kegelapan menjadi kawanku sampai sekarang.

source: google image
source: google image / gerhana matahari total 1983

(1). Di luar, matahari sedang dilahap Graha. (Graha adalah mitos dan istilah ini biasa dipakai orang tua untuk menakut-nakuti anak-anak. kebenaran mitos bisa ditanyakan pada orang tua masing-masing)

Advertisements

2 thoughts on “Graha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s