Reborn

Kami kakak beradik yang sama-sama diadopsi. Dua laki-laki berusia awal dua puluhan yang tidak terlalu dekat. Mungkin aku yang tidak ingin mengenalnya.

Dia terlalu sempurna. Pintar, tampan, mudah bergaul, beda denganku yang lebih suka berdiam di kamar. Mom dan Dad sepertinya juga sudah malas berbasa-basi, aku tidak seekspresif saudaraku dalam menanggapi obrolan atau pertanyaan.

Tapi dua hari ini dia menghilang. Mom sudah melaporkan ke polisi, Dad menghubungi semua temannya. Nihil. Aku berpura-pura peduli, toh satu-satunya sainganku di keluarga ini menghilang. Aku harusnya bersenang-senang, atau memeluk Jenn, kekasih saudaraku. Di malam kedua hilangnya saudaraku, aku mencoba menemuinya. Tapi dia menolakku seperti anjing bervirus, mata sembabnya menatapku curiga sebelum membanting daun pintu.

Aku memacu mobilku dalam kegelapan menuju rumah tua di dekat dermaga. Aku sudah menyiapkan alat bedah, dan cairan kimia yang kubeli tadi siang.

“Aku akan menemuimu setelah lukaku kering, Sayang.” ponsel saudaraku kumatikan lagi. Aku tak mau diganggu, aku takut kulit wajah si tampan ini rusak sebelum kugunakan menemui kekasihnya.

Advertisements

3 thoughts on “Reborn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s