Sleepwalker

Ketika membuka mata, aku sudah berhadapan dengan mereka. Badannya bersisik meliuk-liuk di udara, sementara langit gelap dengan kilat menyambar di puncak bukit.

Aku bangkit. Naga-naga itu menatapku dengan mata merah. Kalah telak, di pingganggu sudah tidak ada pedang atau selongsongnya. Saat naga bertanduk satu mendekat, ada kilau keemasan di bawah bebatuan di belakang ekornya. Pedangku. Moncong naga itu nyaris menabrak kepala, aku menunduk lalu berguling mencari celah. Naga bertanduk rusa mengejarku, ekornya menghantam perut yang justru memudahkanku meraih pedang.

Naga bermata merah lainnya menyerang bak peluru, mulutnya menganga memperlihatkan taring berliur. Pedangku menyala keemasan, mengangkatku ke udara. Dengan sekali tebas, aku sudah memisahkan kepala dengan badannya.

Dua naga lainnya menyerang dari belakang. Mereka membelitku kencang sampai napasku nyaris habis. Salah satunya menatapku tajam.

“Wake up!” serunya dengan suara menggelegar penuh amarah.

Aku membuka mata. Anne dan Josh memelukku sembari menangis, di tanganku ada parang yang kami gunakan untuk membuka jalan pendakian. Di sampingku, ada tubuh tanpa kepala terkapar penuh darah.

Advertisements

One thought on “Sleepwalker

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s