Review: Pasung Jiwa

Image

Dilihat dari judul, ini novel yang nggak biasa. Mengambil tema berani, dengan isi yang kompleks, Pasung Jiwa sepertinya pantas mendapat banyak jempol. Saya dibuat pusing dengan konflik yang bertumpuk-tumpuk, tapi tetap rapi.

  1. First Impression. Cover dan judulnya pas. Pertama liat gue pikir bakal berat banget, dan ternyata isinya memang berat. Bagi yang biasa baca romance, ini jadi pekerjaan rumah sendiri buat beradaptasi. Meski sebelum baca ini gue baca Pintu-nya Fira Basuki, tapi tetep gue kaget. Almost perfect! Karena kata Bunda Dorce, kesempurnaan hanya milik Allah.
  2. How Did You Experience This Book?
    Dari awal udah disuguhi konflik. Ini buku kedua yang gue baca, sekitar lima tahun yang lalu gue baca novel dengan tema yang hampir sama. Judulnya lupa, dan tokohnya justru perempuan. Dibandingkan novel yang dulu, Pasung Jiwa lebih punya banyak konflik, nggak ada romance menye-menye. Jangankan ditambahin kisah cinta, tanpa itu pun masalahnya udah berjejalan. Lima tahun lalu gue agak kaget baca tema yang nggak biasa, meski masih terhitung lebih halus. Kali ini gue ikut larut. Mungkin karena pikiran udah lebih terbuka, atau mungkin karena umurnya udah agak dewasa. *agak dewasa*
  3. Characters?
    Sasana adalah wujud nyata. Okky Madasari benar-benar bikin gue ikut masuk ke dalam karakter Sasana, dan juga Sasa. Kenekatan, kerapuhan, kesedihan, kemarahan dapat dengan gampang dirasakan. Jaka Wani sama dengan namanya, berani. Berani ambil risiko, pinter ngomong jadi nggak heran kalau dia bisa jadi pemimpin. Kemampuan ‘ngompor-ngompori’ jadi dua mata pisau buat dirinya sendiri.
  4. Plot. Alurnya maju, ditulis rapi di tiap bagian atau pun tahun dengan menyertakan peristiwa-peristiwa yang udah sering didengar tapi dikemas dengan apik.
  5. POV. Ditulis dari sudut pandang orang pertama, yaitu sasana dan Jaka Wani. Meskipun dua tokoh, tapi perbedaan bagian-bagian dari keduanya ditulis jelas. Jaka Wani dengan banyak menggunakan Bahasa Jawa, dan Sasana yang penulisan narasinya lebih halus.
  6. Main Idea. Temanya nggak jauh dari judulnya, Pasung Jiwa. Jiwa yang terperangkap, meski nggak disebutkan dia terperangkap di badan yang salah (CMIIW). Di dalamnya banyak menuliskan keterkurungan, ketidakbebasan. Entah pendapat, pilihan hidup, kesetaraan hak.
  7. Quotes. –
  8. Ending. Endingnya nggak ketebak. Gue pikir bakal ada pertumpahan darah lagi, meski kecil banget kemungkinannya. Thanks udah dikasih happy ending, tough it isn’t really an ending selama Sasana maish bisa menuliskan dan melanjutkan ceritanya.
  9. Question. Yang pertama selalu gue pengin tahu narasumbernya siapa? Gimana cara switch tokoh dari Sasa, Sasana, lalu Jaka Wani? Berpindah dari satu tokoh ke tokoh lain dengan menggunakan POV 1 pasti bukan hal yang mudah. Ada waktu tenang kah saat harus pindah karakter? Berapa lama?
  10. Benefits. Membuka pikiran lebih luas lagi. Dengan baca novel bertema seperti ini, memungkinkan pembaca lebih mengerti dan menghargai orang-orang seperti Sasana. Semua orang punya hati dan perasaan, kan?
Advertisements

2 thoughts on “Review: Pasung Jiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s