First Letter

Dona memerhatikan pisau yang baru selesai diasah, setelah berulang kali mengasahnya. Ujung matanya lancip, lalu memanjang sampai gagang yang terbuat dari kayu berukir-ukir. Sekilas, pisau itu hanya pisau biasa. Pisau dapur? Mungkin. Pisau buah? Bisa.

Ibunya tak pernah melarang Dona belajar membuat benda-benda yang ayahnya buat. Sebagai pandai besi, ayahnya memang selalu mengerjakan pekerjaan berat hampir sepanjang usianya hingga ayahnya meninggal karena celurit buatannya sendiri.

Erangan ayahnya sebelum meninggal begitu membekas di otak Dona. Setelah tanah kuburan kering, Dona melanjutkan pekerjaan ayahnya dengan penuh amarah. Rumah kecil di halaman belakang sudah porak-poranda, seperti perasaannya.

Yang Maha Kuasa sudah mencabut nyawa Si Kepala Keluarga. Kata orang, Dia yang menentukan maut manusia, bukan? Tapi bagaimana jika manusia lain yang ternyata mendahului kehendak-Nya?

Orang itu masih hidup dengan bahagia bersama keluarga lengkapnya. Dengan tawa, dan uang yang melimpah.

Untuk melegakan hatinya dari kemarahan, Dona tahu harus melakukan apa. Dona tahu harus pergi ke mana, dan dia tahu pisaunya harus ditancapkan di mana.

*) First letter in every paragraph. Got it?

Advertisements

9 thoughts on “First Letter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s