Di Bawah Lemari

Dia berdiri di sebelah ranjangku. Jam di dinding sudah menunjukan pukul dua dini hari, dan dia masih belum mau pergi.

“Mau apa lagi? Kamu datang tiap malam cuma untuk menggangguku?”

“Kenapa kamu membunuhku? Bukankah kamu mencintaiku?”

“Tapi kamu tidak mencintaiku.” Kupalingkan wajah dari sosok itu. Wajahnya kadang terlihat sedih, kadang marah, kadang murung. Tiap aku pulang dari rumah sakit, dia sudah menungguku di kamar. Berdiri di pojokan atau di dekat jendela. Pertanyaannya selalu sama, dan meski sudah terbiasa dengan hal seperti ini, aku mulai merasa terganggu. Dia bukan dia yang dulu.

“Kamu memberikan hatimu untuk orang lain,” kutatap lagi wajah pucatnya. Dia menggeleng, terus menggeleng.

“Kamu bilang hatimu cuma untukku, tapi kamu memberikannya untuk orang lain.” Aku ingat dia mengatakannya, kemudian ingatanku terlempar ke ruang operasi malam itu.

“Aku hanya mendonorkan hatiku sedikit…”

“Kamu memberikan hatimu pada orang lain, maka aku ambil jantungmu sebagai pengganti!” seruku.

“Posesif!”

Kulirik bagian bawah lemari di belakang kakinya yang melayang. Aku menang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s