Kedua Kalinya

Image

Jalanan sudah mulai sepi kendaraan meski baru pukul empat. Kendaraan satpol PP berjejer di beberapa tempat untuk menertibkan orang-orang yang akan merayakan tahun baru di pusat kota. Sudah dua kali ini tiap pergantian tahun jalanan Sudirman-Thamrin digunakan untuk pesta rakyat yang digalakan gubernur baru. Hasilnya, masyarakat tumpah ruah. Jika dilihat dari udara, akan tampak seperti konser yang diselenggarakan di ancol atau gelora bung karno. Bedanya ini gratis, benar-benar untuk rakyat.

Tapi kerumunan itu menyulitkanku, lagi. Tahun lalu aku bertemu dengannya di trotoar depan plaza Indonesia sedang merokok. Ciri-cirinya sama dengan yang ada di mimpiku selama bermalam-malam. Rambutnya berwarna cokelat agak keriting, matanya tajam karena alis yang tebal. Kulitnya putih bersih, kali itu dia mengenakan vest yang memeluk erat kemeja putih di tubuhnya dan celana bahan abu-abu. Terlalu formal untuk datang ke acara rakyat yang harus merhimpit-himpitan.

“Boleh pinjem korek?” aku memberanikan diri. Badannya yang tinggi membuatku mendongak untuk bisa melihat wajahnya di bawah penerangan lampu jalan.

Dia menggigit rokoknya, lalu melontarkan senyuman. Tangannya merogoh saku celana bahannya yang pas dengan kaki panjangnya. “Korek beli di pedagang asongan gini, ya, bisa nyelip-nyelip di tempat sempit kayak Abangnya.”

Celanamu yang kesempitan, batinku. Dia susah payah mengeluarkan korek berwarna ungu dan menyodorkannya ke hadapanku. Aku mengambilnya ragu. Di tangan kiriku sudah ada rokok putih yang biasa aku lihat dibeli oleh teman-teman perempuanku. Mereka bilang rasanya enak, mirip mint. Maka aku juga membelinya di minimarket depan Menara BCA sebelum berbelok ke Bundaran Hotel Indonesia. Aku mengikuti semua langkah demi langkah menuju laki-laki ini seperti di dalam mimpi. Dia tidak datang sekali, rasa penasaran membuatku ingin menuliskannya lalu mematuhi semua isinya. Kupikir ini aneh, tapi setelah menemukan laki-laki ini, aku merasa semua sudah kehendak.

“Kalau belum ngerokok, mending nggak usah nyoba-nyoba. Ntar keterusan.”

Aku melotot ke arahnya. Kaget. Tanganku memang gemetaran, bahkan rokokku masih belum dinyalakan juga meski keduanya sudah saling berhadapan. Aku hanya ingin mematuhi mimpi.

“Nyoba sekali. Mau tahu rasanya kayak apa, temen-temenku bilang sih enak. Rasa mint. Apalagi kalau lagi butuh inspirasi, atau lagi stress, mereka kayak lomba banyak-banyakan ngerokok. Keren!”

Dia menyeringai. Korek dan rokok di tanganku diambil, kemudian dinyalakan hanya mungkin dua detik. Asap putih menari-nari di udara, menantangku untuk menghirupnya seperti tatapan mengejek laki-laki di hadapanku. Aku hanya harus menghisapnya sekali untuk memenuhi tuntutan mimpi. Sekali.

Panggung-panggung sudah dikerumuni banyak manusia, dan mungkin jin-jin penunggu Patung Selamat Datang. Musik terdengar dari yang samar, sampai yang sangat kencang di panggung terdekat kami. Aku hanya menghisap rokokku sekali. Bukan karena di dalam mimpi aku melakukan hal yang sama, melainkan karena tenggorokanku tersedak asap hingga terbatuk-batuk. Hidungku panas, mataku berair menahan rasa pedih di leher. Di mimpiku tidak seperti ini.

“Ternyata nggak enak,” gumamku. Dia mengangguk-angguk. “Mas-nya mau ngisi panggung, ya? Kok rapi banget?”

“Bukan. Kayak kata temen kamu, aku ngerokok juga karena lagi stress. Nyari inspirasi.”

“Nah kan, Mas-nya musisi. Musisi kalo stress juga biasanya karena mau bikin lagu, makanya nyari inspirasi di luar. Ngomong-ngomong, genre musiknya apa? Kira-kira di tempat ramai kayak gini, enaknya dibikin judul apa?”

“Pelarian.”

“Mas-nya musisi atau penulis? Itu lebih mirip judul cerpen.”

“Oh ya?”

Aku menengok ke sebelahku. Dia menahan tawa, bibirnya terkatup rapat, dan dadanya bergetar-getar kecil. Kalau musik dari panggung tidak sekencang itu, mungkin aku bisa mendengar dia cekikikan.

“Kalau mau ketawa, ketawa aja, Mas. Mas-nya jadi mirip Pak Raden, kurang kumis sama blankon doang.”

Lalu dia terbahak-bahak. Suaranya lantang menembus nyanyian mendayu-dayu dari panggung. Kepalanya menengadah, tangannya sesekali memegangi dada sebelum dia tersedak dan terbatuk-batuk. Aku membiarkannya tertawa sampai puas, sampai dia lelah dan terdiam kembali seperti saat aku menemukannya berdiri sendirian.

“Thank’s udah bikin aku ketawa. Kayaknya aku udah dapet inspirasi.”

Dan dia beranjak meninggalkanku sendirian di tengah hiruk pikuk warga Jakarta. Aku lupa menanyakan namanya yang menjadi to do list terakhir dari mimpiku. Sial!

Setahun berlalu. Mimpi itu kembali menghantui sejak sebelum Desember. Aku berlari-larian membawa rokok berbungkus putih di kawasan Kota Tua. Entah kenapa mimpiku di awali di area kuno itu. Bangunan-bangunan jaman peninggalan penjajah tidak berlumut, dan tertata rapi. Ada kafe-kafe dengan kursi mengelilingi meja bulat yang berpayung lebar. Hari senja, jadi lampu-lampu kuno sudah dinyalakan meski tidak ada satupun orang di sana. Hanya aku, mencari sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa dan di mana.

Kemudian bus warna oranye menarik perhatianku. Kujajaki jalan penghubung cepat-cepat, lalu menempelkan kartu dari kantungku ke mesin berpalang yang bergerak setelah lampu hijau menyala. Bus itu kosong, tapi berjalan dan aku tidak ketakutan. Melewati Monas, lidah apinya bersinar keemasan, sedang tiangnya disorot lampu berwarna ungu. Lalu Stasiun Gambir, terlihat asri, entah karena dominan warna hijaunya atau banyak pohon yang tumbuh di sepanjang jalan. Aku berharap bisa berlama-lama di depan patung kuda. Di sini lah tempat yang menjadi patokan untuk berputar ke kantorku saat pertama kali datang ke Jakarta.

“Muter balik setelah patung kuda,” seru temanku dari telepon saat itu. Dia bekerja di satu bank di jalan Thamrin yang kini sudah pindah ke Asia-Afrika. Interview pertama kali dan langsung diterima, lucky me!.

Bus itu melambat seolah tahu isi pikiranku. Kemudian berjalan normal kembali setelah batinku berkata “cukup.” Kalau tahu saat itu sedang mimpi, aku pasti memerintahkan bus itu agar terbang ke London. Jauh di dalam diriku, aku adalah Kate Middelton. Oke, kalau kalian tidak setuju, biarkan aku menjadi Pangeran William.

Bus oranye mulai memasuki jalan Thamrin. Setelah gedung Sarinah yang mungkin sudah setua Obama, adalah kantor lamaku. Tiga tahun di lantai 8, bolak-balik jembatan penyebrangan di depan mall EX yang menguras kantung. Aku suka belanja, dan kadang lupa belanja. Lupa belanja apa, tahu-tahu sudah membawa kantung dari toko baju atau sepatu. Dan bus pun berhenti di halte Hotel Indonesia. Berbeda dengan halte di kota, halte di sini berpenghuni. Beberapa bergerombol di pintu, beberapa lagi mengantre untuk scan kartu masing-masing.

Ada dorongan yang membuatku berlari ke depan Plaza Indonesia. Ke trotoar yang dulu pernah sekali kujadikan tempat menemukan seseorang karena petunjuk mimpi. Tapi kosong, tidak ada satu orang pun di sana.

Mimpi itu menggangguku. Tanpa menuliskan step by step agar aku bisa sampai ke titik itu, aku mulai perjalananku dari rumah di kawasan Cilandak. Mobil kutitipkan di Blok M dengan berat hati, karena naluri perempuanku mengajak masuk ke dalam untuk melihta-lihat. Aku tahu, melihat-lihat saat masuk artinya adalah membawa kantung belanja saat keluar. Aku hafal sifatku. Jadi aku langsung menanjaki tangga ke halte dan menduduki kursi yang paling dekat dengan pintu. Transjakarta berjalan pelan, padahal di dalam hati aku sudah berteriak “Jalan, cepat!” seperti di dalam mimpi. Aku tidak sendirian, ingatku dalam hati saat menyadari adanya penumpang lain. Halte demi halte mulai dilewati, jalanan sudar netral dari kendaraan bermotor. Aku turun di halte Tosari,mampir ke minimarket untuk membeli rokok berbungkus putih seperti setahun lalu, dan seperti yang ada di dalam mimpi. Setengah bersorak karena jalan yang biasanya ramai bisa dipakai untuk tidur tanpa takut mati, setengahnya lagi terengah-engah mendapati diri masih berjalan cepat menuju depan plaza Indonesia. Hidup mungkin akan lebih mudah kalau ada ojeg gendong. Masih jauh. Tolong, aku mau digendong saja…

Gerombolan anak muda menghalangi jalanku, entah mereka sedang apa. Yang pasti saat aku lewat di depan mereka yang membelakangi Patung Selamat Datang, ada yang berseru “Mbak, lagi foto mbak, jangan ngalangin.” Aku tak acuh, mereka yang menghalangi jalanku kok aku yang kena marah?

Langit belum sepenuhnya gelap, tapi lampu-lampu jalan dan gedung sudah menyala. Mungkin mereka yang apes harus lembur saat malam pergantian tahun, atau mereka yang memilih bekerja untuk lari dari rumah seperti yang kadang kulakukan. Sekarang aku sedang mencoba lari dari mimpi, membuatnya nyata dengan menemukan laki-laki di trotoar depan plaza Indonesia. Mungkin dia juga manggung di tahun ini, aku sendiri belum tahu siapa dia, bahkan namanya.

Tapi kosong.

Di tengah gegap gempita orang-orang yang akan merayakan tahun baru, trotoar itu kosong. Tidak ada siapa-siapa. Rasanya seperti melepas beban di bahu. Plong. Rasa penasaran terbayar oleh jawaban yang pasti akan menggantung kalau aku tidak datang melihatnya sendiri. Sedikit kecewa, karena bayangan laki-laki berpakaian rapi dan berambut keriting menarik perhatianku sejak dari dalam mimpi. Dia tampan, dan senyumnya manis. Tertawanya lantang mengalahkan keramaian di sekitar.

Terompet-terompet bersahut-sahutan. Masih terlalu jauh dari tengah malam. Anak-anak kecil ini pastilah sudah kehabisan napas kalau terus meniup dari sekarang. Mimpi harusnya memang jadi sekadar mimpi. Tak perlu diseriusi, apalagi diharapkan benar-benar menjadi nyata. Mungkin mimpiku diperbolehkan keluar dari kepala sekali, namun kehendak yang dulu pernah kusebutkan, juga bukan kuasaku. Tidak ada lain kali, seperti kesempatan yang datangnya tak pernah dua kali. Kesempatan kedua adalah kesempatan pertama yang datang pada orang yang sama. Kedua, karena dia pernah mengalamainya, atau kedua karena dia ingin merasa beruntung mendapatkannya kembali. Right man in the right place.

“Korek?”

Korek kuningan menyala dengan api yang menari ke kanan dan kekiri, muncul di hadapanku. Koreknya mahal, kalau itu milikku pastilah sudah kupasangi rantai yang terhubung dengan tali bra. Tangan pemegang korek itu putih bersih, dengan kemeja kotak-kotak hitam yang menutupi siku sampai ke atas. Aku menengok ke sebelah kiri, memastikan tangan itu bertuan.

“Aku mimpi, aku ada di sini lagi kayak tahun lalu. Bareng orang yang sama,” katanya.

Aku melongo. Rambutnya dipotong pendek nyaris pelontos. Hanya tersisa mungkin satu atau dua senti, memperlihatkan dahinya yang lebar, dan mempermudahku menatap matanya yang tajam. This is him.

“Kamu mimpi itu juga?” tanyaku antusias. Kekagetanku belum selesai, namun aku ingin sekali keanehan ini bukan milikku seorang. Aku butuh orang lain untuk diajak aneh bersama!

“Enggak. Aku bercanda.” Lalu dia terbahak kencang sekali, seperti dulu ketika aku bilang dia mirip Pak Raden. Resmi, aku aneh sendirian.

“Terus kenapa bisa sampai ke sini? Mau manggung lagi? Apa mau cari inspirasi?”

“Mau tahun baruan, dong. Aneh kamu.”

Dia tidak merokok, tapi aku tahu dia masih merokok. Koreknya bukan aksesoris. Aku kehilangan topik pembicaraan, harusnya aku sudah lega karena mimpiku mengantarkan pada kenyataan yang berbeda. Tapi kedatangannya yang tiba-tiba, membuatku percaya kalau mimpi adalah bagian dari kenyataan. Entah itu sudah dilewati atau yang ada di depan. Tapi ingatkan aku agar mimpi tidak kujadikan berhala yang selalu kusembah, atau kujadikan patokan saat menentukan pilihan. Kalau terlanjur, jangan biarkan aku ikut judi togel. Bandar togel tak pernah terdengar semenggurkan ini sebelumnya. Aku bisa kaya raya!

“Jadi kamu udah resmi jadi perokok?”

Dia mengamati bungkus rokok di tanganku. Aku menyembunyikannya di bawah kaki, lalu memperbaiki posisi lesehan di atas trotoar. Nasi kucing, tolong, aku lapar…

“Enggak. Biar keren aja bawa-bawa rokok, biar bisa berbagi kalau ada orang yang pengin ngerokok tapi cuma punya korek.”

Dia tersenyum lagi. How cute. Setahun berlalu, namun aku merasa dia baru meninggalkanku sendirian di sini kemarin untuk memotong rambut dan beli korek mahal. Lalu dia kembali lagi, merasa bersalah karena sudah meninggalkan wanita sendirian di trotoar.

“Aku udah nggak ngerokok. Korek ini memang korek yang selalu aku bawa. Punya almarhum papa.”

“Ohh…”

“Dulu kupikir ngerokok emang keren, tapi sekarang udah enggak. Kamu tahu kenapa?”

“Karena papa kamu meninggal gara-gara rokok?”

“Sok tau!” serunya, aku setengah penasaran dan setengah ingin menendang kakinya. “Karena ini…”

Aku melihat layar ponsel yang menyala, terang sekali. Ponsel layar sentuh memperlihatkan seluruh badan dari wanita yang sedang berbaring di ruangan bertembok putih. Bibirnya tersenyum bahagia, matanya berbinar-binar melihat layar monitor hitam putih di atas kepalanya. Ada seorang dokter, dia memegang alat yang ditempelkan di perut wanita tadi.

“Ini istri, dan yang hitam putih itu, calon anakku.”

Apa? Isitri dan calon anak? Jadi kamu papa-papa muda?

“Wah, istri kamu cantik yah.” Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku turut berbahagia atas kebahagiaannya, dan harusnya dia turut bersedih karena kesedihanku. “Udah berapa bulan?” that is a stupid question.

“ini foto pas masih lima bulan, sekarang udah sembilan. Tinggal nunggu kapan lahirannya.”

Wah, kamu tinggal menghitung hari dong jadi papa-papa muda?

“Wah, cewek apa cowok?” another stupid question.

“Cewek. Aku baru aja nih ambil pesenan tempat tidur bayi. Mobinya kuparkir di Blok M, tapi entah kenapa pengin banget ke sini. Sebelum punya anak, mungkin tahun depan udah nggak bisa lagi.”

“Aku pikir kamu mau manggung kayak tahun lalu. Nggak serapi dulu sih, tapi ya lumayan…”

Mari ubah topik pembicaraan. Semakin dia membahas keluarganya, semakin patah arang aku karena harapanku yang terlalu tinggi. Aku hampir menjadikan mimpiku sebagai berhala, atau patokan judi togel. Tapi setelah ini, aku tidak akan percaya apa-apa lagi mengenai mimpi. Masa bodoh mimpi itu datang puluhan kali, aku akan anggap semua adalah kebetulan.

“Tahun lalu aku juga nggak manggung. Aku ke sini justru karena lari dari acara tunanganku dengan istriku yang sekarang. Aku merasa belum siap, tapi dia sudah mendesak ingin dinikahi. Dengan setengah hati, aku berniat mengikatnya dengan cincin pertunangan, tapi pas hari H, aku malah ragu dan kabur ke sini.”

“Pengecut,” aku keceplosan. “Maksudku, kalau kamu nggak yakin ya nggak usah tunangan dan maksa diri sendiri gitu. Kamu lari, lari dari keluargamu dan calon tunanganmu. Hadapi lah.”

Dia tersenyum lagi. “Pulang dari sini aku dihadang calon tunanganku di teras. Dia nangis ngira aku nggak bakal jadiin acara itu sampai mukanya cemang-cemong. Make up-nya rusak hahaha…”

Tidak ada penyesalan di wajahnya. Dia sudah mengambil keputusan yang benar, dan aku sudah menyia-nyiakan waktu untuk memimpikannya. Juga waktu untuk mengejarnya ke sini.

“Thanks to you…”

“Buat?” aku memperbaiki posisi dudukku yang bersila, dan masih lesehan. Aku juga masih berharap ada nasi kucing yang dibagi-bagikan gratis, aku lapar…

“Kamu mirip dia. Ketawanya, cara bercandanya, sok taunya…”

“Di dalam tubuhku, hidup jiwa Kate Middelton…”

Dia tertawa. Aku kembali ditertawakan oleh kalimat yang juga sudah puluhan kali menjadi bahan tertawaan. Kalimat kedua juga akan bernasib sama.

“Oke, aku punya jiwa Pangeran William.”

Ditertawakan. Aku memuja Inggris setingkat di bawah puja-pujiku pada Indonesia. Inggris adalah tempat laki-laki beraksen seksi tinggal, rumah para actor dan penyanyi hebat, Inggris menjadi gudang bintang sepak bola, Inggris budayanya masih kental, dan Inggris memiliki One Direction. Itu yang paling penting.

“Kamu terlalu mirip istriku.” Dia masih tertawa saat mengatakannya. Aku masih ingin nasi kucing gratis.

“Terus kalau aku mirip istri kamu, kenapa? Kamu nggak niat buat nikahin aku juga kan?” gurauku setengah bercanda, setengahnya serius. Serius.

“Tahun lalu, aku kayak hilang akal. Aku kabur dari rumah, dengan kostum tunanganku, kamu ingat? Terus ngerokok sendirian di sini, nunggu tahun baru. Enggak, mungkin nunggu orang-orang dirumah bosen dan bubar sendiri. Jadi pecundang.”

Celana bahan dan vest abu-abu. Memang terlalu formal untuk manggung di acara rakyat seperti ini. Bodohnya aku dulu.

“Terus ketemu kamu, nanyain korek. Sok-sok mau ngerokok padahal megang korek aja gemeteran. Terus batuk-batuk sampai nangis.”

“Kok kamu masih inget? Aku aja udah lupa.” Bohong. Aku bahkan masih ingat rasa pedih di tenggorokan dan hidungku.

“Istriku pernah iseng nyoba minum vodka punya temen pas kami ramai-ramai main ke club. Kayak kamu juga, minum sedikit udah batuk-batuk, terus minta pulang. Dia bilang dia mabuk, tapi aku nggak yakin. Jalan pake heels 12 senti aja masih lurus.”

“Kerennya sama.”

“Keren dan sok tahu beda tipis buatku. Aku jadi inget dia, ngerasa bersalah karena udah kabur, terus pulang, dan sebulan setelahnya kami nikah. Aku udah yakin sama dia.”

“Bagus!” aku menepuk bahunya. Bentuk solidaritas antar cowok yang biasanya teman kantor lakukan, aku cukup jantan karena tidak lari dari hadapan laki-laki ini sambil menangis. Meskipun sebenarnya aku ingin menangis. Laki-laki baik selalu sudah ada yang memiliki. Wanita baik-baik selalu menemukan laki-laki berisitri sebagai ujian. Iya, ini pembelaan diri.

“Jadi, setelah setahun, siapa namamu?” Tanyanya dengan wajah berbunga-bunga. Aku jadi tidak tega bersedih di dalam kebahagiaannya.

“Kate Middelton.”

“Kenapa kamu nggak nyebut Pangeran William?”

“Aku Riza, Oriza Sativa.”

“Padi? Kamu terlalu mirip istriku, astaga!”

“Kenapa? Namanya sama? Kami anak kembar?”

“Dia pengin namain anakku nama itu. Demi Tuhan. Setelah ini, confirm aku pasti protes sama dia. How can?”

Terlalu banyak kebetulan di sini. Aku kebetulan bertemu dia dua kali di tempat yang sama. Aku mirip istrinya, namaku mirip nama calon anaknya. Entah, mungkin setelah ini mertuanya mirip mamaku. Kalau iya, dia harus punya saudara kembar yang siap menikahiku.

“Terus, kamu? siapa namamu? Jangan bilang namamu Amoeba.” Kelakarku. Aku sudah cukup aneh mamandang namaku. Mama bilang, namaku adalah nama yang paling tidak pasaran. Tapi mama tidak sadar kalau namaku banyak di pasar. Atau di sawah, dan tempat penggilingan. Aku diharapkan mempunyai sifat padi, semakin tua semakin merunduk. Untungnya, mama tidak berpikir agar anaknya semakin tua semakin menjadi, karena namaku pastilah Keladi: makin tua makin jadi. Thank’s Mom, you’re my hero!

“Aku Anggara. Keren kan?”

“Sama kayak nama kucing peliharaan tetanggaku.”

Kesempatan kedua kadang bukan benar-benar yang kedua. Mungkin yang pertama, namun memang karena datangnya pada orang yang sama. Kesempatan pertamaku mengenal Anggara sudah lewat, thank God aku meninggalkan kesan yang baik. Kala itu aku tidak mengharapkan hal muluk seperti sebelum aku berangkat ke sini tadi sore, aku hanya ingin tahu namanya. Orang yang berkali-kali masuk ke mimpiku, ternyata ada. Ada di depanku, bisa berbicara, bahkan tertawa kencang di tengah pelik yang sedang dia hadapi. Kesempatan pertamaku hanya memberiku bayangan sebatas itu, tidak lebih.

Sampai Desember setahun kemudian, aku mengejarnya lagi dalam mimpi. Kali ini samar, ketika kudatangi pun dia tidak ada. Sama seperti tadi, sampai akhirnya aku melamun sendirian di trotoar. Garis startku bukan dari Grand Indonesia seperti tahun lalu, yang juga mengawali langkahku di alam nyata sampai menemukannya. Aku mengawali mimpi dan kenyataan dari arah yang berlawanan. Aku mencarinya juga dengan niat yang berbeda. Kesempatan keduaku sudah kudapatkan. Bertemu dia kembali, berbincang, tertawa, saling menyebutkan nama. Tapi kali ini, aku patah hati. Kesempatan keduaku memberi pengalaman, yang tidak sempat kurasakan di kesempatan pertama. Ini hanya pengulangan, atau mungkin, ini adalah rangkaian cerita berseri. Bukan mengenai kesempatan yang ke berapa, melainkan tantang bisa sejauh apa.

Ini terlalu emosional, mungkin karena aku butuh makan. Nasi kucing, tolong…

“Mungkin karena kamu mirip istriku, aku jadi nyaman-nyaman aja ngobrol sama kamu gini. Kalau bukan, aku pasti udah nyangka kamu copet atau rampok. Cewek cantik nggak menjamin hatinya cantik.”

“Udah kubilang, aku Kate Middelton. Kalau nggak yakin, ya anggap aja aku pangeran William.” Aku menyerah pada perasaan campur aduk sedih dan senang. Aku mengalah. Aku harus berbahagia juga karena orang asing di depanku sedang bahagia. Entah dari mana datangnya, tidak peduli juga kalau dia termasuk jin penunggu jalan Thamrin. Aku ikut bahagia.

Kembang api meledak di langit hitam bersamaan. Kami sama-sama menengadah, menyaksikan ritual tahun baru yang tiap tahun tidak pernah dilewatkan. Tetap menjadi magnet para pengunjung, sorak sorai dan tiupan terompet menambah ramai bundaran HI malam ini. Kupastikan, terompet itu bukan lah terompet anak-anak yang sejak sore mondar-mandir di depanku.

“selamat tahun baru, Riza…”

“selamat tahun baru juga, Anggara. Selamat menjadi ayah…”

Dia tersenyum sambil mengangguk sekali. Aku jatuh cinta lagi, dan sedetik kemudian, aku patah hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s