Kenangan

Gema di kepalaku mengetuk-ngetuk dinding sel otak dan ribuan lainnya. Melompat ke sana dan kemari, membisikan kalimat-kalimat yang sudah basi.

Tidak ada bukit berumput dan langit luas di atasnya. Hanya balkon kamarnya yang menghadap lapangan sepak bola. Dia mengehentikan pekerjaannya yang sudah ditekuninya dari pukul tujuh sore tadi, lalu keluar kamar dan masuk membawa dua cangkir besar cokelat panas.

“Harusnya ada tiramisu kesukaanmu atau choc-cheese kesukaanku,” bilangnya sambil meletakan cangkirku di sebelah kaki kananku.

Lantai marmer kamarnya mungkin seluas lantai ruang tamu rumahku, yang pasti, jauh lebih mahal, dan jauh lebih nyaman saat aku melantai sambil bekerja. Kamarnya hanya berisi kingbed, lemari kayu berukir-ukir sepanjang satu sisi tembok, satu meja kerja, dan satu rak buku. Terlalu rapi untuk ukuran kamar laki-laki usia akhir 20an. Ada poster club bola Inter milan di salah satu dindingnya, kontras dengan foto keluarga di dinding lainnya. Di sana dia mengenakan beskap hitam, kain batik yang senada dengan blangkon, dan selop hitam. Masih kecil, mungkin baru berusia lima atau enam tahun, wajahnya bulat, ditambah blankon yang membuatnya seperti kue mochi. Duduk di tengah di antara ayah dan ibunya yang juga mengenakan pakaian tradisional Jawa.

“Anniversary pacaran nggak usah berlebihan. Bisa kerja ditemenin kamu aja aku udah seneng.”

Aku menggeser kertas-kertas berisi planning untuk wedding organizer yang menjadi tempatku bekerja, lalu menyusulnya. Masih harus mencari mawar putih yang siap angkut saat hari H, dan sebelum itu, acara lamaran dan siraman yang juga harus diurusi. Kepulan asap dari cokelat tampaknya sukses merayuku untuk menyesapnya sebentar. Pekerjaanku bisa nanti.

“Justru kamu yang nemenin aku kerja. Kalau nggak ada kamu, aku paling udah ketiduran. Terlalu sepi.”

Dia menggeser jendela kaca yang menuju ke balkon. Udara dingin menyerbu, terasa berbeda di tengah udara dari pendingin ruangan. Dinginnya melegakan hidung, memanjakannya dengan aroma rumput dan daun dari pohon mangga di depan kamarnya yang mungkin sedang sibuk menyerap karbondioksida.

“Kalau siang, aku suka nonton bola gratis dari sini. Anak-anak kampung versus anak-anak komplek. Lucu banget mainnya, mana ada yang telanjang dada.” Ujarnya. Sepi yang melanda kami memang harus segera diisi meski hanya sekedar omongan basa-basi.

Aku menatapnya dari samping. Matanya menerawang jauh ke lapangan yang hanya mendapat penerangan dari satu lampu jalan. Bibirnya tersenyum simpul, lalu dia menaikan kacamatanya ke atas kepala.

“Jadi kita gimana?” tanyaku hati-hati.

“Kita? Kita, ya, gimana memang? Kita pacaran, kan? Happy anniversary.”

Lalu dia memelukku. Memaksa hidungku yang sudah rileks oleh wangi rumput, untuk membaui tubuhnya. Untukku terlalu menyiksa berjauhan setelah aku pulang nanti, aku hanya bisa mengingat aroma permukaan kulit di lehernya sedangkan rinduku tak pernah bisa menunggu. Meski sehari.

“Sampai kapan? Sampai anniversary kesepuluh?”

“Aku belum siap ke sana…”

“Dan kamu udah bilang itu sembilan kali.”

“Tolong ngertiin aku…”

“Udah delapan tahun ke belakang.” Aku menyesap cokelatku perlahan. Menikmati pahit dan manis yang saling mengisi. “Kamu pernah mikir buat nanya aku capek atau enggak, nggak?”

Jam dinding di luar kamar bergaung nyaring. Sekali, dua kali, tiga kali, dua belas kali. Jam dua belas malam. Angin dari lapangan bola semakin merangsak masuk melewati kami berdua, tak acuh pada kesunyian yang sudah terlalu familiar.

**

Kopi memaksaku untuk menemani malam di tanggal yang sama seperti lima tahun lalu. Aku berdiri di depan jendela berteralis yang menghadap jalan, mendengarkan sesekali tukang nasi goreng atau motor lewat di depan jalan kecil di depan rumah. Lantainya dari keramik berwarna putih biasa, tidak semengilat marmer. Kamarnya pun tak seluas ruang tamu rumah orang tuaku dulu, dan tidak ada lapangan bola di sekitar komplek rumahku. Mungkin ada, tapi bukan lapangan berumput, melainkan lapangan basket yang multiguna.

Harusnya ada tiramisu…

Harusnya ada dia, harusnya jangan membiarkanku menunggu terlalu lama, harusnya dia jangan menunggu sampai tahun kesembilan kalau hanya untuk melepasku dari genggamannya. Atau mungkin, seharusnya memang begini…

Dilepas setelah sembilan tahun tertawa dan memecahkan masalah satu sama lain bersama, membuatku kosong. Seolah sesuatu dicabut dari dalam sana, berlubang dan menganga. Aku bingung mengisinya lagi dengan apa, dengan siapa. Ada nyeri yang merambat sampai ke kapala saat teringat wajahnya. Ada rasa kecewa yang memukul-mukul dadaku sampai sesak, ada kesedihan yang mencekik leher hingga untuk bicara saja terlalu berat. Ada kelelahan yang luar biasa mengingat lamanya waktuku yang dihabiskan dengannya, dan berujung pada jalan buntu.
Terlalu lama, dan pada akhirnya aku dibiarkan terbang sendiri tanpa tameng yang melindungiku.

Aku tersungkur, kaget dengan alam bebas yang sudah lama kutinggalkan. Meski sudah kuperkirakan, tapi nyatanya rasa itu berdenyut-denyut di nadi dan membuatku kebas. Kupikir aku sudah mati.

Aku keluar dari istana itu dengan kendaraan impian wanita-wanita yang melihatnya. Menyusuri dini hari dengan diam yang perlahan menyusutkan senyum, dengan orang yang tak tahu harus berkata dan bersikap bagaimana.

“Maaf’” katanya. Tapi di telingaku terdengar seperti “Menjauhlah…” yang makin sering diucapkan, makin menyilet kepercayaanku.

“Aku nggak bisa janji kapan, maaf…”

Tidak perlu tiramisu, aku sudah terlalu lama menunggu.

“Jam 8 pagi bukannya kamu mau ngecek tempat resepsi, ya? Kok jam segini belum tidur?”

Sepasang tangan memelukku dari belakang. Di jari manis tangan kanannya ada cincin berwarna perak, sama seperti cincin di jariku. Aroma tubuhnya menenangkan, dan pelukannya lah yang menyembuhkan sembilan tahun lukaku. Mungkin tidak sepenuhnya mengisi lubang sisa tahun-tahun itu, tapi nyatanya, dia berani masuk ke dalamnya. Mendatangi rumahku di suatu sore yang cerah, meminta izin pada orang tuaku untuk membawaku ke rumahnya tanpa banyak berjanji sebelumnya.

Aku bertemu dengannya di salah satu resepsi klien, dan mengobrol santai beberapa kali. Pernah sekali dia berkata dengan yakin, suatu hari, dia akan datang ke rumahku dan melamarku tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu. Kupikir dia hanya bergurau, namun, pertemuanku di kedai kopi setahun setelah aku terbebas, membuktikan keseriusannya. Aku tak bisa menolak meski kedua orang tuaku meminta waktu padanya agar aku bisa berpikir. Aku sudah berjanji.

“Kafein,” singkatku.

*

Klien kami kali ini berbeda. Calon pengantin wanita yang datang ke kantor kali itu, masih muda, cantik, putih, mungkin profesinya model atau artis. Kami tak menyangka kalau calon pengantin prianya sudah seumuran bapakku. Budget besar, namun mengadakan resepsi hanya untuk keluarga dan teman dekat. Kami pun merekomendasikan yang paling bagus, dan semua berjalan begitu cepat sampai hari itu.

“Apa kabar?”

Aku tersentak. Layar ponsel pintarku mengalihkan keriuhan musik di panggung yang sedari tadi melantunkan lagu-lagu lawas. Laki-laki berusia sekitar 30 an—seumuran suamiku—berdiri di depan kursiku. Berbeskap hijau muda sama dengan yang dikenakan keluarga pengantin.

“Ternyata benar kamu. Dari tadi aku perhatiin takut salah orang.”

Bibirnya mengingatkanku pada seseorang. Pada luka-luka dan kekosongan yang dia tinggalkan. Aku mengepalkan jari-jari dan berharap seseorang menyelamatkanku sekali lagi. Cincin dijariku kugenggam erat-erat.

“Long time no see. Keluarga pengantin?”

“Kamu nggak kenal pengantin prianya?” wajahnya yang kini sudah berjambang berubah muram. “Dia papaku. Kamu pasti udah lupa, udah 5 tahun sih.”

Dadaku sesak untuk kedua kalinya. Aku tidak percaya kalau aku tak sedikitpun sadar.

“Itu kenapa aku nggak pernah siap nikah. Aku nggak percaya pernikahan. Bahkan papa yang udah hidup puluhan tahun bareng mama aja bisa cerai.” Matanya menerawang ke kerumunan orang di depan meja tempat makanan. Aku menatapnya dari samping, berharap ada senyum simpul itu lagi agar aku percaya kalau laki-laki ini benar-benar dia. “Being single isn’t that bad, rite?”

Aku berpaling. Menatap wedding singer bergaun hitam dengan wajah yang sangat memesona di panggung.

“Jadi, kamu gimana kabarnya? Kamu masih cantik kayak dulu.”

Aku menatapnya, ke dalam mata coklat mudanya. Melepas genggaman tanganku agar cincin itu terlihat dengan jelas.

“Aku udah nikah, setahun setelah kita udahan,” kataku lantang. Tidak ada keraguan di sana.

“Dan aku udah bahagia sekarang.”

Aku beranjak pergi. Biar bagaimanapun, tempatku sudah bukan di sebelahnya lagi. Banyak luka yang sudah sembuh akan berdarah lagi, akan ada kenangan tengah malam yang terselip di dalam tawa-tawa kami nantinya. Dan itu terlalu menyakitkan. Terlalu ironis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s