Tumbang

Akhirnya, sakit juga yang menumbangkan. Tidak perlu melawan, tubuhku sudah minta diistirahatkan.

Mungkin tidur akan membuatnya lebih baik, atau mungkin harus melupakan nyerinya saja. Melupakan rasa sakit dengan rasa sakit, memercayai kalau luka di fisik pasti lebih mengusik. Meski sebaliknya, tapi tak apa jika aku memilih untuk berpura-pura.

Satu goresan melebar, lalu menganga. Dan aku mencoba membius diri, mematikan rasa agar tak menderita. Aku menginfus banyak tawa dan lagu-lagu agar paling tidak, tubuhku punya alasan untuk gembira. Sayangnya, nyanyian-nyanyian itu malah makin menjatuhkanku. Mengupas kulit ari sampai tandas, berirama kepedihan yang terus meranggas.
Iya, bahkan batinku sudah berbalik arah, melawanku agar terus tumbang tanpa mau sedikit saja bertahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s