Review: Reasons

Image

 

Reasons

Aditia Yudis.

…….

Adeline dan Amber bertemu dalam satu titik kehidupan. Mereka punya impian yang sama. Tapi hanya satu yang bisa mencapainya. Awalnya, mereka pikir persaingan itu hanya sementara. Tapi ternyata masa depan mereka pun saling bertautan, karena beberapa alasan …

………

Reasons. Beda, ya. Biasanya baca genre yang nggak semuda ini dari AditiaYudis. Nggak semuda dalam artian bukan genre remaja. Entah, novel yang awal -awal gue belum baca, tapi setelah baca Mendekap Rasa, baca Reasons jadi agak kaget. Sampul depannya lucu. Awalnya gue pikir itu dua cewek kakak-adik, tapi ternyata dugaan gue salah. Buat gue, sinopsis di sampul belakang nggak penting kalau udah di tangan gue. Sampul belakang cuma bikin kita berasumsi doang. Jadi, seperti yang sebelumnya, gue ikuti cerita mau bawa gue ke mana. Gue orangnya pasrahan sih *ditampol*.

Kalau baca Novelnya Adit ini artinya gue harus benar-benar sadar gue lagi baca apa. Soalnya, Cerpen sama novelnya buat gue beda aja, meski bahasanya sama. Cerpennya itu nampol sekali baca, sedang novelnya harus sabar nunggu kapan ditampol. Begitupun di Reasons, buat gue—sekali lagi—buat gue, Adit itu the best in romance. Sedang Reasons lebih ke keluarga, ada lah cinta-cintaannya, tapi nggak sebanyak itu—nggak sebanyak biasanya. Ini yang akhirnya bikin gue (juga) keluar dari zona nyaman baca cinta-cintaannya Adit.

Konfliknya biasa, kayak saingan di sekolah, iri-irian, verbal-non verbal bullying, dan masalah keluarga. Awalnya, iya, awalnya, gue mikir ini bakal kayak sinetron yang ketebak lah endingnya gimana. Tapi manusia tetaplah manusia, meski ngaku bidadari pun, gue tetap bisa salah. Cara penulisannya mengalir—seperti biasa. Ada typo spasi sama typo huruf, tapi sedikit. Meski jadi agak ganggu, tapi untungnya nggak sampai kesel saking banyaknya. Terus, Adeline ini ‘kan selalu aku-kamu kalau ngomong sama Sigit, ada beberapa bagian yang pakai gue-elo. Mungkin lolos, atau mungkin sengaja, nanti tanya sama yang bersangkutan aja.

 

1. First impression

Berhubung nyarinya di Gramedia Bintaro Plaza susah. Gue muter-muter sampai kurus, fyi *plak*. Jadi agak lama merhatiin sampul yang anak-anak geng bilang ‘cute’, ‘unyu’ itu, sekaligus mendramatisir bagaimana gue dapet ini novel. Memang lucu, sih, tapi gue nyangkanya dua cewek itu kakak-adik. Satu lagi, aturan penulisan judul di sampul depan itu kayak gimana? Tulisan “Reasons” ‘R’nya pakai huruf kecil. Terus gue sempet ngecek semua novel yang masih tersisa di kamar, semua kata awalnya pakai kapital atau seluruhnya pakai huruf kapital. Tapi di lembar-lembar belakang, novel lain juga ada yang huruf awalnya kecil (ex: The Tea Shop Girl dan Hot Chocolate). Jadi ini juga bakal jadi pengetahuan baru buat gue kalau ada yang bersedia jelasin.

2. How did you experience the book?

Gue sih nggak meragukan Adit, ya. Diksinya memang nggak sebanyak di cerpen, nggak juga dibuai sama kalimat yang terus-terusan mendayu-dayu khas-nya (tapi gue fans berat cerpen-cerpennya. Serius.), tapi cukup enak dibaca—di samping kesibukan gue beradaptasi sama genre muda-nya. Dari baca Carissa-Michael yang ngurusin bayi-pernikahan-brand-arsitek-designer-thingy, terus diseret ke masa UN di SMA, remaja-remaja yang sirik-sirikan, kaget dong.

3. Characters

Adeline & Amber ini, aduh gimana ya. Ngomongin remaja yang masih labil, jadi kayaknya sah-sah aja kalau mereka plin-plan; gampang berubah pikiran; atau—bagi yang baca kaya gue—pengin mites. Buat gue yang udah tu…belum tua-tua amat ini kayaknya masa bodo musuh mau fitnah apa, yang penting kan enggak. Oh iya, berhubung gue orangnya visual, dan normal, Sigit sama Abi kurang nempel fisiknya di kepala gue. Ada masa ketika gue—dan cewek-cewek lain, i know—tergila-gila sama Narendra dan Michael. Dua tokoh ini detailnya sempurna.

4. Plot

Menceritakan dunia remaja dengan segala permasalahannya. Udah lama nggak baca genre ini, jadi lumayan menikmati. alurnya maju, dibaca dua hari, total sekitar 2,5 jam. Tadinya mau dibaca besok lagi karena malam ini lagi sakit, tapi nanggung, mumpung masih pada nempel di kepala. Takut lupa.

5. POV

Diceritakan dari sudut pandang ketiga, jadi semua karakter bisa masuk semua.

6. Main Idea

Ide utamanya dunia remaja. Persaingan dua cewek yang mana, salah satunya pengin ngejar mimpi meski dilarang ibunya, sedang satunya lagi ngejar hal yang sama, tapi karena pengin dianggap di dalam keluarganya.

7. Quotes

“There is some good in this world, and it’s worth fighting for.” – J. R. R. Tolkien, The Two Towers,

8. Ending

Seperti yang gue bilang tadi, endingnya nggak kayak di bayangan gue. Gue lupa, Adit is a good heart breaker. Udah berkali-kali gue dipatahhatikan sama dia, tapi tetap saja, aku tertipu!

9. Questions

Pertama, jelas tadi soal penulisan judul di sampul depan. Kedua, hmm ntar deh kalau ketemuan ya. Lupa. ^^

10. Benefits

Reasons ngasih gambaran dua jenis keluarga yang banyak banget ada di masyarakat. Bahkan gue sendiri mungkin termasuk di salah satunya (nggak, gue nggak punya kakak seganteng Abi, jadi nggak usah ngarep banyak-banyak *apeu?*). Jadi sedikit flashback, less drama, dan nggak pakai ngejatuhin iPhone. *banting Nokia pisang*

 

 

.) Untuk Reight Book Club bulan September. :*

Advertisements

One thought on “Review: Reasons

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s