(Merasa) Bersalah

Pagi ini nada bicaraku terlalu tinggi…

Hari kedua. Aku masih berlumuran rasa salah. Aku orang yang takut salah, dan jika terlanjur bersalah, gelisahnya seperti ini. Seperti ingin mati.

Lalu, semua yang dipendam, diubah menjadi tenaga. Tenaga untuk bicara. Mungkin hanya satu kalimat, tapi rasanya kepalaku sudah pusing merasakan pergerakan urat-urat yang mengencang.

Sesaat, kemudian menyesal. Rasa bersalah lain menambahkan beban.

Ada punggung yang harusnya sejajar dengan punggungku, berada jauh di depan. Berjalan sendirian. Dia menengok sekali, lalu berjalan lagi. Aku menatapnya sampai dia memasuki pintu, dan aku merasa seperti orang asing yang tak dibutuhkan.

Adakah manusia yang tak ingin dibutuhkan orang lain?

Aku bergeming di tempatku sembari mengikuti pergerakannya. Rasa sesal itu menghunjam lebih dalam, urat di sekitaran kepalaku masih belum kendur, dan rasa bersalah…, menyiksaku perlahan-lahan.

Seperti ingin mati saja. Seperti ingin menarik semua urat dan membuangnya.
Nada bicaraku terlalu tinggi. Kepalaku sakit menahan isi hati agar tak terucap semua.

Punggung itu harusnya sejajar denganku. Dia tak perlu menengok untuk memastikan aku berhenti, atau masih berjalan mengikutinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s