Revenge

“Kau terlalu cepat menyerah…”

Derap langkah kaki bersepatu boots kulit mengusik kesunyian malam. Permukaannya yang mengilat memantulkan cahaya lampu samar. Tidak ada kata mundur untuknya, meski medan perang di hadapannya, dulu adalah surga. Senjata api berperedam tersembunyi di balik coat hitam sepanjang lututnya, rambutnya tergerai bebas melawan embusan angin di flat kumuh dan tua di pinggiran kota.

Heels 12 senti bootsnya makin membuat gaduh suara langkah kaki yang beradu dengan tangga besi zigzag. Tidak ada sedikit pun ketakutan yang menggelayuti benak gadis pemalu dan minder ini—dulu. Pintu dari kayu yang sudah menghitam dan berlubang hanya sekali tembak untuk membukanya, lalu daun pintu berkeretak dan terbuka dengan sendirinya.

“Kau dihukum atas kesalahanmu yang telah menelantarkan seseorang hingga dia berubah menjadi iblis!”

Lalu terdengar satu desingan lagi dari senjata di tangannya. Tepat di kepala laki-laki yang hanya mengenakan celana pendek, dan mungkin belum benar-benar sadar dari tidurnya.

**

Caren menontonnya dari jauh. Dua telinganya tertutup pelindung, matanya berkaca mata, dan dua tangannya lurus ke depan. Jari-jari terampilnya bersiap menarik pelatuk, membidik target dengan jarak puluhan meter. Ledakan pertama mengenai lingkaran biru, yang kedua dan ketiga tepat di titik merah. Dia tersenyum puas, lalu melambai ke pinggir lapangan di mana Caren setia menunggu. Caren menunggu perhatian laki-laki itu beralih padanya, sejak siang tadi.

”Kau makin mahir,” ujar Caren basa-basi. Sejak bertemu dengan kekasihnya, dia sudah tahu kalau senjata api hanya seperti mainan masa kecil. Saat Caren membanjiri lubang semut dengan pistol airnya, laki-laki itu mungkin sudah berburu babi atau rusa di hutan pinggir kota.

”Kau mau mencoba bermain? Aku akan menjadi pelatihmu, gratis,” sahutnya dengan senyum lebar namun menawan. Tulang pipinya terlihat sempurna saat dia tertawa.

”Untuk apa? Senjata itu terlalu berbahaya.”

”Untuk melindungi dirimu sendiri, saat aku sedang tidak bersamamu, atau saat aku berniat melukaimu.”

”Jadi tak apa jika aku menembakmu suatu hari nanti?”

”Aku tak akan melawan, tentu jika kau menembakku karena aku melukaimu atau karena kesalahan yang tidak bisa kau maafkan.”

Caren mendekat. Matanya memerhatikan pistol milik kekasihnya dari ujung ke ujung. Lalu memerhatikan jemari mungil dan seputih pualam miliknya. Ini adalah hal terkeren yang akan dia lakukan di 24 tahun usianya.

”Baiklah. Ajari aku!”

**

Flat murahan itu adalah surga—dulu. Tiga tahun lalu. Satu tempat tidur yang sekarang lusuh, menjadi tempat ternyamannya bersama laki-laki itu. Hanya ada satu sofa kulit berwarna cokelat tua di depan TV 15 inch, satu kulkas setinggi pusarnya, nakas tua tempat menyimpan pistol beserta pelurunya, dan dapur kecil yang kini lebih mirip tempat sampah.

Langkah kakinya terhenti di wastafel kamar mandi. cermin berukuran 50 sentimeter yang sudah retak dan berbintik-bintik hitam menarik perhatiannya. Jantungnya berdegup lebih kencang, perutnya mendadak penuh dan naik menyesaki dadanya.

Ada sepasang kekasih di dalam selembar foto tua dan kusam. Si Wanita mengenakan rok berenda selutut dengan atasan berwarna putih tanpa lengan. Si Laki-Laki merangkulnya dari belakang, masih dengan pelindung telinga dan kaca mata. Mereka tertawa menghadap kamera, untuk yang terakhir kalinya.

**

Caren mencoba untuk kesekian kalinya. Tangannya sudah gemetar, jantungnya memompa sangat cepat. Air merembes dari balik pelindung matanya, sedang laki-laki itu sudah mundur tiga langkah dari tempat awal.

”Sudah lah Caren, kita bisa mulai lagi besok. Ini sudah malam.”

”Sudah sebulan aku memegang benda sialan ini, tapi jangankan mengenai target, memegangnya saja aku masih belum bisa.” Caren mengusap air matanya. Dia berlutut di atas rerumputan, bahunya bergetar.

”Kau terlalu keras berlatih…”

”Kau terlalu cepat menyerah!”

Caren melempar perlengkapan menembaknya ke sembarang arah. Dia berjalan cepat meninggalkan lapangan dengan perasaan marah yang meledak-ledak. Sneakers merahnya terseret-seret di atas aspal jauh di luar lapangan tembak.

”Kau yang membuat Carl meninggalkan kelompok kami…” suara berat terdengar dari kegelapan. Lampu jalanan tua hanya mampu menerangi keberadaan tubuhnya sendiri.

Kemudian terasa hantaman benda tumpul di tengkuknya. Dia terhuyung, lalu tersungkur di tengah jalan. Tiga bayangan besar mendekat. Caren mengenali jaket hijau yang mereka kenakan. Sama seperti milik Carl yang sudah dibakar setahun lalu.
Hantaman kedua mengenai pinggang, lalu kepala, kemudian tulang keringnya ngilu sampai kebas. Caren meringkuk melindungi kepala, dada, dan perutnya dari tongkat baseball serta kaki-kaki kekar milik segerombolan perampok profesional.

Sesaat kemudian, decitan ban terdengar di antara umpatan laki-laki pengecut itu. Caren berharap itu Carl, Caren berharap Carl mengikutinya diam-diam dan meninggalkan lapangan itu demi mengejar kekasihnya.
Tapi, saat Caren mengintip dari sela lengannya, dia hanya melihat sosok tinggi dan kurus, dengan pakaian hitam dan ketat hingga dadanya seperti berebut ingin keluar. Wanita itu berdiri tanpa rasa takut, sepatu berhak tinggi seolah menjadi penegas kalau dia adalah penguasa.

Kemudian tiga desingan terdengar sangat cepat, disusul lumpuhnya tiga laki-laki di sekeliling Caren. Mereka mengumpat dan kesakitan, lalu menyeret kaki-kakinya memasuki deretan pohon-pohon besar.

”Aku Carrie. Kau terluka, ayo ikut denganku.”

Caren merasa nyaris mati. Seluruh badannya nyeri dan berbau anyir. Sneakers merahnya kini terseret tanpa daya di atas motor Carrie.

”Ajari aku menggunakan senjata.”

**

Sudah tiga tahun berselang. Foto itu tak akan mengubah apapun, termasuk kebenciannya pada laki-laki yang membiarkannya tergeletak di jalanan. Carrie mengasahnya menjadi sniper wanita paling ditakuti.

”Terima kasih telah membiarkanku pergi. Kau terlalu cepat menyerah, dan kau, sudah memberiku izin untuk melukaimu…”

Caren melepas selang gas sebelum dia keluar. Dari bawah, dia membidik handle pintu dari besi. Tepat di sasaran, dia menembak dengan menggeser tangannya satu inchi ke kiri. Peluru meleset dan hanya menyerempet hingga tercipta percikan api.

DHUARR!

Ledakan keras mengguncang seperti gempa bumi. Caren memandangi kemarahannya yang berkobar-kobar, serta menggeliat di langit malam—di atas sepatu hak tinggi sang penguasa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s