Review: Samudra di Ujung Jalan Setapak

The Ocean at The End of The Lane
Oleh: Neil Gaiman

Cerita dimulai saat ‘Aku’ memlilih kabur dari setelah acara pemakaman. Dia mengendarai mobilnya ke pedesaan yang dulu pernah ditinggali selama tujuh tahun. Saat dia sadar bahwa rumahnya yang dulu sudah tidak ada, dia berbelok ke jalan lain yang kemudian membawanya ke bekas jalan setapak yang sekarang sudah beraspal.

Dia kembali ke pertanian itu. Tempat di mana petualangannya bersama Lettie Hempstock dimulai.

‘Aku’ di sini, kembali ke rumah keluarga Hempstock dan menemukan lagi kolam bebek di samping rumah tua itu. Dulu, Lettie Hempstock menyebutnya samudra. Kemudian ingatan tentang gadis berumur sebelas tahun, berambut merah dengan hidung pesek dan bintik-bintik hitam di pipinya menyeruak. ‘Aku’ ditarik kembali ke beberapa puluh tahun lalu, saat dia masih berumur tujuh tahun.

Ini keren!

Ini kali pertama gue baca novel Neil Gaiman. Dan benar-benar nggak nyangka kalau genre-nya fantasi. Dari lembar pertama gue udah meraba-raba—penasaran sama apa yang bakal Neil Gaiman beri. Gue sama sekali buta, nggak tahu mau dibawa ke mana cerita ini. Kalimat percakapan dari keluarga Hempstock ini juga penuh analogi—mungkin ambigu. Ada kecurigaan kalau mereka bukan manusia biasa, awalnya. Sedikit sadar saat si ‘Aku’ ini bertanya umur pada Lettie, lalu dilanjutkan dengan pertanyaan “Sudah berapa lama kau berumur sebelas tahun?”

Gue baru melabeli novel ini, novel fantasi (note: dari awal nggak baca cover belakang).

Satu lagi yang menarik adalah, ini fantasi anak-anak. Entah Harry Potter termasuk kategori anak-anak atau bukan, tapi setelah Harry Potter, gue udah nggak pernah baca fantasi anak-anak. Suka banget.. Banyak menceritakan ketakutan-ketakutan menurut sudut pandang anak kecil. Bagaimana rasanya nggak punya teman, lalu bertemu satu teman yang akhirnya sangat dipercaya dan sangat bergantung padanya. Atau ketika diperlihatkan—dari sudut pandang anak-anak bahwa sebenarnya, dunia tidak seaman; tidak sekokoh itu. Ada perusak, ada makhluk menakutkan lain yang mungkin orang dewasa tidak akan memercayainya. Lebih dari sekedar imajinasi anak-anak kutu buku, yang senang berkhayal. Lalu mencoba meyakinkan orang lain kalau ada monster di plafon kamarnya.

Gue rasa cukup realistis. Anak-anak punya dunianya sendiri, dan orang dewasa selalu menganggap kalau mereka hanya sedang bermain-main.

1. First impression.
Covernya adem (haha), sering kebolak-balik pegangnya. Dan nggak punya asumsi / tebakan apapun cerita di dalamnya kayak apa.

2. How did you experience the book?
Seru! Meraba-raba cerita novel ini merupakan kenikmatan tersendiri. Detail-nya detail banget. Sampai-sampai ikut ngerasain geli sama cacing di kakinya. Ada tanaman mandrake yang ngingetin gue sama Harry Potter (lagi) hahaha.

3. Characters.
‘Aku, di sini nggak disebutin namanya, juga nama belakangnya. Baru di lembar-lembar belakang disebut nama “George”. Dan Lettie Hampstock ini keren! Di bayangan gue, bocah ini kayak nggak punya rasa takut.

4. Plot.
Menceritakan tentang anak-anak, memakai alur mundur.

5. POV (Point of View).
Diambil dari sudut pandang orang pertama. ‘Aku’ di sini jelas sekali menggambarkan apa yang dia alami dan rasakan, meski kurang menggambarkan dirinya sendiri seperti apa, tapi bukannya anak laki-laki memang nggak suka meributkan bentuk fisiknya? (haha) (CMIIW)

6. Main idea.
Idenya menceritakan kehidupan tokoh utama yang biasa-biasa saja. ‘Aku’ mempunyai kehidupan yang kelihatannya tidak terlalu bahagia, lalu tiba-tiba muncul masalah yang akhirnya membawanya ke keluarga Hempstock. Keluarga itu yang menjadi pelindungnya saat makhluk-makhluk asing muncul.

7. Quotes.
“Lebih mudah menanggungnya kalau hal yang kautakuti itu bisa terlihat..,” mengingatkan pada ketakutan gue pada beberapa hal. Dan benar, mungkin lebih mudah jika hal-hal itu bisa dilihat.
“Dua orang tidak akan punya ingatan yang sama tentang apapun.” Dan masih banyak quotes lain yang sangat quoteable. baca sendiri, ya…hehe

8. Ending.
Bikin linglung sama seperti si ‘Aku’ di ending cerita. Linglung in a good way sih. Gue terlalu memikirkan apa yang ada di depan, hingga lupa sama yang ada di belakang. Gue sendiri harus baca bagian depannya untuk tahu awal dari cerita ini. (entah, mungkin gue yang pelupa). Dari awal baca, gue bahkan udah nanya dan cari jawaban dari pertanyaan “Ke mana perginya Lettie Hampstock?” dan tetep, di ending, gue nggak lihat dia.

9. Question.
Gue Cuma mau bilang, atau teriak, mungkin memohon agar Lettie Hampstock dikembalikan sama Neil Gaiman.

10. Benefits.
Belajar fantasi. Bahkan di beberapa bagian, mengingatkan gue sama cerpen yang lagi ditulis. Dan gue pun merutuk dalam hati “KENAPA MIRIP?” ya seperti itu kira-kira. Thanks to @adit_adit yang udah ngenalin Neil Gaiman. Suka caranya berimajinasi. Monster dari kanvas? Cacing masuk kaki? Oh, come on! hahaha

_

Advertisements

One thought on “Review: Samudra di Ujung Jalan Setapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s