Tentang ‘Orang Asing’

Sudah lebih dari 15 tahun. Lebih dari itu. Bahkan aku lupa sudah berapa lama hidup dengan ‘orang asing’.

Ini disebut keluarga. Dengan puzzle-puzzle yang sudah tertata rapi dan pas. Lalu suatu hari, satu potongan puzzle harus diambil—dengan alasan masing-masing. Kemudian terlihat lubang di sana, dan tangan-tangan besar menutupinya dengan potongan puzzle lain.

Lubang tertutupi, tapi, tidak pas. Bukan pasangannya. Lalu?

Pemilik tangan besar itu melengkapi kekurangan, namun pemilik puzzle merasa pelengkapnya bukan dia—bukan potongan itu. Tapi kata pemilik tangan, itu sudah seharusnya. Lalu?

Aku menyaksikan sendiri jatuh bangun seseorang bahkan lebih dari 15 tahun setelah puzzle kami mendapat potongan lain. Setua umurku. Mungkin lebih sembilan bulan jika dihitung dari masa terbentuk. Banyak air mata dan keringat, banyak kerut tergaris di wajahnya.
Terkadang aku menyalahkan Si Tangan Besar yang membawanya ke cara itu, sendirian. Terlalu berat untuknya, terlalu keras untuk seorang wanita.

Puzzle lain mungkin menutupi lubang tanpa melengkapinya dengan bentuk yang pas, namun Si Tangan Besar bilang, kalau itu—dia—sudah pada tempatnya. Lalu kamu bisa apa?

Aku hanya bisa diam—sudah kebiasaan. Jika orang bilang, hidup dengan orang asing tak mudah. Aku mengamini. Berat? Sangat. Tapi aku memilih diam. Aku menghormati sebagaimana aku harus hormat.

Seperti aku menghormati wanita besi yang tak banyak bicara dan menuntut penghormatan dariku.

Aku hanya cukup berkata ‘iya’, dan dia sudah tersenyum senang. Aku hanya membalas semua keringatnya dengan satu rupiah, dan dia sudah menangis bangga.

‘Orang asing’ akhirnya bukan aral yang berarti. Ada hal lain yang harus dilindungi, dan dicintai. Sayangi selagi masih bisa, peluk selagi masih bernyawa, temani selagi Tangan Besar itu belum berniat menggantinya dengan puzzle lain.

Aku lupa alasan kenapa menjadi pendiam dan tertutup. Bahkan pada wanita itu, aku tak mengeluhkan beban di bahuku. Asal dia tertawa, aku akan baik-baik saja.

Orang asing, lebih dari 15 tahun, dan aku masih bertahan. Memang seberat itu, tapi tak apa. Tuhan juga menempaku sekencang itu, tapi tidak ada yang sia-sia. Tidak ada yang salah dengan rencana-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s