Lukai Aku

Lukai aku. Tapi jangan dengan tangan orang lain.

Bintang bertaburan, berkelip seperti butiran emas di pasir hitam. Aku menengadah, mencari yang paling terang.
Dia memunggungiku. Menghitung bintangnya sendiri, menandai miliknya, dan enggan menoleh meski sekali.
Aku bilang, rasi bintang capricorn milikku. Dia menggumam, rasi itu miliknya. Aku bilang, aku menguasai Bimasakti. Dia berteriak, kalau galaksi ini diciptakan untuknya dan seseorang di sebelahnya. Berdua.

Aku mencari kelip paling terang, namun seseorang di sampingnya selalu meminta agar bintangku menjadi miliknya. Seseorang itu dia sebut mata air, dan dia seolah tak bisa hidup tanpanya.

Seseorang itu dia sebut sumber kehidupan. Perciknya menenangkan, arusnya menenggelamkan semua amarah.

Sedang aku hanyalah api unggun. Menari-nari dengan angin, membakar, menghanguskan, membuat bara, mencipta asap. Kehidupan mati di dalam api, ketenangan terusik jika aku tetap hidup.

Aku mencari bintang paling terang untuk kuajak bicara. Namun dia menawarkan pada seseorang itu, agar memilikinya.

Lukai aku. Tak apa, asal dengan tanganmu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s