Keluh

Malam ini terlalu merasa gelisah. Mengirimkan pesan pada teman, namun enggan bicara. Hanya basa-basi.

Al-Kahfi, Yaasin, lupa di kamis malam terakhir bulan ramadan. Aku sibuk mengeluh pada-Nya, mengadu kalau hati yang dititipkan di tubuhku, sedang luka-luka. Aku mulai mengeluh, hanya pada-Nya.

Jumat terakhir di bulan ramadan, aku mengurangi bicara lewat tulisan. Entah bisa seterusnya, atau hanya kali ini saja. Aku rindu mereka, namun sesuatu mengganjal dan menahanku agar tetap diam. Tetap di ‘tanahku’ saja, karena aku bukan siapa-siapa.

Bukan bermaksud merendahkan diri, tapi seseorang membuatku terus merasa seperti itu.

Aku hanya ingin diam, meski otakku terus memaksa untuk bicara. Bicara pada siapa? Aku butuh telinga untuk mendengarkan, bukan? Sedang aku tak punya telingamu. Aku butuh telingamu.

Malam tadi aku terlalu gelisah. Aku ingin aku yang dulu, namun seseorang tak mengizinkanku. Aku ingin tertawa seperti biasanya, namun benar-benar tak punya daya.

Kuatkan, kuatkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s