Kelokan Terakhir

Jalan di sini masih sama. Macetnya, ramainya, bisingnya. Ada bagian yang rusak di lajur kiri, lalu beberapa meter kemudian ada di lajur kanan. Ada jejak-jejak kenangan dua orang yang belum hilang.

Aku terus mengingatkanmu agar hati-hati. Gelap menyamarkan pandangan, lampu jalanan pun tak akan membantu.

Lalu ada jalan menanjak dan menurun. Ada bagian yang tiba-tiba mengguyur kita dengan hawa dingin. Banyak nyanyian jangkrik di sana. Kamu bilang, kamu menyukainya. Dan aku, tak pernah lupa sejak saat itu.

Ada tempat makan bakso di sisi kanan jalan, sedang di sisi kiri ada masjid besar. Manusia merencanakan, waktu yang akhirnya menggugurkan semua harapan.

Lalu ada kelokan ke kiri yang seringnya terlewat. Pada akhirnya pun mudah dihafal, sampai akhir, aku–si Sifon Hitam, tak punya daya lagi untuk menjadi penunjuk jalan.

Kelokan itu menjadi akhir, yang mungkin tak akan terulang.

Setiap akhir pekan Sifon Hitam berdiri di sana. Merasakan sapuan angin polusi, tak berani mengangkat kepala karena semua yang dilihat, hanya gambaran mereka berdua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s