Makin Membiru

Tak ada luka yang tak sembuh. Perlahan, bertahan. Siapa butuh alkohol jika berbincang sebentar saja, sudah menyembuhkan?

Tapi lebam itu makin membiru. Aku tahu sebabnya, namun aku malas menyebut namanya yang menyempil di antara kita berdua. Dia adalah jarak, dia membuatku menjadi bayang-bayang tak berguna.

Dia lebih bercahaya.
Dia lebih lembut dari sutera.

Sedang aku, aku bermandikan keringat. Aku berkubang di lumpur—mencoba keluar dari pusarannya. Aku segelap batu bara. Aku pucat tanpa rona merah di tulang pipi.

Ruas-ruas jariku tak sehalus dia, tak lentik, tak bisa menghangatkan jarimu. Jalanku penuh kerikil, dan di depan sana ada gunung besar yang menghambat pandangan. Entah apa yang tumbuh di baliknya, mungkin cemara, atau pinus. Mungkin semak belukar. Apa yang kamu punya sekarang?

Karena aku memiliki parang untuk membuka jalan…

… Tanganku tak selembut kapas. Tanganku–mungkin–dirancang sekeras besi.
Aku lihat dia begitu bercahaya. Hatinya selembut impian-impian di dalam pikiranmu. Tutur katanya seperti nyanyian ibu di telingamu.

Lebam itu makin membiru. Ada di dada sebelah kanan, di rumah yang kini ditinggalkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s