Cemburu

Bernapas sedikit saja, aku sudah cemburu pada oksigen yang merasukimu.

Kaki-kaki kita berjalan cepat. Sandal dan sepatu perempuan saling menyalip namun selalu bersisian. Tak ada yang ingin menang di depan, dan tak ada yang ingin ditinggalkan.
Jemari saling bertaut. Sesekali mencuri pandang, namun segera dipecah oleh kerumunan orang yang menghalangi jalan.
Jaketmu selalu itu. Ranselmu penuh buku, dan ponsel di tangan kirimu benar-benar membuatku cemburu.

Ada kala harus berlari. Aku ditinggalkan di belakang karena kakiku tak sejenjang milikmu, karena aku malas berolah raga. Tapi aku tahu, kamu akan berhenti, berbalik, dan menungguku. Tak peduli apa yang sedang dikejar, yang aku mau hanya wajah itu tak pernah lupa berpaling untuk memastikan aku masih di sini. Berusaha mengejarmu, agar aku tak lebih cemburu pada ponselmu.

Aku cemburu pada oksigen di tubuhmu. Aku cemburu saat dia menyatu dengan darahmu. Aku cemburu…

…karena aku, tak lebih darinya, yang bisa menghidupimu.

Advertisements

One thought on “Cemburu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s