Sifon Hitam

Aku selalu bicara tentang kehilangan, sedang kamu, tak pernah lepas membahas penantian.

Semua diratapi mulai malam hari. Sejak pucuk kepalaku berhenti dikecup, ketika hanya tangannya yang mengusap sesaat ubun-ubun. Saat itu malam baru seperempat jalan, angin menyibak ujung kain sifon hitam yang menutupi sampai dada.
Harusnya aku mengenakan warna merah muda saja, agar paling tidak, aku tak membacanya sebagai pertanda. Kali itu adalah yang terakhir.

Sebagian dariku berduka. Lebam dan menghitam bagai dihajar palu raksasa. Sebagian lagi masih terkurung dan berputar-putar dengan bayangannya. Aku tak seluruhnya lumpuh, namun separuh dariku benar-benar cidera.

Malam usai di awal fajar. Kain sifon hitamku tergeletak di pojok ruangan. Ada duka mendalam di sana, seperti mesin sihir pengubah sukacita menjadi air mata. Dan siang itu, tak lagi seterang biasanya. Tak lagi semenyenangkan saat dia masih menggenapkan separuh dariku.

Aku kembali bicara tentang harapan. Di senja, dan di waktu yang sama ketika hangatnya akhirnya memudar. Di seperempat malam, dengan sifon hitam yang kini menjagaku dari bisikan angin yang terkadang menyakitkan.

Aku ada di ujung lorong, tertunduk menyembunyikan kesedihan. Dan kain sifon hitam, sudah kuganti dengan katun merah. Masih menutupi sampai dada, hanya kurang kecupmu di puncak kepalaku saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s