Sore Ini…

Pukul tujuh petang tadi, aku berteduh bersama beberapa orang di depan mini market karena hujan turun dengan derasnya. Angkotku belum lewat, dan berdiri di pinggir jalan, sendirian, dengan payung besar kurasa hanya akan membuatku terlihat aneh. Jadi kuputuskan ikut meneduh sewajarnya manusia normal.

Tangan kiriku menjinjing kantung plastik, tangan kananku memegangi payung. Angkot pertama lewat begitu saja tanpa bisa kuteriaki atau memanggil dengan bertepuk tangan. Volume suaraku memang terlalu pelan, dan tangan—senjata satu-satunya sudah punya tugas masing-masing. Akhirnya kuputuskan untuk memisahkan diri dari gerombolan itu. Aku membuka payung dan mencari tempat yang lebih terbuka dan dekat dengan jalanan.

Saat angkotku tiba, sedikit was-was melihat keadaan di dalamnya kosong. Hanya satu wanita berjilbab hitam yang duduk tepat di belakang sopir. Rasa khawatirku perlahan memudar.

Namun, apa yang kusaksikan setelahnya, seolah menikamku pelan-pelan.

Wanita berjilbab hitam itu tampak akrab dengan sopir angkot yang masih relatif muda. Tangan kanannya sengaja merangkul Si Sopir. Awalnya, aku sedikit terganggu dengan pemandangan itu, dan sengaja menyibukkan diri dengan ponsel. Tapi lama-kelamaan, aku dialiri rasa sepi…

*

Aku pernah merasakannya.
Saat kami (seolah-olah) hanya merasa berdua saja. Tidak ada orang lain, tidak ada yang lebih menarik daripada topik pembicaraan kami.
Saat kami menyusuri jalanan malam di penghujung akhir pekan dengan kuda besi beroda dua. Tidak ada yang lebih hangat dari punggungnya, dan tidak ada yang lebih menenangkan dari genggaman tangan dinginnya.

Aku pernah merasakannya.
Saat telapak tanganku kuletakkan di atas dada kirinya. Meraba denyut halus…

…memastikan kalau namaku ada di dalamnya.

Ada rasa tenang saat itu. Aku tahu, di sana tak ada siapa-siapa selain aku. Detak samar itu milikku, hanya aku.

*

Petang ini, aku permisif. Aku maklum pada dua sejoli yang sebenarnya menjadi cermin. Merefleksikan aku yang dulu, saat seseorang itu, menjadi milikku.
Aku turun dengan hati berat. Membayar dengan uang sepuluhribuan, lalu mengucapkan terima kasih sebelum berbalik dan pulang.

Terima kasih, sudah membuka ingatan lama diam-diam.

Advertisements

11 thoughts on “Sore Ini…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s