Memeluk Angin

Pengap membuat paru-paruku semakin tersiksa. Aku selalu membenci tempat sempit atau pun tempat dengan banyak orang di dalamnya. Seperti tak ada ruang yang tersisa untuk bergerak, oksigen dihirup terus menerus—saling berebutan. Sendi-sendiku seolah membeku, nyaris seperti ditindih dari berbagai arah secara bersamaan.

Aku bergeming, menunggu orang-orang itu pergi. Aku mencari tempat lain yang lebih luas, agar duniaku tak terlihat sesempit ruangan dua kali dua meter.

Lalu seseorang datang menyergapku dari arah depan. Aromanya murni wangi kulit dan kain bahan kemejanya, tanpa parfum. Aku ingin berontak, namun tubuhku seperti dialiri arus lain yang sedang kubutuhkan. Hanya terdengar detak jantung di dada kirinya dan terasa dekapan erat dari lengan kuatnya.

”Kamu akan baik-baik saja,” bisiknya. Ada kecupan kecil di puncak kepalaku. Aku masih tak berkutik.

Dalam gelap dekapannya, aku berhenti memikirkan keriuhan di sekitarku. Aku lupa seberapa sempit tempatku berdiri. Paru-paru di bawah tulang rusukku pun tak lagi tergesa-gesa. Aku sibuk menghitung detak jantungnya, aku sibuk menyerap kehangatan badannya.

Ruangan itu kini senyap. Tak ada satupun suara yang mampir ke gendang telingaku, bahkan, aku bisa mendegar helaan napasku sendiri. Aku ingin mengangkat kepala, mencari tahu siapa pemilik pelukan dan suara menenangkan itu. Meski sesuatu menahanku, aku tak bisa mundur untuk tetap mencari tahu.

Dia manusia biasa. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang bisa membuatku terpana dan tertarik untuk terus menatapnya. Namun aku emoh melangkah pergi dari hadapannya…

…karena jemarinya terlanjur berada di sela-sela jariku…

…karena lengannya, sudah membawaku ke dalam kedamaian pelukannya. Meski sesaat, meski aku tak bisa meminta lebih banyak.

Ketika detik itu dia harus pergi, aku kembali bergeming. Langkahnya cepat, mundur, lalu berbalik dan menghilang di balik pintu tempat dia datang.

Kini aku hanya berteman dengan gema detak jantungku sendiri. Bertahan dari kebencian pada ruang sempit yang terus membelenggu. Tanpa aroma tubuhnya, tanpa lengan itu. Hanya ada sisa jejak kaki, juga gambaran biasa wajahnya di udara.

Advertisements

One thought on “Memeluk Angin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s