Kupu-Kupu

Sejak bersamamu, aku punya sekumpulan kupu-kupu dalam perutku.

Sore kita tak pernah berbeda. Kamu yang menungguku, dan aku yang memburu waktu agar cepat pulang ke pelukanmu. Dengan rindu yang meletup-letup sejak tujuh hari lalu, aku mengutuk Minggu; andai lebih dari 24 jam, pasti lah kita tak akan terlalu terburu-buru.

Sore kita penuh asap kendaraan. Menyusupi ruang antara mobil satu dan satunya lagi. Jangan banyak gerak, katamu. Dan aku mencoba memaku diri sembari terus berpegangan. Aku selalu memarahimu, tentang betapa nekatnya kamu di jalanan. Tapi toh aku hanya bisa diam dan menurut. Aku percaya padamu.

Sejak tangan itu menyentuh kulit punggung tanganku, kupu-kupu di perutku tertawa girang. Ada energi untuk menari lagi, canda mereka pada hati.

Kepakan sayap itu memukul-mukul kembali. Energi siapa kali ini? Masih ada kah kamu? Karena soreku, kini, tak lagi terburu-buru.

-R-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s