Review: Notasi

Penulis: Morra Quatro
Penerbit: Gagasmedia
Tebal: 291 Halaman

Sinopsis:

Rasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pagung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi. Dan aku mendekap erat kata-kata itu, menanti dalam harap. Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu…

Awalnya, gue kira Notasi adalah novel yang berhubungan dengan musik. Baca judulnya, gue teringat not balok yang dulu sering gue hafal. Tapi ternyata salah, gue beneran kaget sama isinya.

Gue suka!

Awalnya, buat gue emang terlalu detail. Antara mau bangun setting, dan memperlambat tempo. Sedang masalahnya masih bias, gue total bayangin UGM dan harus sabar untuk tahu sebenernya ada apa di dalam sana.

Notasi jadi buku pertama Morra Quatro yang gue baca, dan ini pun karena hasil voting di Reightbook Club yang memenangkannya. Tadinya, gue pikir ini hanya satu di antara novel-novel lain yang menye-menye, dengan kata-kata berukir-ukir, juga diksi yang susah dipahami. Tapi ternyata gue salah—lagi. Gue suka gaya penulisan dan penceritaan Morra. Bahasanya nggak susah, mengalir, meski—sayangnya—banyak typo spasi yang akhirnya memutus-mutus aliran itu. Ngganggu banget. Kayaknya gue belum pernah nemuin typo spasi sebanyak ini di novel lain.

And i love Nino. Pas banget sama quote ”Padi tumbuh tidak berisik.” Nggak banyak tingkah, tipe cowok yang kalau senyum doang udah bisa bikin cewek teriak girang. Dan Morra membangun karakternya, buat gue, dengan sempurna. Gue suka bagian surat-surat Nino, karena di sana, gue jadi tau semanis apa dia. Gimana kalau dia lagi kangen. Dan capung-capung itu bikin gue inget masa kecil. Gue tahu susahnya nangkep capung kayak apa hahaha.

Sedang Naila, buat gue, adalah tipe cewek yang haduh-nih-cewek-ngapain-sih? Entah ini egoisme pembaca yang jatuh cinta sama Nino, atau memang dia aja yang nyebelin. Dan, dari awal sampai akhir, gue salah baca namanya. Oke, Nalia, bukan Naila.

1. First impression
Covernya lucu. Tadinya cuma mikir lucu aja, tapi setelah baca, jadi ngerti maksudnya.

2. How did you experience the book?
Udah ditulis di atas. Terutama soal setting di bagian awal. Agak susah karena gue belum pernah masuk UGM, dan itu memperlambat tempo baca.

3. Characters
Nalia dan Nino juga udah dibahas. I love Nino.

4. Plot
Plotnya maju-mundur. Tapi nggak susah kok bedain mana masa lalu dan masa kini.

5. POV (Point of View)
Menggunakan sudut pandang orang pertama, dan Morra menuliskan perasaan Nalia dengan pas sebagai cewek. Yang samar di sini cuma sosok Nalia. Nggak tergambar jelas dia kayak apa fisiknya.

6. Main idea
Masih soal cinta-cintaan. Yang bikin nggak biasa adalah setting tahun 1998-nya. Di tahun itu, gue baru 8 tahun. Cuma lihat ada banyak orang bawa-bawa bendera di atas gedung hijau mirip kura-kura di TV. Semakin ke sini, semakin tahu apa yang mereka lakukan. Nah, Notasi juga membahas ini; dari kengeriannya, sampe peristiwa-peristiwa yang sampai sekarang masih diperingati di tanggal tertentu. Dan, dari sisi lain: dari kota Yogyakarta.

7. Quotes
Kutipan Tan Malaka the best. Banyak sih yang quote-able, tapi lupa nandain. Ada satu…

”Pada akhirnya, segala hal dalam hidup harus berubah. Walaupun hanya sedikit.”

Ini diambil dari halaman-halaman akhir novel. Sedikit menguatkan gue yang sedang dalam tahap menata hati (halah).

8. Ending
Ngarepnya happy ending. Tapi Notasi ngasih happy ending dengan cara lain, @iiphche bilang itu realistis. Gue setuju. Nggak pake drama.

9. Question
Kalau bisa diskusi sama Morra Quatro—pengin banget!—gue mungkin banyak bertanya soal peristiwa-peristiwa itu. Siapa narasumbernya?

10. Benefits
Inget lagi peristiwa ’98. Gue pernah baca e-book-nya Pandji Pragiwaksono yang Nasional.Is.Me, dijelasin sedikit peristiwa ini. Tapi nggak sebanyak di Notasi, dan jadi pertanyaan juga buat Morra Quatro soal di mana batas antara fiksi dan non fiksi di sini.

*) Untuk Reightbook Club bulan Juli.
-R-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s