Aku Menemukannya

Finally…

Long coat abu-abu yang memeluk tubuh, kurapatkan setelah pesawat landing di Soekarno-Hatta. Aku tidak memedulikan keributan atau ketergesa-gesaan apa semenit setelahnya. Aku hanya menancapkan pandanganku pada wanita itu, wanita yang menggendong anak kecil, di bangku arah jam dua.

Dia beranjak hati-hati, kemudian duduk kembali setelah menyadari sepatu sebelah kanan anaknya tidak ada. Aku bertahan di bangkuku, sama seperti dua hari ke belakang, aku hanya menunggu. Menunggu waktu yang tepat.

Aku menemukannya di dekat kedaiku di Little India. Dia sedang makan, tentu dengan bocah kecilnya yang tak pernah sekalipun lepas dari tangannya. Rambut mereka berdua sama-sama legam, kulitnya sama putih, dan dia memanggilnya ”Chester.”

Diana.
Aku membuntutinya. Tidak kusangka dia ada di Jakarta. Dua tahun lalu, dia bilang ingin pergi jauh dari Jakarta. Dia terlalu takut hidup di kota tempat ayahnya meninggal. Dia bilang, dia terlalu muak dengan keruwetannya. Termasuk denganku…, dia muak dengan ibunya sendiri.

Aku memanipulasi surat warisan suamiku. Rumah mewah, fila di Bali, saham di perusahaan, sampai uang di semua rekening jatuh ke tanganku. Diana tidak sepeserpun merasakan harta ayahnya. Aku ingin menguasai semuanya, termasuk anakku sendiri. Dia akan kusekolahkan setinggi-tingginya agar tidak direndahkan laki-laki, seperti aku yang direndahkan ayahnya selama hidupnya. Aku terlalu rendah di matanya, dia menyesali menikahiku yang tak bisa apa-apa. Aku pun mulai mencari kehangatan lain. Mencari kebahagiaan yang benar-benar keluar dari hati, tanpa melihat derajat.

Tapi nyatanya, Diana yang hanya berjarak 10 meter denganku sekarang, melawan kehendakku. Dia lari, merasa bisa mengurusi hidupnya sendiri. Aku senang bisa menemukannya, meski setelah dua tahun berfoya-foya dengan hartaku yang juga hartanya. Aku tidak tahu cara menghabiskan uang ayahnya. Judi, bar malam, belanja gila-gilaan, dan baru sadar setengah tahun lalu. Aku kemudian membeli tempat di Little India, menjajal satu-satunya bakat yang kupunya. Memasak.

Chester menggeliat-geliat di dudukan trolley. Sepertinya dia kurang nyaman dan terus saja merengek minta digendong. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh, meski aku sungguh-sungguh ingin mendekat dan memantu Diana menggendong cucuku. Seperti aku menggendongnya saat dia kecil, bernyanyi, selagi menunggu ayahnya pulang.

Aku merapat ke ke kaca saat tiba-tiba dia berjalan cepat ke arah luar. Laki-laki berkaus biru tua di sebelahku sampai bergeser, melihat kelakuan anehku. Diana menghampiri laki-laki di luar, kemudian kembali masuk masih dengan terburu-buru. Aku mengenakan kacamataku, menajamkan pandangan, and there he is…

Partner affairku, Henry.

*) untuk #confeyorbelt.

Advertisements

One thought on “Aku Menemukannya

  1. […] Tulisan ini yang ke-4 dari #FFBerantai #ConveyorBelt yang diadakan di twitter. 1. Hai, Halo, Terima Kasih by @WangiMS 2. Story Some Cosmic Coincidence by @iiphche 3. Pelarian by @kopilovie 5. Aku, Perempuanmu by @momo_DM 6. Pulang by @_raraa 7. No More Drama by @nadyapermadi 8. The Invisible Wonderwoman by @lusiadayu 9. My Mom is A Wonderwoman by @lusiadayu 10. Kisah Lain by @naztaa 11. Irina, Permata dan Kotak Perhiasan by @danisyamra 12. Koper Yang Tertukar by @naztaa 13. Kembali by @OdetRahma 14. Sketch by @kopilovie 15. Si Gadis Manis Berlesung Pipi by @Omidgreeny 16. Innocent by @nindasyahfi 17. Partner in Crime by @yuska77 18. Aku Menemukannya by @_raraa […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s