Pulang

Dara diam sepanjang langit Singapura sampai Soekarno-Hatta. Matanya menerawang menembus lapisan putih bertumpuk, yang seolah meminta untuk disentuh dari balik jendela pesawat. Perlahan daratan tampak, tanah tandus berselimut gedung dan bangunan, terasa menyayat hati.

Laki-laki di sebelahnya pun bergeming sedari take off di Changi. Perasaannya tak kalah was-was. Perjalanan ke luar negeri tidak pernah seburu-buru dan mencemaskan seperti kali ini. Wanita di sebelahnya lebih dari patah hati, lebih dari makan hati.

”Kamu yakin, Rachel ada di Singapura hari ini?” tanyanya sembari meremas jemari berkeringat Dara. Flight pertama tentu tidak terlalu pagi bagi Dara yang sudah biasa lembur, namun si lelaki, dia nyaris bisa tidur sambil berdiri saking ngantuknya. Dara mengangguk lemah, kemudian mengeluarkan ponsel pintar dan menunjukan pesan terakhir anaknya. Dara kembali berpaling ke luar jendela, sementara si laki-laki, ingin sekali merengkuhnya ke dalam pelukannya. Mengurangi kecemasannya, atau sedikit menghangatkan hatinya yang beku.

Nyatanya, nihil. Dara tidak menemukan siapa-siapa di Universal Studio. Seharian dia berkeliling dalam diam, sesekali mengecek ponselnya, lalu berhenti sambil menyeka setitik air dari pelupuk matanya saat lagi-lagi tak menemukan apa-apa. Si laki-laki menemani ke mana pun Dara pergi, menuruti semua keinginannya, sampai menjadi sasaran kekesalan Dara.

”Kevin sialan! Pasti dia udah tau kita ke sini.” Dara mengumpat, menjejalkan cheese burger Mc’d ke mulutnya saat sedang menunggu boarding. Matanya merah oleh airmata amarah, rambut sebahunya diikat sembarang, dan wajahnya lebih kucel dari tissue di genggamannya. Kevin adalah mantan suaminya. Dia membawa anak Dara ke luar negeri tanpa seizinnya. Sejak itu, Dara tidak hidup normal. Jam biologisnya bertukar jadwal. Dia bangun saat malam, dan terlelap saat matahari muncul. Nafsu makannya merosot, semua pekerjaan dia tolak, dan dia sering menangis diam-diam.

”Oh, shit!”

Dara refleks menengok ke bangku di belakangnya. Pesawat belum semenit menyentuh tanah, namun wanita itu sudah repot menyambar barang-barangnya dan bergegas ingin keluar. Delay di hari Senin memang bukan ide bagus, terlebih jika anakmu tidak jelas keberadaannya. Laki-laki di sebelah Dara tidak terpengaruh. Baginya, Dara adalah pusat tata surya. Dia tidak bisa berpaling, pun berpindah ke galaksi lain.

”Itu Kevin?” Dara menunjuk orang-orang yang sedang menunggu barang-barangnya di conveyor belt. Semua nyaris terburu-buru, selain sekelompok backpacker yang masih asyik membahas dunianya.
Dara berlari, melewati laki-laki bertato dengan pasangannya, lalu menyerempet sesuatu milik si wanita tukang mengumpat. Dara merasakan ada yang jatuh dari tangan yang sedang sibuk mengangkat koper-kopernya, namun dia tak peduli. Dia mengincar laki-laki berkaus biru tua di balik gerombolan para backpacker.

”Di mana, Rachel?!” serunya sembari mendorong badan kekar mantan suaminya ke tembok kaca.

Dari jauh, si laki-laki hanya memerhatikan. Genggaman tangannya di lepas begitu saja, yang kemudian ditinggal lari menuju masa lalunya.

*) Ditulis untuk FF berantai #convayerbelt

Advertisements

One thought on “Pulang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s