A Letter for Him

Oke. Kita libur flash fiction sebentar, ya. Kadang, kita butuh selingan, dan kali ini gue—yang punya blog—akan menceritakan sesuatu…

Kids… (ditoyor Ted Mosby)
Gue nggak akan–untuk saat ini–nulis yang jelek-jelek. Buat gue, itu cuma ngotor-ngotorin blog yang tampilannya lucu penuh balon ini. I won’t.
Ketika gue nulis ini, gue sebenernya lagi kesel. Banget. But you know what? Gue masih bisa senyum, masih bisa kerja–sambil senyum-senyum, tentu. Gue gila? Baru tau? Ciyan.

Thank God, dia adalah berkah…

Kata-kata ini langsung melintas begitu saja tadi sore. Agak berlebihan kelihatannya, tapi nggak juga. Meski iya sih, agak lebay memang. (ditoyor)

Dia itu nggak ruwet. ”Nggak usah lah mikirin yang belum kejadian. Itu kan ‘nanti’.” Dan gue mulai belajar ya-udah-lah-ya, di tengah otak yang udah penuh tetek*wait fot it*bengek sama gumpalan-gumpalan hal sepele yang digede-gedein kaya tet—oke, digede-gedein. Bahkan di waktu yang sebenernya, harusnya udah kelar; udah tenang.

Lalu dia datang. Dengan kostum Superman yang nyeplak dan mengumbar bentuk aurat—besok-besok bisa dicoba pake gamis—he saved me.

Dia terlalu baik. And i love him.
Dan entah harus berapa kali gue berterima kasih, untuk banyak tawa, banyak *uhuk* cinta, banyak pengertian, banyak kesabaran, untuk nggak childish kaya gue, untuk banyak hal-hal sederhana yang dulu rasanya nggak semenyenangkan kali ini.
Belum, ini belum semuanya. Tapi takut orangnya kege-erannya nambah, mending sudahi saja muji-mujinya.

Dan maaf, untuk banyak kekecewaan yang banyaknya melebihi jari tangan gue.
Gue belum tau banyak tentang dia. Makanya mau dipelajari dulu, dari cara berjalannya; cara ngomongnya; cara makannya; cara dia ketawa, cara dia nyela-nyela Liverpool… OKE, SAMPE SINI AJA. GUE SAKIT ATI TIM GUE DIHINA-DINA KAYAK GITU!

Sakit atinya cuma gara-gara itu. Buat gue itu ajaib, ngeliat track record yang gue punya sebelum ini. Gile aje, gue sampe lupa kalau ternyata udah sampai tanggal 19 Mei.

Hari ini, gue bisa senyum, meski lagi kesel, meski pengen nekuk-nekuk orang kayak kertas origami…, tapi gue sadar…, gue punya dia.

Dan sampai mana pun jalan kami—yang adalah Rahasia Tuhan, gue nggak peduli. Entah besok, pun lusa…, sekarang gue cuma nulis untuk hari ini, dan hari-hari yang udah di belakang tanpa bisa diubah lagi.

Thank you.

P.S. Ditulis di bawah pengaruh pelet. *digebuk*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s