Terjerembab

Aku terjebak di antara masa lalu dan masa depan. Antara yang sudah kulewati dan yang malas kujalani. Antara kepahitan yang sudah seharusnya hilang ikut terkubur di dalam tanah, dan angan-angan klise yang sepertinya baru tumbuh—terpaksa, atau dipaksa. Aku ingin memupuk, bukan mengenang kematian. Aku ingin memetik bunga, bukan kejatuhan kamboja di pemakaman.

“Kamu nggak bisa stuck di waktu dulu. Kamu nggak punya pilihan selain maju. Cuma, kamu harus milih antara maju dengan otak rusak, atau dengan otak kosong yang siap diisi memori baru. Weak up! Kamu nggak bisa ngimpi tiap hari.”

Sepatu-sepatu hak tinggi di lemari kayu setinggi plafon dan sepanjang sisi tembok ruang tengahku beku. Berdebu. Ratusan juta sudah aku menyisihkan gaji untuk mendapatkan mereka. Online shop, hand made, ITC, Blok M, Tanah Abang, Singapura, Paris, NYC. Tapi kini mereka tak ubahnya seperti bentuk kerakusan dan impulsivisme. Ratusan juta yang sia-sia. Membayangkan banyak yang bisa kuperbuat dengan uang sebanyak itu. Banyak hal yang berguna, bukan sekedar membeli untuk diinjak-injak dan bahan bergosip dengan teman di coffee shop.

“Sepatumu terlalu mahal, sayang. Apa nggak lebih bagus uangnya ditabung biar kalau sewaktu-waktu butuh bisa digunain?”

“Bok, sepatu lo udah nggak ngetrend. Upgrade lah sama yang lagi heits!”

“Sayang, kok beli sepatu lagi? Kan kemarin udah?”

“Ini nih, gue dapet dari Milan. Fresh from the oven, baru kelar dibikin sama designernya kali nih langsung gue beli. Lo nggak pengin? Nanti nitip sama sepupu gue aja!”

Ada. Ada banyak kata-kata yang harusnya kuturuti darinya. Ada juga yang harusnya bisa kuenggak-kan dari ucapan teman-temanku. Aku terlalu diperbudak gaya hidup. Aku terseret arus orang-orang yang lebih mementingkan penampilan daripada kesenangan batinnya. Aku punya dia, aku punya obat dari semua stressku. Penenang dari setiap bulir airmata yang membasahi kemejaanya. Kehangatan di tengah sorot dingin kehidupan perkotaan. Aku punya dia, yang selalu menyisihkan waktu untuk mampir ke apartemenku meski sudah larut malam.

“Cuma ngecek. Takutnya kamu keluar malam sama temen-temenmu. Besok kan kamu harus flight pagi ke Medan.”

Kini, tidak ada aroma yang lebih kuinginkan selain aroma tubuhnya sebelum dia pulang ke rumahnnya. Pelukan terakhir di hari itu, dan selamanya. Kemeja bergaris, celana bahan hitam, belt hitam pemberianku, pantofel kesukannya, dan tas selempang yang setiap hari tersampir di bahunya. Aku melihatnya terlalu bercahaya malam itu. Senyum dengan mata berbinar seperti anak TK, juga kecup hangat yang tak akan kuterima lagi di malam-malam berikutnya. Dia pergi. Melambaikan tangan riang sebelum masuk ke lift yang membawanya turun ke lobby, menjauhkannya dariku, memotong impian yang sudah tersusun seperti to do list. Mungkin membebaskannya dari rasa sakit, mungkin juga membawanya ke tempat paling indah tanpa nama seperti impiannya.

Security memencet bel pintu membabi buta, memaksaku meletakan lagi air putih yang sudah siap kutenggak. Kemudian dia membekukan seluruh sendi-sendiku. Aku hanya bisa merasakan lelehan dari dua sudut mataku.

Dia ambruk. Dia kesakitan. Dia merintih. Dia memanggil namaku, lalu diam. Aku histeris di lobby yang sudah sepi. Aku memaki orang-orang yang lelet saat mereka menggotongnya ke mobil. Aku berdoa sepanjang jalan Jakarta yang lengang. Aku memeluk kepalanya. Aku memanggil-manggil namanya. Aku tahu, dia hanya bergurau seperti biasanya. Aku tahu, tidak ada yang bisa menumbangkannya selain kepergianku—katanya. Katanya. Hanya katanya. Bukan kata Tuhan-nya.

*

Aku membisu dengan celana tidur dan kaos murahan yang kubeli di pasar senen. Aku suka kenyamanannya. Aku suka menjadi orang biasa, tanpa make up, tanpa gadget mahal, tanpa mobil mewah, tanpa tas branded. Aku suka keheningan. Aku suka aku yang dulu. Aku suka aku saat ada dia di sampingku. Bukan kematian, bukan maut, bukan pemakaman, bukan ditinggalkan, bukan kenangan. Aku suka aku yang tidak sendirian.

“Kamu masih punya kehidupan, jangan kaya mayat hidup. Find another guy. Kalau kamu terluka, segera cari obatnya…”

Tapi aku memang sudah mati. Jiwaku terkubur sepenuhnya dengan kanker yang bersarang di otaknya, bersama tubuh yang dulu kupeluk setiap larut malam. Kini aku memang sudah mati, seperti degup jantungnya yang tak akan pernah terdengar kembali. Seperti sendi-sendiku yang sejak malam itu membeku.

Advertisements

2 thoughts on “Terjerembab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s