Me And You And Picture of Our Future

Tahu gambaran sempurna tentang kita di masa depan versiku seperti apa?

Lagi-lagi kita bertemu dengan jalan di sepanjang Pantai Utara Jawa. Lewat jalan darat, satu-satunya jalan yang akan membawa kita ke kampung halamanku. Tidak ada bandara di sana, pun dengan stasiun. 10 hari masa cuti kantormu harus dihabiskan kali ini, katamu, sebelum tahun baru datang dan jatah liburmu hangus dibakar letupan kembang api.

Bus malam kita dinginnya selalu menggerayangi sampai ke dasar tulang. Jaket setebal jaket musim dingin melekat erat memeluk tubuhmu, kepalamu tanpa sadar bersender di bahuku. Napas halus terdengar samar, sedang nyala lampu sudah menemani perjalanan kita ke timur, sejak tadi. 12 jam kita akan berakhir di tempat di mana aku lahir dan tumbuh menjadi wanita yang sekarang kamu peluk di saat malam. Enam jam tersisa, dan aku, kamu, akan menyepi sementara dari target per tahun yang selalu kamu pikirkan dan sudah banyak mencurimu dariku.

Aku pernah bilang padamu, saat kita masih berteman, bahwa nanti, kamu lah yang akan membacakan dongeng untuk anak-anakku. Kamu yang akan mengajari mereka membaca, kamu juga yang akan menjadi tempat pelarian di saat aku kehilangan kesabaran atas semua kenakalan-kenakalannya. Dan aku selalu menghafal semua kalimatku di dalam kepala, nyaris setiap hari. Ketika aku senang, ketika aku menangis, ketika aku marah, ketika aku jauh darimu.

Rumah kita seperti perpustakaan pribadi. Sampai terkadang, aku terlalu malas untuk membersihkan debunya setiap hari. Kita punya banyak—terlalu banyak buku. Satu-satunya ruangan yang bersih dan terbebas dari rak buku hanyalah dapur. Aku menguasai area itu, ingat? Tempat di mana kita akan duduk bersama di meja di depannya, sambil memakan makanan berat di dini hari buta. Kamu selalu kelaparan, dan aku tak ingin membiarkanmu sendirian di meja itu.

Enam jam lagi kita sampai di sana. Bernostalgia sebentar, mencari memori yang nyaris hilang digerus usia. Lalu, kita akan pergi ke timur lagi. Lebih ke timur, ke tanah yang lebih tinggi, ke tempat di mana mimpi-mimpiku tumbuh.

Katamu, suatu hari nanti kita akan menetap di sana. Jauh dari pekat polusi di ibukota, jauh dari gersang yang mematikan dan menyiksa. Kita akan ‘turun derajat’ menjadi orang kampung yang sehari-harinya bersahabat dengan boots karet dan caping bambu.

Tahu gambaran kita di masa depanku—di mataku—seperti apa?

Banyak mimpi-mimpiku mengelilingi kita. Bunga-bunga. Merah, putih, kuning, ungu, merah muda, menancap di tanah, menggantung di pot-pot kecil. Petrichor setiap hari, semerbak surga setiap waktu, warna-warna kehidupan di setiap jangkah kaki. Pagi hari ditemani kopi hitam dan cemilan desa di atas piring sederhana. Menyapa siapapun yang melewati rumah berhalaman penuh bunga dan tanaman apotek hidup kita. Tanpa pagar pembatas, tanpa got mampet, tanpa kesal pada tetangga karena mobilnya menghalangi jalan kita. Kemudian aku akan mengambil peralatan perangku, berangkat ke kebun bunga dengan anak-anak kita mengekor seperti bermain ular naga. Kamu akan mngecek para pekerja, memastikan semuanya beres, mengurusi gaji mereka, mengontak distributor yang akan membawa bunga-bunga kita turun gunung.

Atau, kita akan menambahkan kebun buah-buahan di sisa tanah yang kita miliki. Apel, jeruk, buah naga kesukaan anak kita. Kita tak akan pernah kehabisan stok buah-buahan di rumah. Dan aku membayangkan kamu yang kecapekan, terduduk di bawah pohon apel yang daunnya jarang sambil menenggak air putihmu. Dan saat kamu merindukan ibukota, kita akan langsung terbang ke sana. Mencari keluarga, menelpon semua teman lama, menginjak lagi tempat kita pertama bertemu dulu. Kita akan menjadi orang kampung yang masuk ke kota dengan agak norak saat masuk mall besar, dengan kemacetan, dengan polusi.

Saat kita hendak pulang kembali ke timur, ke gunung, ke rumah kita, kamu akan memboyong buku-buku baru ke sana. Buku adalah satu-satunya barang yang kuizinkan ikut dibawa, meski jumlahnya sampai dua kardus. Karena aku tahu, buku adalah nyawamu, dan kamu adalah nyawaku.

Tahu gambaran sempurna tentang kita di masa depan—di mataku?

Ketika 12 jam perjalanan tidak berarti apa-apa. Ketika aku dan kamu menuju ke timur dengan kepastian mimpi yang sudah kita bangun berdua. Ketika kepalamu membuat bahuku kram, tetapi aku masih bisa tersenyum, bahkan tertawa.

Karena benih mimpiku berawal dari kamu. Dari nyawaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s