Tunggu di Situ, Aku Sedang Menujumu

Apa yang kamu katakan, itu lah yang seharusnya kamu pegang…

Belum sehari. Dia dengan tubuh lelah setelah menjaga anaknya dan mantan istrinya, memaksa masuk ke apartement. Dia bilang, kalau subuh aku masih belum bangun apalagi tidak bisa dihubungi, pasti ada yang tidak beres. Terlebih malam sebelumnya memang sudah ada sebab yang pasti berimbas pada hubungan kami.
Aku terus memandanginya selagi dia menerima panggilan telepon. Makan siang buatannya masih belum tersentuh. Aku bahkan masih merasakan pusing dan mual. Awalnya dia bicara dengan nada riang yang kupastikan dia sedang berbicara dengan anaknya. Iya, anaknya memang sudah lebih pintar dari anak-anak seumurannya. Dia sudah bisa memencet tombol-tombol di telepon rumah dan juga bisa menghafal nomor-nomor penting, termasuk nomor ponsel ayahnya.

”Papa masih di rumah Tante Cantik, sayang,” timpalnya dengan menyebutkan panggilan kesayangan anaknya padaku. Kemudian dia mengernyit. Air mukanya berubah menjadi suram.

”Kok ditutup? Memang Tanya udahan ngomongnya?” Aku mendorong piringku ke tengah meja. ”Kamu udah janji hari ini mau nemenin aku sampai sembuh, ‘kan?”

Dia bergeming di kursinya. Belum sehari.

”Kalau ini soal anak kamu, aku ngalah. Tapi kalau ini soal orang lain, aku nggak bisa terima.” Aku menegaskan kata ‘orang lain’ agar dia lebih mengerti maksud perkataanku.

Ponselnya terus berbunyi, tapi dia masih tidak bergerak sedikit pun dari kursinya.

”Tapi…”

”Belum sehari!”

”Iya, sayang. Tunggu sebentar ya, papa pamit dulu,” jawabnya cepat pada ponselnya. ”Aku harus pergi, maaf.”

”Whatever. Nggak usah balik lagi. Aku capek diangkat terus dijatuhin kaya gini tiap hari.” Aku segera beranjak. Bodohnya aku yang mau saja dibuai dengan kata-kata manisnya, karena pada akhirnya, memang, aku hanya menjadi nomor sekian untuknya.

”Aku sayang kamu…”

”Omong kosong!”

”Tunggu di situ, aku cuma pergi sebentar. Aku janji.” Dia memelukku. Terdengar suara tombol ponsel dipencet, bahkan masih dalam posisi seperti itu. ”Aku sedang menujumu.”

….

Tapi dia tidak pernah kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s