Jangan ke Mana-Mana, di Hatiku Saja

Seberapa lapang hatimu? Selapang kesabaranmu?

Bau bubur tertangkap hidungku. Dari ujung kepala sampai ujung kaki terasa lemas, kepalaku seperti melayang dan tidak dapat digerakkan. Perlahan aku mencoba membuka mata dan menemukan ruang kamarku terang oleh cahaya matahari. Menusuk mata sampai aku harus beberapa kali berusaha tetap terbuka namun hanya memejam pada akhirnya.

”Kamu udah bangun?” Suara itu menyentak kesadaranku. Aku harap aroma bubur dan dia hanyalah mimpi atau imajinasi yang diakibatkan oleh obat tidur semalam. ”Sarapan dulu, ya..”

”Kamu kok bisa masuk?” Terpaksa aku harus menerima kenyataan di depanku. Kaus lengan panjang berwarna merah yang digulung lengannya sampai siku, dipadukan dengan jeans hitam. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, tapi aku masih bisa mencium aroma parfum meski samar-samar.

”Berapa banyak obat tidur yang kamu minum semalem? Terpaksa aku minta pengurus apartemen buat buka pakai kunci mereka.”

”Hebat ya bisa bujuk buat pinjem kunci. Kamu perayu ulung. Aku baik-baik aja kok. Dan bukannya mantan istrimu masih lebih penting ya dari aku?” Dia menatapku tajam. Matanya berkantung dan sedikit menghitam. ”Aku nggak bisa tidur setelah nungguin kamu berjam-jam.”

”Maaf.”

Dia menggeser duduknya lebih dekat ke sisiku. Tangannya meletakkan mangkuk bubur, lalu menarik tubuhku yang masih lemas ke pelukannya. Entah berapa lama aku tertidur, dan aku baru ingat kalau akau mematikan ponsel. Jangankan kembaranku, laki-laki yang memelukku pun tidak akan bisa membangunkanku pukul tujuh kalau dia tidak memaksa masuk.

”Aku nggak bisa ninggalin dia semalem. Dia sakit nggak bisa bangun, dan Tanya nggak ada yang jagain. Maaf udah bikin kamu nunggu dan bikin kamu kaya gini.”

Airmataku masih bisa kutahan. Mungkin karena semalam sudah terlalu banyak keluar, dan kurasa sudah habis. Aku selalu mengingatkan kalau aku pasti akan menjadi nomor dua untuknya. Aku akan selalu mengalah, prioritas bukanlah teman baikku. Tapi aku sering lupa karena aku selalu menempatkannya di atas segalanya: teman, pekerjaan, bahkan keluarga. Aku ingin mendapatkan posisi yang sama, dan sesekali, aku ingin menjadi yang pertama.

”Tolong buang jauh-jauh obat-obatan bodoh yang kamu minum itu. Aku nggak bisa memaksa masuk ke sini tiap hari, aku nggak bisa tiap waktu jagain kamu.”

”Maaf,” bisikku di telinganya. Dia melepaskan pelukannya, mengusap pipi, lalu merapikan rambutku yang menjuntai ke depan. ”Aku nggak bisa tidur semalem.”

”Aku memang nggak bisa lebih mentingin kamu, tapi tetap lah disini, jangan ke mana-mana…, ” jari jemariku dikecupnya pelan, kemudian ditempelkannya di dada sebelah kanannya. ”Di sini saja, di hatiku. Berbagi hati dengan anakku, mau?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s