Bangunkan Aku Pukul Tujuh

”Bangunkan aku lima jam lagi.”

Begitu pesanku pada kembaranku yang ada di benua lain. Di sini sudah pukul dua dini hari. Mataku bengkak hasil menangis semalam suntuk. Dress shocking pink tergeletak di lantai beserta sepatu dan handbag yang kemarin malam kukenakan menunggu lamarannya…

… Lamaran yang tidak akan pernah datang.

Setidaknya, sempatkan datang ke hadapanku. Memelukku yang sudah sejak seminggu lalu meninggalkan Jakarta dan berdiam di Marseille. Tapi dia memilih orang lain. Keinginanku sudah tidak setinggi semalam. Dilamar bisa kapan-kapan, tapi kehadirannya sungguh tidak bisa lagi ditunda-tunda. Aku pulang dari Prancis lebih cepat dari rencana semata karena ingin segera bertemu dengannya. Bertemu anaknya. Aku ingin kami lebih dekat lagi.

Tapi aku bukan siapa-siapa dibandingkan dengan ibu dari anak perempuannya. Kalau mereka masih saling cinta, kenapa harus berpisah? Kenapa harus melukai hati lain yang sedang belajar berbagi laki-lakinya dengan anaknya?

”Lo belum tidur?” Jawab orang di seberang.

”Bangunkan aku pukul tujuh,” singkatku. Kemudian mematikan ponsel. Pikiranku sedang tidak bisa diajak kompromi. Seperti ada segumpalan benang wol menyangkut di dalam kepala. Ruwet. Kepalaku seberat buah semangka dan membuat tengkuk pegal bukan kepalang. Kuobrak-abrik laci nakas di samping kanan tempat tidur dan menemukan apa yang kubutuhkan.

Empat butir obat tidur harusnya cukup untuk malam ini.

Advertisements

One thought on “Bangunkan Aku Pukul Tujuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s