Untuk Kamu, Apa sih yang Nggak Boleh?

Jika saja mengembalikan sesuatu bisa semudah itu…

… Maka sepatuku yang masih ‘sehat’ tidak akan menganga seperti mulut buaya. Percuma berlatih lari cepat setiap sore di lapangan kalau hasil yang didapat cuma sebuah kegagalan, tanpa mendapat nomor satu pun. Runner up masih lebih bagus daripada pulang dengan tangan kosong seperti ini.

”Bu, aku nggak menangin lomba larinya,” aduku lesu ke ibu sesampainya di rumah. Ibu masih berkutik dengan bahan pakaian dan kapur untuk menggambar pola. Tahun ajaran baru selalu menjadi ladang rezeki kami. Anak-anak sekolah sudah mulai menjahitkan bahan sampai mengecilkan baju yang kebesaran. Dalam sehari, ibu bisa menyelesaikan tiga sampai lima seragam jika darah rendah ibu tidak kumat.

”Yahh, ya sudah, nanti ikut lomba lagi. Nggak apa-apa.”

”Gara-gara sepatuku, Bu. Aku kesandung, terus sol yang udah dilem lepas. Kesel!” Aku melempar sepatu hitamku ke pojokan rumah sampai membentur tembok. Ibu hanya melihat dari jauh, dari balik kacamata plus-nya. ”Kalau sepatuku sama kaya sepatu peserta lain, aku pasti udah menang. Aku pasti bawa pulang piala buat ibu.”

”Ya mau gimana lagi? Ibu nggak punya uang, jahitan yang belum jadi ya belum dibayar. Nanti kalau ini udah selesai, baru ibu bisa beliin kamu sepatu baru.”

Aku berdecak sambil beranjak dari kursi kayu yang tiap diduduki pasti berderit. Ibu memanggil dan mengingatkan untuk makan siang berulang-ulang, namun nafsu makanku sudah hilang sejak rasa malu menguasai seusai kekalahanku. Aku yang harusnya bisa mengharumkan nama sekolah malah hanya menyumbang kekecewaan. Pun dengan ibu, harusnya aku bisa membuatnya bangga barang sesekali.

Aku terbangun pukul delapan malam setelah tertidur sejak siang. Suara mesin jahit terdengar dari kamar sampai dapur. Nasi di bakul masih utuh, lauk di bawah tudung saji pun tak berkurang sesendok pun. Kuintip ibu dari pintu yang hanya ditutup dengan kelambu tipis. Sudah empat kantung plastik hitam tertumpuk di meja, artinya ibu sudah menyelesaikan empat pasang seragam. Kakinya masih menggoyang-goyangkan bagian bawah mesin jahit, tangannya terlihat terampil memindah-mindahkan bahan dari sisi depan jarum ke belakang.

”Ibu belum makan?” Tanyaku akhirnya. Rasa kesal siang tadi sepertinya terkuras habis setelah melihat ibu susah payah memasukan benang baru ke lubang jarum.

”Belum. Satu lagi.”

”Kan bisa besok, Bu. Ini udah malem.”

”Besok pagi kamu mau berangkat sekolah pakai sepatu rusak itu memang?”

Aku diam. Seteguk air yang baru saja kuminum seperti berhenti mendadak tepat di leher.

”Mumpung toko sepatu masih buka. Atau nggak gini, kamu anter yang udah jadi, terus uangnya kamu bawa ke toko. Terserah kamu mau beli yang mana, yang penting awet.” Ibu tidak menengok, dia hanya menghentikan gerak lincah tangannya, lalu mengucek-ucek mata.

”Iya, Bu.”

Kemudian sepi.
Sejak kepulanganku dari toko sepatu, ibu tidak pernah lagi bisa menyelesaikan seragam kelimanya.

”Ibu sudah bilang, beli sepatu yang awet. Mahal nggak apa-apa, apa aja yang kamu mau, boleh kok,” kata Ibu sambil mengusap bagian sepatuku yang sudah rusak lagi. ”Kalau begini, ibu jadi tambah nyesel. Ibu nggak tau bagian mana yang rusak…, dan ibu nggak bisa beliin yang baru lagi.”

Mata ibu sudah positif katarak. Jangankan memasukan benang ke lubang jarum, berjalan di tempat terang saja ibu mengandalkan tongkat kayu.

”Tapi yang paling ibu sesalkan adalah…, bukan kamu yang ibu liat untuk terakhir kali, melainkan sepatu rusak.”

Aku diam-diam menyeka airmata sambil membungkam mulut agar isak tangis tidak terdengar. Andai mengembalikan waktu bisa semudah mengukur bahan, andai saja berbagai hal bisa ditarik kembali…

”Ibu sudah mengecewakanmu…, maaf.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s