Cintaku Mentok Di Kamu

Pukul 13.15 Waktu Marseille. Kantung-kantung belanjaan milik kembaranku sudah bisa digunakan untuk memukul copet sampai koma saking banyaknya. Dengan alasan membawaku jalan-jalan, dia malah memanfaatkan kesempatan ini untuk menghabiskan uang jajan yang sudah diirit-irit selama sebulan. Rue Canebiere penuh dengan manusia-manusia yang keluar masuk pertokoan. Kafe-kafe tak kalah penuh dengan piring berisi makanan porsi besar—menurutku—dan telinga dipenuhi percakapan dengan dialek ‘Provencal’ yang merupakan gabungan antara dialek bahasa Spanyol, Italia dan Prancis. Provencal sendiri adalah bahasa yang terbentuk karena banyaknya pedagang asing yang datang ke Marseille. Marseille adalah kota Pelabuhan, jadi tak heran jika banyak ditemukan warga bukan asli dari Prancis.

Rue Canebiere bisa dibilang pasar. Namun di sinilah surga para pemburu barang branded dengan harga lebih murah dibandingkan dengan harga-harga di Paris yang notabene adalah kota mode. Penataan gedung yang rapi dan kebersihannya yang membuatku betah berlama-lama duduk di kafe dengan segelas kopi, sambil menunggu mood kembaranku membaik dan bersedia menyetir mobil ke Katedral Notre Dame De La Garde. Setiap berkunjung, aku selalu memaksa Kinara membawaku ke sana. Mungkin pose dengan background patung emas bunda maria milikku sudah jauh lebih banyak dibandingan dengan pose orang-orang dengan background Menara Eiffel.

“Lo masih bawa-bawa agenda ini kalau ke mana-mana?” Tanyanya dengan kacamata Guess barunya yang melindungi mata. Agenda lama yang sudah kucel dengan cover berwarna oranye itu memang sudah seperti notes, meski ukurannya dua kali lebih besar dan tiga kali lebih tebal.

“Masih. Takut pas ada ide nggak ada yang buat nulis. Gue nggak bisa ngandelin gadget yang sewaktu-waktu bisa abis batere. Kalau agenda lebih enak buat dibaca dan bisa dibolak-balik.”

“Let me write something…, tulisan lo tetep masih bagus ya dari gue,” kelakarnya lalu mulai mencoret-coret kertasnya di atas meja.

‘Dearest my honey bunny sweety… Papanya Tanya,’ namanya siapa lah nggak tau. Nanti lo isi sendiri.”

“Nggak usah nulis macem-macem.”

‘Kamu tau? Aku nggak bisa sedetik pun nggak inget kamu. Mau tidur, inget kamu. Mau makan, inget kamu. sampai-sampai, mau buang air besar pun aku inget kamu. Kamu maunya apa sih sampai pengen ikut ke kamar mandi juga?‘… gue keren ya, bentar lagi jadi penulis deh ini.”

“Terserah apa kata lo dah.”

“‘Rinduku seperti tak pernah habis. Kampu pasti tau berapa stok rindu yang menggelayuti langkahku setiap hari. Jika Juliet bisa bunuh diri karena Romeo mati, aku bisa menikah dengan orang Mersielle jika kamu mematikan perasaanmu terhadapku. Aku tak pernah bisa jauh darimu meski aku sendiri yang sengaja membuat jarak di antara kita. Aku rindu senyummu, bahkan skype tak mampu menahan hasrat untuk pulang ke Jakarta. Tunggulah aku my honey bunny sweety and hot papi, aku pasti kembali. Karena kamu tau? Karena cintaku mentok di kamu…’

“Najiiissss…, sekalian tambahin ‘pacarku tukan bakso’ biar lebih FTV!” Aku semakin menahan tawaku sebelum kami diusir karena membuat keributan. Dia memang selalu gila. Apapun yang dilakukannya selalu membuatku takjub dan iri. Jeda satu menit saat kami lahir sepertinya membuat otaknya tumbuh lebih besar dibandingkan otakku.

‘Salam hangat… Karina Harumi. From Marseille with love, cup cup muach…‘ Nah, ini tinggal dikirim ke Jakarta,” dia tertawa lebar dan puas. Terserah apa katanya, yang pasti, aku masih lebih waras dari dia.

Prépare toi Notre Dame De La Garde, nous voici !*

_

 

*) Bersiaplah Notre Dame De La Garde, kami datang!

Advertisements

2 thoughts on “Cintaku Mentok Di Kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s