Bales Kangenku, Dong!

Sisa hari pertamaku di Marseille kuhabiskan dengan duduk di jendela kamar Kinara, kembaranku. Jendela segitiga mengikuti bentuk atap rumah, langsung menghadap ke halaman depan, dibuat multifungsi dengan membentuk dasarnya menjadi tempat duduk berlapis busa. Masih dini hari. Mungkin sebentar lagi subuh.
Kinar meringkuk di tempat tidur dengan tanpa menyikat gigi setelah menyantap sebuah baguette isi, tadi malam. Dia langsung menjatuhkan diri ke kasur setelah aku menerima telpon dari Indonesia. Telpon yang mengacaukan rencana liburanku di sini.

Langit masih gelap. Lampu-lampu penerangan jalan pun masih sangat terang. Suara-suara burung berkicau satu-dua. Pagi di Prancis tak pernah terasa segetir ini sebelumnya. Tanya, anak dari kekasihku tiba-tiba menelpon dan mengajak berbincang seolah kami sudah saling kenal. Bukan, mungkin aku saja yang belum mengenalnya. Dia, iya, mungkin sudah tahu banyak tentang aku dari ayahnya. Pikiranku melayang-layang memikirkan wujudnya. Perempuan, mungkin baru tiga tahun dan pasti sangat pintar seperti ayahnya. Rasa penasarannya pasti tinggi hingga dia ‘mencuri’ nomor ponselku dan dengan mudah menggunakan telpon rumahnya saat ayahnya tertidur. Dia pasti cantik.

Langit mulai ada semburat cahaya terang. Entah sudah berapa lama aku termenung seperti orang bodoh di pinggir jendela ini. Keinginan untuk beranjak langsung menguat ketika terdengar denting keributan di bawah. Segera kususul seseorang yang selama 25 tahun hidupku bangun pagi pertama kali, setiap hari.

”Pagi, Ma…,” kepalaku melongok dari balik tembok tempat tangga berada. Mama masih mengenakan jubah tidur warna merah marunnya. Tangan kanannya terampil membalik-balik sesuatu di penggorengan dengan spatula bergagang hitam,sedang tangan kirinya sibuk memasukan bahan satu persatu.

”Pagi, Rin. Kok udah bangun? Adikmu aja masih tidur pasti.”

Aku mendekat agar bisa memeluknya sebentar. Sejak kedatanganku kemarin, aku hanya bertemu pama dan mama selama beberapa menit. Aku langsung naik ke kamar, tertidur sampai tengah malam saat mereka sudah terlelap. Mungkin sudah delapan bulan kami tidak bertemu dihitung sejak terakhir kali aku berkunjung.

”Ini nasi goreng buat kamu. Dibuatin khusus biar perut Indonesia-mu itu nggak dimasukin mie instant kaya semalem.”

Nada bicaranya masih setenang dulu saat aku masih sekolah dasar. Rambutnya hitam legam seperti rambutku dan kembaranku, diselingi sedikit helaian putih di beberapa bagian. Wajahnya lembut khas seorang ibu yang menurun ke kembaranku. Mungkin itu sebab kenapa dia terlihat lebih cantik meski kami kembar identik; wajahnya hangat, tidak seperti rautku yang lebih tegas seperti papa.

”Semalem siapa anak kecil yang ngobrol sama kamu? Kok nggak cerita-cerita sih sama mama?”

”Itu…anaknya pacar aku, Ma,” Jawabku ragu. Selama ini aku hanya bercerita dengan kembaranku. ”Nggak apa-apa kan, Ma, kalau aku pacaran sama duda? Dia baik kok.”

”Nggak apa-apa, hidup kamu, pilihan kamu. Tapi bukan berarti nggak cerita ke mama lho, meski itu pilihan kamu.” Mama membagi nasi goreng menjadi empat piring. Untung lah, aku pikir nasi sebanyak itu hanya untukku seorang.

”Merasa ada yang kurang?” Tanyanya. Aku mengerutkan kening. ”Seseorang sedang menunggu anak perempuan tercintanya di balik selimut. Dia rindu dibangunkan.”

Aku lupa kebiasaan manja papa kalau aku di sini. Segera aku berlari menyeberangi ruang tengah menuju kamar mama yang lampu meja-nya masih menyala.

”Pagi, Pa. Bangun yuk, atau nasi gorengnya aku yang abisin.” Kukecup pipinya pelan. Papa tersenyum meski matanya masih tertutup. Sebelum Papa sadar sepenuhnya, aku berlari lagi ke luar, menyeberangi ruang tengah, kemudian menaiki tangga. Ada yang harus kubangunkan juga.

”Marseille sudah pagi. Tanya jangan dimarahi gara-gara telpon aku diam-diam. Semaleman aku nggak bisa berhenti mikirin dia. Mudah-mudahan aku bisa ketemu Tanya saat pulang nanti. Jet’adore*.”

Aku mengakhiri berbicara pada mesin penjawab dibarengi suara tertawa nyaring kembaranku yang sejak tadi menguping. Sial!

*) i love you.

(Je suis désolé for this acak-adut French language)
(yang penting keren)
*ditimpuk*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s