Sambungan Hati Jarak Jauh

”Tante lagi di mana?”

Pukul 23.25 waktu Marseille.
Semerbak wangi keju menguar memenuhi dapur. Jam Indonesia pasti sudah menunjukan waktu untuk makan. Ada beberapa baguette di meja dapur. Dapur berbentuk persegi panjang ini tertata rapi. Didominasi dengan bahan kayu dan dilengkapi mini bar dengan gelas-gelas menggantung di atasnya. Bumbu-bumbu diletakkan pada satu rak khusus, kulkas berisi banyak susu—pasti perbuatan mama—keju, beberapa tempat makan persegi dan bulat berbagai ukuran yang ditutup rapat dengan alumunium voil.
Hari pertama di Prancis biasanya hanya bisa dilewati dengan makan mie instan. Perutku masih ingin makan nasi padang atau rawon, di mana kenyataan menyuguhkan roti sebesar pemukul baseball dan keju sebulatan kue tart.

”Rin, handphone lo bunyi dari tadi. Diangkat dulu sebentar deh, takutnya penting,” kembaranku masuk dengan wajah kucel dan piyama yang sudah lecek. Ponselku tampak berkelap-kelip di tangannya. Nomor tidak dikenal, tapi pasti dari indonesia.

”Halo,” sapaku hati-hati. Bisa saja itu adalah telepon dari klien yang tidak tahu keberadaanku. ”Halo?”

Tidak ada jawaban. Di sana sepi, hanya suara tombol yang sengaja ditekan berulang-ulang hingga menimbulkan suara berisik. ”Halo?” Ulangku. Tapi tetap saja tidak ada yang menjawab.

”Udah tutup aja, kepencet kali.”

”Masa kepencet berkali-kali.” Keherananku bertambah begitu nomor itu muncul lagi. Sembari menyeruput kuah mie instan di mangkuk, aku hanya memelototi nomor-nomor berawalan 62 itu. Kembaranku bertahan di kursi seberang sambil mengunyah baguette yang dia isi dengan daging ham dan sayuran.

”Halo!”

”Tante…, tante di mana?”

Mataku benar-benar melotot sekarang. Segera kutekan tombol ‘speaker phone’ agar kembaranku ikut mendengarkan suara anak-anak yang ada di seberang.

”Tante, tante lagi di mana?”

”Ini siapa?” Tanyaku gugup.

”Aku Tanya. Papa-nya ketiduran di depan TV. Tante di mana? Papa bilang tante pergi lagi. Kapan tante pulang? Tanya pengin ketemu tante.”

Aku makin melongo. Orang di depanku sibuk bertanya ‘Siapa?’ tanpa suara dan mulut penuh sandwich.

”Halo Tanya. Tante belum bisa pulang,” jawabku canggung. Bingung hendak bagaimana menghadapi anak kecil yang mungkin salah sambung. ”Telponnya ditutup aja ya, nanti papa kamu marah.”

”Tante…, aku punya oleh-oleh bando telinga mickey mouse.”

Dadaku berdegup cepat. Tiba-tiba saja banyak pertanyaan dan dugaan yang muncul. ”Oh ya?”

”Tanya lagi telpon siapa?”

Kemudian suara itu terdengar. Samar, namun jelas sekali di telingaku menguatkan perkiraan di kepala.

”Telpon Tante cantik, Pa. Itu lho yang fotonya papa kasih liat pas kita nonton mickey mouse. Nomornya bener yang ini kan?”

Ada suara gemersik khas suara gerak telpon berkabel.

”Halo, Karina?” Dia menyapa pelan dan menggantung. Kelebatan amarah luruh seketika. ”Maaf, tadi Tanya iseng mencetin nomor kamu.” Ada jeda lagi. Kecanggungan karena aksi saling diam sebelum aku berangkat membuat kami kikuk satu sama lain.

”Ya udah. Have fun there, sekali lagi maaf Tanya udah ganggu tidur kamu.”

Sambungan jarak jauh kami terputus sebelum aku mengucapkan sepatah kata pun padanya. Entah dengan sambungan hati yang kini berjarak Jakarta-Prancis.

Advertisements

2 thoughts on “Sambungan Hati Jarak Jauh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s