Cuti Patah Hati

Terbangun di Marseille.

Langit-langit rendah, tembok putih bersih. Rak-rak buku yang tertata rapi diisi buku-buku tebal. Kamar kembaranku masih sama sejak beberapa tahun lalu, tetap tidak mau pindah dari loteng. Dia memiliki otak yang lebih kreatif dan lebih artistik. Tak heran jika loteng rumah mama diubah menjadi kamar yang sangat nyaman.

”Rin, ditunggu mama sama papa di bawah. Makan malem, yuk.”

Dia adalah aku versi lebih putihnya. Rambutnya di cat cokelat tua, terlihat berkilauan diterpa sinar lampu dari luar. Kami kembar identik, namun aku selalu merasa kalau dia mendapat bagian terbaik paling banyak. Lebih pintar, lebih cantik, lebih punya keberanian untuk mengejar apa yang dia mau. Juara kelas, pembangkang tapi tetap tidak bisa jauh dari orang tua. Dan kami pun terpisah sejak tiga tahun lalu; aku tetep di Indonesia menekuni pekerjaan yang kusukai, dia ikut pindah ke Prancis melanjutkan sekolah sekaligus menjaga mama dan papa.

”Ntar lah. Perut gue masih pakai zona waktu Indonesia,” jawabku, masih meringkuk di dalam selimut. Di tersenyum memerlihatkan kawat giginya. Pantas dia semakin kurus, kawat gigi itu pasti penyebabnya. Sudah lah malas makan, ditambah kawat yang mempersulit mengunyah.

”Masih pengin bengong.”

”Bengong? Klasik, masalah cowok kan? Ngabur jauh-jauh ke Prancis cuma gara-gara cowok. Masih mending ya, lo ke sini gara-gara kangen sama mama,” cerocosnya. Dia memaksakan tidur di sebelahku. ”Kenapa lagi dia? Selingkuh? Mutusin sepihak? Nyuekin lo dan sibuk sama Blackberry-nya?”

”Bukan. Dia duda.”

Dia tersentak, lalu menoleh ke arahku dengan wajah kaget dan keheranan. Been there.

”Gue patah hati. Makanya gue kabur ke sini, cuti kerja, cuti ketemu dia, cuti patah hati sementara.”

”Sementara? Maksudnya? Lo memang nggak tau kalau dia duda? Gila aja kalau lo nggak tau, setahun lebih lho.”

Aku sudah lelah memikirkan ini. Sudah setahun dan aku baru tahu kalau dia duda. Aku bahkan tidak sadar apa maksud dua tiket Disney on Ice di tasnya. Aku kurang peka pada detail-detail kecil yang harusnya bisa membawaku ke sana, ke sesuatu yang harusnya aku tahu sejak lama. Aku tidak akan mempermasalahkan statusnya, pun dengan anak yang belum sekalipun aku temui. Mungkin dia anak yang lucu, atau tampan seperti ayahnya, dengan kulit putih bersih, rambut hitam legam, dan mata cokelat muda.
Mungkin aku hanya belum sembuh dari keterkejutanku, mungkin juga aku masih terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri.

”Terus gimana? Masih diterusin? Apa di-cut aja?” Tanyanya. Sepertinya dia sudah gerah dengan semua aduanku, menilik wajah malas yang diperlihatkannya tentu.

”Gue cinta sama dia…”

Dan mungkin, aku bisa menjadi orang ketiga yang bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s